australia siapkan 420 juta dolar australia untuk kerja sama ekonomi indonesia lewat prosepera fase ii - News | Good News From Indonesia 2026

Australia Siapkan 420 Juta Dolar Australia untuk Kerja Sama Ekonomi Indonesia lewat Prosepera Fase II

Australia Siapkan 420 Juta Dolar Australia untuk Kerja Sama Ekonomi Indonesia lewat Prosepera Fase II
images info

Australia Siapkan 420 Juta Dolar Australia untuk Kerja Sama Ekonomi Indonesia lewat Prosepera Fase II ︱Foto: Rizkia Putri Fahira


Pemerintah Australia berkomitmen mengalokasikan 420 juta dolar Australia atau setara dengan Rp5,28 triliun untuk mendukung pembangunan ekonomi Indonesia melalui program Australia-Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera) fase kedua selama satu dekade ke depan.

Program ini akan berfokus pada reformasi kebijakan ekonomi, peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan kapasitas institusi.

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dalam peluncuran Prospera Fase II bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Wong mengatakan program tersebut kelanjutan kerja sama pembangunan ekonomi Indonesia-Australia yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Program ini diarahkan untuk mendukung reformasi ekonomi, peningkatan produktivitas, investasi, keterampilan tenaga kerja, dan perluasan partisipasi ekonomi.

Tiga Prioritas Prospera Fase II

Menteri Keuangan Suahasil menyampaikan tiga bidang utama yang diharapkan mendapatkan dukungan melalui Prosera Fase II, yakni penguatan stabilitas makroekonomi dan pengelolaan fiskal, peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan institusi.

baca juga

“Pertama, saya berharap Prospera dapat memperdalam kerja sama dalam kebijakan dan stabilitas makroekonomi, pengelolaan fiskal, serta pengembangan sektor keuangan. Kedua, kerja sama kita harus membantu menerjemahkan reformasi menjadi investasi yang lebih besar dan penciptaan lapangan kerja. Ketiga, saya berharap Prospera Fase II berinvestasi pada sumber daya manusia dan institusi yang menjalankan reformasi tersebut,” ujarnya.

Ia juga melihat peluang kerja sama baru dalam pemerintahan digital, digitalisasi ekonomi, tata kelola data, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab.

Suahasil turut menyoroti hubungan antarmasyarakat sebagai bagian penting dari kemitraan kedua negara. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Australia tidak hanya dibangun melalui instritusi pemerintah, tetapi juga melibatkan akademisi, ekonom, pelaku usaha, dan masyarakat.

Perdagangan Bilateral dan Ambisi Ekonomi 20245

Wong mengatakan ambisi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 membutuhkan peningkatan produktivitas, investasi, keterampilan, dan partisipasi ekonomi yang lebih luas.

baca juga

“Ambisi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 membutuhkan banyak hal. Produktivitas yang lebih tinggi, investasi yang lebih dalam, keterampilan yang lebih kuat, serta partisipasi ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Wong juga menyebut nilai perdagangan bilateral Indonesia-Australia dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 33 miliar dolar Australia, dengan pertumbuhan investasi sebesar 8,4 persen.

Meski demikian, angka perdagangan dan investasi tersebut merupakan gambaran hubungan ekonomi bilateral dan tidak dengan sendirinya menunjukkan kontribusi langsung Prospera terhadap pertumbuhan kedua indikator tersebut.

Target OECD dan Tantangan Lapangan Kerja

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti dukungan Prospera terhadap proses aksesi Indonesia menuju keanggotaan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Ia mengibaratkan proses tersebut sebagai maraton, bukan lari cepat.

baca juga

“OECD adalah maraton, bukan lari cepat. Dalam proses panjang ini, Prospera telah membantu Indonesia melalui berbagai diskusi, pekerjaan, dan program,” ujarnya.

Airlangga juga menyoroti perlunya kerja sama dalam menghadapi perubahan geopolitik global yang dapat memengaruhi harga pangan dan energi, serta perkembangan AI yang berpotensi memengaruhi lapangan kerja di sektor manufaktur dan hilirisasi. 

Menurut Airlangga, keberhasilan Prospera Fase II tidak cukup dinilai berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan. 

“Keberhasilan Prospera Fase II tidak hanya diukur dari kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari perbaikan jangka panjang yang dihasilkan bagi institusi ekonomi Indonesia dan manfaatnya bagi masyarakat kedua negara,” ujarnya. 

baca juga

Dengan pendanaan A$420 juta untuk satu dekade ke depan, pelaksanaan Prospera Fase II akan menjadi bagian dari kelanjutan kemitraan ekonomi Indonesia-Australia. Realisasi pendanaan, capaian program, dan evaluasi hasil diperlukan untuk menilai sejauh mana kerja sama tersebut berkontribusi terhadap investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan institusi ekonomi Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.