isf 2026 indonesia dorong investasi dan teknologi untuk percepat transisi rendah karbon - News | Good News From Indonesia 2026

ISF 2026: Indonesia Dorong Investasi dan Teknologi untuk Percepat Transisi Rendah Karbon

ISF 2026: Indonesia Dorong Investasi dan Teknologi untuk Percepat Transisi Rendah Karbon
images info

ISF 2026


Indonesia International Sustainability Forum (ISF) memasuki tahun keempatnya. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, lembaga keuangan, organisasi internasional, dan para ahli untuk membahas tantangan pembangunan berkelanjutan.

Mengusung tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World”, ISF 2026 membahas bagaimana investasi, teknologi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor dapat mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat transisi rendah karbon.

Keberlanjutan Jadi Bagian dari Strategi Ekonomi

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan agenda keberlanjutan kini memiliki kaitan langsung dengan industri, investasi, dan daya saing Indonesia.

“ISF telah berkembang lebih dari sekadar konferensi, menjadi platform dialog dan kemitraan. Di mana ide menjadi project, serta ambisi menjadi investasi. Untuk Indonesia, keberlanjutan bukan hanya agenda iklim, tapi agenda nasional, industri dan investasi,” ujar Rosan.

baca juga

Menurutnya, perkembangan dinamika global membuat keberlanjutan semakin berkaitan dengan daya saing. Karena itu, agenda tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, investasi, dan proyek yang dapat memberikan dampak nyata.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan dunia usaha juga memiliki peran dalam mendorong aksi iklim dan pertumbuhan berkelanjutan.

“Pertama, kita perlu terus mempercepat transisi energi untuk memperkuat ketahanan energi. Kedua, kita perlu mengembangkan pasar karbon yang berintegritas tinggi. Ketiga, mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia dalam upaya mereka menuju net zero,” kata Anindya.

Ia menambahkan, dua prioritas lainnya adalah mendorong ekonomi sirkular dan inisiatif waste-to-energy serta pengelolaan kehutanan yang berkelanjutan.

baca juga

Bahas Energi hingga Ketahanan Kota

Pada hari pertama, ISF 2026 mengangkat tema “Powering Low-Carbon Growth” yang membahas energi, industri, dan sektor strategis dalam mendukung pertumbuhan rendah karbon. Sementara hari kedua mengusung tema “Enabling a Resilient & Liveable Future” dengan pembahasan ketahanan pangan dan alam, air, kota dan mobilitas, pembiayaan, inovasi, serta talenta.

Selain sesi pleno, ISF 2026 menghadirkan 22 sesi tematik dengan pembicara dari Indonesia dan berbagai negara. Sejumlah tokoh yang menjadi pembicara utama antara lain Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo, serta Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Dari tingkat internasional, forum ini menghadirkan Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air Retno Marsudirini, Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Marie Elka Pangestu, serta Executive Secretary UNESCAP Armida Salsiah Alisjahbana.

Dorong Investasi dan Kolaborasi

Rachmat Kaimuddin mengatakan momentum agenda keberlanjutan perlu tetap dijaga di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Menurutnya, pengalaman berbagai negara dan industri dapat menjadi pembelajaran untuk menghubungkan agenda keberlanjutan dengan ketahanan ekonomi.

baca juga

“Dalam tekanan volatilitas geopolitik dan ekonomi, momentum agenda keberlanjutan perlu terus dijaga dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Rachmat.

Ia menilai ISF 2026 juga dapat membuka peluang kemitraan, investasi, dan transfer teknologi agar gagasan mengenai keberlanjutan dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan KADIN Indonesia Shinta W. Kamdani mengatakan dunia usaha perlu melihat transisi berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing industri.

“Bagi dunia usaha, transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan bukan hanya mengenai memenuhi target lingkungan, tetapi juga membangun industri yang lebih kompetitif, resilien, dan siap menghadapi perubahan global,” ujar Shinta.

baca juga

Melalui ISF 2026, pembahasan keberlanjutan diarahkan untuk mempertemukan kebijakan, modal, teknologi, dan kemitraan sehingga dapat menghasilkan solusi yang dapat diterapkan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.