Peta Bahodopi di kantor kecamatan setempat tampaknya belum diperbarui sejak tahun 2009 lalu. Di lembaran kanvas yang kusam itu, Bahodopi masih digambarkan sebagai hamparan ilalang dan pepohonan dengan garis jalan putus-putus.
Namun, jika menengok ke luar jendela kantor hari ini, pemandangannya sudah jauh dari apa yang digambarkan di peta lama itu. Deretan pabrik peleburan berdiri megah. Gemuruh mesin seakan tak pernah berhenti, lengkap dengan pemandangan truk pengangkut material di atas jalan beraspal mulus.
Sudah 13 tahun pasca-berdirinya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kawasan yang dulunya lahan kosong nan sepi, kini berubah menjadi kawasan industri yang ikut mendukung kebijakan hilirasi nikel nasional.
PT IMIP mengubah Bahodopi yang dulunya kecil menjadi pusat pengolahan mineral yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Hilirisasi di Bahodopi menjadi upaya agar Indonesia tak lagi sekadar mengekspor bijih mentah.
Ada Apa di Bahodopi?
Selama 13 tahun, IMIP membangun hilirisasi mineral di Bahodopi. Menariknya, bukan hanya industri nikel yang berjalan, denyut ekonomi bagi para pelaku usaha lokal juga ikut bergerak. Ada tiga klaster industri utama di Bahodopi.
Klaster pertama fokus mengolah bijih nikel menjadi Nickel Pig Iron (NPI) hingga produk akhir stainless steel seperti slab, HRC, dan CRC. Klaster ini menjadi salah satu basis produksi nikel dan baja nirkarat terbesar dalam satu kawasan.
Selanjutnya, klaster carbon steel memproduksi baja karbon untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi dan perkakas nasional maupun global. Sementara itu, klaster ketiga mengolah bahan baku pendukung ekosistem kendaraan listrik, termasuk elemen katoda dan anoda untuk baterai litium-ion.
Pengoperasian ketiga klaster utama itu disokong oleh industri penunjang seperti PLTU, PLTS, hingga pabrik bahan kimia. Pengoperasian fasilitas pelabuhan dan bandara khusus melengkapi ekosistem terpadu yang menghidupkan perekonomian sekitar.
Penyerapan Tenaga Kerja
Kehadiran kawasan industri ini mengubah lanskap Bahodopi. Tak hanya itu, pertumbuhan tenaga kerja juga naik. Data HR Department PT IMIP mencatatkan jumlah pekerja yang terus melonjak signifikan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2020 jumlah tenaga kerja tercatat sebanyak 35.592 orang. Jumlah ini naik menjadi 51.542 orang pada 2021 dan 68.466 orang pada 2022. Kenaikan berlanjut menjadi 74.350 pekerja pada 2023, sekitar 83.000 orang pada 2024, serta 86.804 orang pada 2025.
Hingga September 2026, jumlah karyawan di kawasan ini bahkan telah menembus angka 100.310 orang, dengan rincian 91.904 karyawan laki-laki dan 8.406 karyawan perempuan.
Seiring bertambahnya populasi pekerja, arus perputaran uang di Bahodopi pun melonjak sangat tinggi. Pada tahun 2025 dengan 86.804 pekerja saja, estimasi perputaran uang diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau setara Rp5,9 triliun per tahun.
"Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang" ungkap Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, dalam rilis pers yang diterima GNFI.
Nominal perputaran uang yang fantastis tersebut menciptakan kebutuhan harian warga yang tak bisa dipenuhi oleh kawasan industri sendirian. Kondisi ini memicu menjamurnya berbagai sektor usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitarnya.
Dedy mengimbuhkan, terdapat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591). Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.
Pertumbuhan pesat unit usaha warga tersebut membuktikan betapa besar dampak industri terhadap perekonomian lokal. Tren positif ini menjadi modal penting bagi para pelaku usaha mikro untuk terus berkembang dan naik kelas.
Sulawesi Tengah yang Naik Kelas
Geliat ekonomi Bahodopi membawa Provinsi Sulawesi Tengah naik. Laporan keuangan Provinsi Sulawesi Tengah edisi Februari 2026 mencatatkan lonjakan pertumbuhan ekonomi daerah yang sangat positif.
Pada triwulan IV 2025, ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh sebesar 9,43% (year-on-year), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 7,79% (yoy).
βKinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah,β tulis Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporannya.
Sejak awal berdiri, IMIP menyadari bahwa membangun ekosistem nikel terintegrasi tidak akan lengkap tanpa inklusi sosial-ekonomi. Oleh karena itu, kawasan industri ini mendedikasikan diri menjadi mitra strategis bagi para pelaku usaha lokal di sekitarnya.
Pintu kemitraan dibuka lebar bagi kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, hingga ratusan pelaku UMKM kuliner dan hunian. Sinergi inilah yang menjadi penopang kehidupan puluhan ribu pekerja sekaligus menegaskan keberlanjutan cerita hilirisasi 13 tahun di Bahodopi.


