brem madiun camilan tradisional yang dibuat melalui proses fermentasi - News | Good News From Indonesia 2026

Brem Madiun, Camilan Tradisional yang Dibuat melalui Proses Fermentasi

Brem Madiun, Camilan Tradisional yang Dibuat melalui Proses Fermentasi
images info

Brem Madiun, Camilan Tradisional yang Dibuat Melalui Proses Fermentasi | Wikimedia Commons | Danangtrihartanto


Kawan GNFI, pernah mencicipi camilan padat berwarna putih kekuningan yang perlahan mencair ketika dimakan? Camilan tersebut adalah brem, salah satu kuliner khas Madiun, Jawa Timur, yang dikenal dengan perpaduan rasa manis dan sedikit asam.

Brem kerap dibawa pulang sebagai oleh-oleh ketika berkunjung ke Madiun. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, ada proses pengolahan yang membutuhkan waktu hingga sekitar satu minggu. Camilan ini juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi brem. 

Yuk, simak pembahasan selengkapnya untuk mengenal Brem lebih lanjut!

Asal-Usul Brem Madiun

Brem merupakan salah satu kuliner tradisional yang lekat dengan Kabupaten Madiun. Menurut Indonesia Kaya, brem dikenal berasal dari Desa Kaliabu dan Desa Bancong di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Nama brem diyakini berkaitan dengan kata peram, yang merujuk pada proses mendiamkan bahan selama beberapa hari untuk fermentasi. Kata peram jika dilafalkan terdengar seperti prem, maka muncullah istilah brem. 

Meski dikenal sebagai kuliner khas Madiun, sejarah kemunculan brem belum diketahui secara pasti. Mengutip dari Republika, para produsen di Desa Kaliabu juga tidak dapat memastikan kapan makanan ini pertama kali dibuat. Pengetahuan tentang cara pembuatannya justru diwariskan dari orang tua dan masyarakat sekitar kepada generasi berikutnya.

Cerita yang berkembang di kalangan masyarakat menyebutkan bahwa brem dahulu termasuk makanan mewah karena beras ketan sebagai bahan bakunya tidak mudah dijangkau oleh semua kalangan.

Kisah ini menjadi bagian dari ingatan masyarakat tentang perjalanan brem sebelum dikenal luas sebagai camilan dan oleh-oleh khas Madiun.

Beras Ketan yang Diolah menjadi Brem

Brem Madiun dibuat menggunakan beras ketan putih, ragi, dan bahan tambahan dalam proses pengolahannya. Berbeda dari camilan yang bisa langsung dibuat setelah bahan dicampur, brem membutuhkan tahap fermentasi sebelum sari ketan diolah menjadi makanan siap konsumsi.

Dilansir dari Indonesia Kaya, proses pembuatannya dimulai dengan mencuci beras ketan, kemudian mengukusnya hingga matang. Ketan perlu didinginkan terlebih dahulu sebelum diberi ragi. Setelah itu, ketan disimpan dalam wadah tertutup selama sekitar tujuh hari hingga berubah menjadi tape.

Tahap berikutnya adalah memeras tape ketan untuk mengambil cairannya. Sari tape tersebut kemudian disaring dan dimasak sebelum diaduk hingga mengental menjadi adonan. Adonan lalu dicetak, dipadatkan, dan dikeringkan sampai menghasilkan brem yang siap dikemas.

Proses pengeringan turut menentukan hasil akhirnya. Produsen brem di Desa Kaliabu masih mengandalkan penjemuran dengan sinar matahari. Ketika cuaca cerah, proses ini dapat berlangsung sekitar setengah hari. Namun, saat musim hujan, pengeringan bisa memerlukan waktu satu hingga dua hari.

baca juga

Desa Kaliabu, Sentra Produksi Brem Madiun

Desa Kaliabu di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, dikenal sebagai salah satu sentra produksi brem. Di wilayah ini, pembuatan brem dijalankan oleh masyarakat melalui industri rumahan yang mengolah beras ketan menjadi camilan khas Madiun tersebut.

Skala produksinya terlihat dari aktivitas salah satu industri rumahan di desa ini. Melansir dari ANTARA Jatim pada 30 September 2022, industri tersebut mampu menghasilkan sekitar 4.000 kemasan brem berukuran kecil dalam sehari dengan mengolah 125 kilogram beras ketan putih. Produknya kemudian dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Di Kaliabu, keterampilan membuat brem juga diteruskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tentang proses pengolahan ketan hingga menjadi brem dipelajari dari orang tua maupun masyarakat sekitar. Selain memproduksi sendiri, ada pula pelaku usaha yang menjual kembali brem dari produsen lain dengan merek berbeda.

Kegiatan tersebut membuat usaha brem di Kaliabu tidak berhenti pada proses pembuatan saja, tetapi juga mencakup pengemasan dan pemasaran. 

baca juga

Manis, Sedikit Asam, dan Langsung Larut di Mulut

Salah satu hal yang membedakan brem dari camilan lainnya adalah sensasi ketika dimakan. Teksturnya yang padat dan kering perlahan melunak hingga larut di dalam mulut. Rasanya didominasi manis, dengan sedikit rasa asam yang berkaitan dengan proses fermentasi ketan.

Brem juga mengalami perkembangan dari segi variasi rasa. Selain rasa original, produsen menghadirkan pilihan seperti cokelat, stroberi, melon, jeruk, hingga durian untuk menjangkau konsumen dengan selera berbeda.

Keberadaan sentra produksi seperti Desa Kaliabu membuat brem tidak hanya dikenal sebagai buah tangan khas Madiun. Kuliner ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang mempertahankan cara pengolahan tradisional sekaligus menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar.

Bagi Kawan GNFI yang berkunjung ke Madiun, brem bisa menjadi salah satu cara mengenal kekayaan kuliner daerah. 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.