ura ura mencicipi rasa pedesaan sumatra utara dari lesung tradisional - News | Good News From Indonesia 2026

Ura-Ura, Mencicipi Rasa Pedesaan Sumatra Utara dari Lesung Tradisional

Ura-Ura, Mencicipi Rasa Pedesaan Sumatra Utara dari Lesung Tradisional
images info

Ura-Ura: Mencicipi Rasa Pedesaan Sumatra Utara dari Lesung Tradisional. Gambar: Ilustrasi AI


Perjalanan kami dari Bandung, Jawa Barat, menuju Sumatra Utara tidak hanya bersua denganΒ pemandangan alam dan budaya yang berbeda, tetapi juga membawa pada pengalaman mencicipi makanan tradisional yang sebelumnya hampir tidak pernah terdengar.

Di salah satu kawasan pedesaan masyarakat Batak Toba, penulis berkenalan denganura-ura, makanan sederhana yang justru memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Dalam catatan tentang pangan tradisional Sumatra Utara, ura-ura memang dikenal sebagai makanan berbahan sera-sera atau babal, jantung pisang, dan daun pepaya.

Awalnya, penulis mengira ura-ura akan menyerupai urap yang cukup akrab bagi sebagai orang Bandung. Sekilas memang ada kemiripan karena keduanya sama-sama menggunakan bahan tumbuhan sebagai bahan utama. Namun, setelah melihat proses pembuatannya, penulis segera menemukan perbedaannya.

Ura-ura tidak sekadar mencampurkan sayuran dengan bumbu, melainkan mengolah bahan-bahan tersebut melalui proses penumbukan menggunakan lesung tradisional. Bahan tidak dibuat sampai halus, tetapi ditumbuk kasar sehingga menghasilkan tekstur yang tetap terasa ketika disantap.

Pagi itu, suasana pedesaan terasa tenang. Udara masih cukup sejuk ketika kami melihat beberapa bahan makanan disiapkan di halaman rumah. Ada babal yang masih sangat muda, jantung pisang, dan daun pepaya yang sebelumnya telah direbus.

Babal menjadi bahan yang paling menarik perhatian karena di Bandung penulis lebih sering mengenal nangka dalam bentuk buah matang, sayur nangka, atau campuran makanan lainnya. Dalam ura-ura, buah nangka yang masih sangat muda justru menjadi bagian penting dari hidangan tradisional tersebut.

Setelah bahan disiapkan, proses pengolahan dimulai. Jantung pisang dan babal dimasukkan ke dalam lesung, kemudian disusul daun pepaya. Bumbu sederhana berupa cabai, garam, dan asam kemudian ditambahkan. Sumber dokumentasi budaya Indonesia mencatat bahwa seluruh bahan tersebut memang ditumbuk bersama bumbu menggunakan lesung.

Suara tumbukan kayu yang berulang terdengar cukup khas. Bagi saya, suara itu seperti membawa suasana dapur tradisional yang sulit ditemukan dalam kehidupan perkotaan. Di Bandung, penulis lebih terbiasa melihat blender, cobek, atau alat masak modern.

Di tempat ini, lesung bukan sekadar peralatan dapur, tetapi menjadi bagian dari proses pengolahan makanan yang masih dipertahankan.

Semakin lama ditumbuk, bahan-bahan tadi berubah menjadi campuran yang padat dan kasar. Warnanya tidak semeriah makanan modern, tetapi justru tampak sederhana dan alami.

Aroma daun pepaya berpadu dengan jantung pisang, babal, cabai, serta asam. Kami kemudian memahami bahwa daya tarik ura-ura bukan terletak pada tampilannya, melainkan pada pengalaman mengolah dan menyantapnya.

Ketika pertama kali mencicipinya, rasa pahit dari daun pepaya langsung terasa. Setelah itu muncul rasa gurih, pedas, dan asam yang saling mengikuti. Teksturnya pun berbeda dengan urap yang biasa saya temui.

Bahan-bahannya masih terasa kasar sehingga setiap kunyahan memberikan sensasi yang berbeda. Justru perpaduan rasa pahit, pedas, asam, dan gurih itulah yang membuat ura-ura mempunyai karakter tersendiri.

Dari penjelasan masyarakat setempat, kami juga mengetahui bahwa ura-ura tidak hanya dikonsumsi dalam keseharian. Literatur mengenai makanan tradisional Sumatra Utara mencatat bahwa hidangan ini dahulu dikaitkan dengan makanan bagi perempuan yang sedang mengandung, meskipun juga dikonsumsi oleh laki-laki dan perempuan dari berbagai kalangan.

Hidangan tersebut dapat disajikan di piring ataupun disantap langsung dari lesung setelah proses penumbukan selesai.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat makanan tradisional dari sudut yang berbeda. Ura-ura bukan makanan yang mengandalkan bahan mahal atau teknik memasak rumit. Bahan-bahannya berasal dari lingkungan sekitar, sedangkan pengolahannya menggunakan peralatan tradisional.

Penelitian mengenai pangan tradisional etnis Sumatra Utara juga menunjukkan bahwa berbagai bahan pangan lokal memiliki hubungan erat dengan budaya masyarakat serta keberadaan tanaman yang tumbuh dan dimanfaatkan secara lokal.

Bagi kami yang datang dari Bandung, perjalanan mencicipi ura-ura menjadi pengalaman kuliner yang cukup berkesan. Saya datang dengan bayangan bahwa makanan khas Sumatra Utara akan didominasi hidangan berbumbu kuat, ikan, daging, atau andaliman.

Ternyata, di pedesaan terdapat pula makanan sederhana berbasis tumbuhan yang mempunyai identitas rasa dan cara pengolahan yang sangat khas. Keberagaman tersebut memperlihatkan luasnya khazanah kuliner Sumatra Utara.

Perjalanan itu tidak berhenti pada semangkuk makanan. Dari ura-ura, penulis menemukan cerita tentang bahan lokal, lesung, kebiasaan masyarakat, dan cara sebuah makanan diwariskan melalui praktik sehari-hari.

Pengalaman semacam ini terasa lebih berharga karena memungkinkan penulis mengenal Sumatra Utara bukan hanya melalui tempat wisata, tetapi juga melalui makanan yang lahir dari kehidupan masyarakatnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.