Gio Fidelito pernah menerima serangkaian email penolakan dari program PhD di Inggris. Padahal, seorang dosen pernah mengatakan gagasannya saat semester 6 telah melampaui pengetahuan teman-teman seangkatannya.
Ia tidak lantas menyerah dan milih nyoba melamar ke Melbourne, tanpa ekspektasi tinggi.
Di sana, Gio menjadi kandidat teratas dari hampir 60 pelamar.
Setelah meraih gelar PhD pada 2024, alumnus Biomedik i3L University itu memimpin program penelitian di University of Melbourne. Fokusnya adalah riset metabolisme kanker, terutama kanker prostat.
Gagal di Inggris, Berhasil di Melbourne
Gio mulai mencari program doktoral di awal semester ketujuh kuliahnya. Target awalnya adalah Inggris. Program PhD di sana, menurut profil alumni i3L, sering kali memungkinkan mahasiswa mulai tanpa gelar Master.
Sayangnya, rencana itu harus berubah pada Maret 2019, saat ia menjalani penelitian tesis di Singapura. Setelah menerima penolakan berulang, ia akhirnya mencoba putar haluan setelah menemukan iklan PhD tentang kanker prostat dan metabolisme sel. Topiknya pas dengan minatnya.
Saat pengumuman, Gio terpilih dari hampir 60 pelamar.
Apa yang Sebenarnya Ia Teliti?
Saat menjalani PhD, Gio meneliti metabolisme kanker, terutama pada kanker prostat.
Sederhananya, ia ingin memahami bagaimana sel kanker mendapatkan energi dan nutrisi untuk terus tumbuh. Dari situ, dapat ditarik, apakah pertumbuhan sel kanker bisa dihambat dengan mengganggu kebutuhan nutrisinya?
Gio mempelajari apakah sel kanker bisa dibuat kekurangan nutrisi tertentu yang dibutuhkannya. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, pertumbuhan sel kanker mungkin dapat diperlambat.
Sel kanker juga bisa mengubah cara mereka menggunakan nutrisi agar tetap hidup dan berkembang. Perubahan ini disebut memprogram ulang metabolisme. Bagi peneliti, perubahan tersebut menarik karena bisa menjadi salah satu titik yang ditargetkan untuk pengobatan.
Dua Fokus Riset di Melbourne
Setelah menyelesaikan PhD pada 2024, Gio melanjutkan penelitian di Metabolism and Diabetes Laboratory, Department of Anatomy and Physiology, University of Melbourne, di bawah Prof Matthew Watt.
Laboratorium tersebut meneliti berbagai persoalan yang berkaitan dengan metabolisme. Beberapa di antaranya adalah perlemakan hati, obesitas, dan diabetes tipe 2. Peneliti juga mencari tahu bagaimana gangguan metabolisme terjadi dan bagaimana organ-organ tubuh saling berkomunikasi.
Di sana, Gio mengerjakan dua jenis penelitian.
Pertama, riset dasar. Ia mempelajari bagaimana sel mengatur penggunaan dan pengolahan asam lemak. Penelitian ini membantu memahami proses yang terjadi di dalam sel.
Kedua, riset translasional. Sederhananya, jenis penelitian ini berusaha membawa temuan dari laboratorium agar suatu saat bisa digunakan untuk kebutuhan medis.
Dalam penelitian ini, Gio kembali mendalami kanker prostat. Ia melihat bagaimana sel kanker mengubah cara menggunakan nutrisi untuk terus tumbuh dan bertahan hidup. Dari perubahan tersebut, ia mencari bagian yang mungkin bisa dijadikan sasaran pengobatan.
Penelitiannya juga merambah kanker hati. Gio ikut menilai obat baru yang menargetkan metabolisme lemak atau lipid pada kanker hati. Untuk penelitian tersebut, ia menggunakan irisan jaringan hati manusia dari pasien yang menjalani reseksi, yaitu operasi untuk mengangkat bagian hati yang terkena kanker.
Bagi Gio, penelitian tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan yang sudah dimulainya sejak menjadi mahasiswa.
βSetelah menyelesaikan PhD pada 2024, kini saya dipercaya memimpin program penelitian yang sesuai dengan minat saya, sambil tetap aktif membantu proyek-proyek lain di laboratorium,β ujar Gio, sebagaimana dikutip dari Industry.co.id.
Dari Malang, Lalu Masuk Laboratorium Sejak Semester Pertama
Ketertarikan Gio pada biologi bermula di SMA Kolese Santo Yusup, Malang. Minat itu menguat setelah ia mengikuti kelas pengayaan biologi dan pelatihan biologi molekuler di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya.
Ketika lulus dari bangku sekolah, ia mendaftar ke i3L University dengan pilihan awal Bioteknologi. Setelah memahami cakupan tiap jurusan, Gio pilih pindah haluan.
"Saya merasa lebih tertarik pada biologi molekuler di bidang kesehatan," ujarnya.
Dosen yang Mendorong Kirim Email ke Profesor
Kawan, sejak semester pertama, Gio sudah mendapat pengalaman laboratorium intensif. Pengalaman langsung memberinya keunggulan dibanding banyak kandidat lain.
Nah, Gio sudah melanglang buana mencari pengalaman. Sebelum Melbourne, Gio meneliti di laboratorium Prof Yufang Shi Soochow University di Tiongkok lewat program International Office i3L.
Ia mengaku pengalaman itu mengubah pandangannya.
"Sebelumnya, saya tidak benar-benar tahu apa yang dikerjakan seorang peneliti atau seperti apa kesehariannya," tuturnya.
Dalam seleksi program itu, Gio diwawancarai dosennya, Dr. Richard Sutejo. Menurut Gio, Richard kerap mendorong mahasiswanya agar tidak takut atau ragu mengirim email ke profesor di luar negeri untuk mencari peluang magang.
Richard sendiri menilai potensi Gio terlihat sejak kuliah. Ia menyebut Gio, "terhitung brilian di antara teman-teman sekelasnya."
Dalam mata kuliah Canceromics, Gio mendapat tugas presentasi tentang penemuan terbaru di dunia biomedis. Richard menilai materinya "bahkan setara S3", padahal saat itu Gio masih semester 6.
Sempat Ragu, Lalu Kembali Percaya Diri
Meski sudah di Melbourne, Gio juga tak luput dari ketakutan. Memasuki masa PhD, Gio sempat ragu berada di lingkungan akademik sebesar University of Melbourne.
Pengalaman mengajar dan bekal dari kampus asalnya lah yang kemudian membangun kembali kepercayaan dirinya.


