Perkembangan media sosial telah mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi. Jika dahulu media massa memiliki posisi dominan dalam menentukan isu apa yang layak diketahui publik, kini arus tersebut semakin dinamis.
Sebuah unggahan dari netizen dapat menjadi viral, kemudian menarik perhatian media massa dan pada akhirnya berubah menjadi topik pemberitaan secara luas. Kinerja media massa pun dipertanyakan karena orang biasa yang bukan berkecimpung di dunia jurnalistik tetap mampu memproduksi berita.
Menurut dosen Sampoerna University, Diyan Lestari, semakin canggihnya media massa era digitalย membuka pilihan alternatif dalam mengonsumsi berita. Selain media tradisional, masyarakat bisa memilih siniar atau podcast untuk mendapatkan informasi terkini dengan kemasan lebih menarik dan tengah digandrungi kalangan muda-mudi.
โPodcast dia tumbuh dari 17 persen, kemudian AI Chatbot dari 12 persen,โ ucap Diyan dalam acara GoodTalk Off-Air beberapa waktu lalu.
Menurut Diyah dewasa ini telah ada pergeseran dalam cara mengonsumsi media di tengah masyarakat yang kian dekat dengan segala akses digital dan mesti menuruti algoritma. Selaku dosen, ia pun mendapati pengalaman menarik di mana mahasiswa S1 tidak mengetahui media cetak seperti koran yang dulunya menjadi salah satu sumber berita bagi seluruh kalangan masyarakat.
โTV dan juga print atau media cetak itu terus mengalami penurunan trennya. Misalkan di print atau media cetak yang awalnya presentase 20 persen menjadi sekitar 9 persen. Ini menandakan pergeseran tentang bagaimana media itu diakses. Tadi dijelaskan ada anak-anak S1 tidak tahu koran. Nah, itu adalah pergeseran,โ ucapnya.
ย

