Perkembangan industri halal kini menjadi semakin relevan bagi penataan dan penguatan sektor manufaktur nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 35.134 perusahaan industri manufaktur skala besar dan sedang yang aktif pada 2025.
Pada tahun yang sama, sektor pengolahan ini menyumbang 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku, di mana industri makanan dan minuman berkontribusi sebesar 7,13 persen serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencapai 1,83 persen.
Meski angka tersebut bukan gambaran khusus industri halal secara langsung, data ini menegaskan luasnya basis pasar dan ekosistem manufaktur yang bersinggungan erat dengan standar halal.
Terlebih lagi, BPS mencatat keberadaan sekitar 1,88 juta usaha mikro makanan dan lebih dari 136 ribu usaha mikro minuman, serta 101 ribu usaha kecil makanan dan 3.460 usaha kecil minuman.
Potensi raksasa ini menunjukkan bahwa penguatan rantai ekonomi halal tidak semata-mata menyasar korporasi besar, melainkan juga menyentuh jutaan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Mendorong Ekosistem Halal Lintas Sektor
Memahami posisi strategis manufaktur tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia melalui Pusat Industri Halal (PIH) konsisten menggelar Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) sejak 2021.
Ajang ini merupakan wujud apresiasi tertinggi pemerintah untuk memotivasi para pemangku kepentingan lintas sektor agar konsisten berinovasi, menjaga standar halal, dan memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.

Ketua Pusat Halal (mengenakan batik cokelat, tengah paling kanan) mewakili Rektor UNAIR menerima penghargaan IHYA 2026 di panggung apresiasi (Dok. Kemenperin RI, 2026)
Pada perhelatan IHYA 2026, Kemenperin mengusung tujuh kategori utama yang mencakup Perusahaan Industri Besar, Perusahaan Industri Kecil dan Menengah (IKM), Perusahaan Kawasan Industri, Lembaga Pengelola Sentra IKM, Lembaga Pemerintah, Institusi Pendidikan Tinggi, serta Lembaga Jasa Keuangan.
Komitmen UNAIR dalam Pemberdayaan Industri Halal
Di antara jajaran entitas yang dinilai memberi kontribusi nyata bagi industri nasional, Universitas Airlangga (UNAIR) merengkuh penghargaan Terbaik I untuk kategori Institusi Pendidikan Tinggi yang Mendukung Pengembangan dan Pemberdayaan Industri Halal Terbaik.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyerahkan langsung piagam apresiasi tersebut kepada Dr. Abdul Rahem, M.Kes., Apt., Ketua Pusat Halal yang ditugaskan hadir mewakili Rektor UNAIR pada panggungย Halal Indo 2026 di ICE BSD City, Banten, Kamis (24/9/2026).
Pengakuan dari Kementerian Perindustrian ini bertumpu pada evaluasi menyeluruh terhadap rekam jejak perguruan tinggi oleh tim ahli.
Kriteria penilaian tidak hanya menakar keaktifan Pusat Halal di lingkungan kampus, tetapi juga kualitas riset dan inovasi produk halal, pengintegrasian kurikulum, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) tersertifikasi, serta kontribusi nyata dalam pendampingan sertifikasi halal bagi IKM.
Seluruh elemen tersebut terangkum dalam tiga pilar utama penilaian, yakni aspek teknis, manajemen, dan kampanye.
Menopang capaian tersebut, Universitas Airlangga melalui Pusat Halal secara periodik telah menggelar program Penelitian Unggulan Halal di lingkup internal kampus sejak tahun 2017.
Fokus kajian diarahkan pada sejumlah topik prioritas, di antaranya riset dan inovasi autentifikasi produk halal, pengembangan metode diagnostik dan teknologi ketelusuran material, hingga studi implementasi kebijakan nasional dan model bisnis rantai nilai halal.
Program pendanaan dan pembinaan riset ini menjadi inkubator strategis bagi para akademisi lintas fakultas untuk secara konsisten mengkaji, meneliti, dan mengembangkan substitusi bahan baku maupun produk halal berdaya saing tinggi sebelum akhirnya dihilirisasi ke industri.
Hilirisasi Riset dan Inovasi Bahan Baku
Sebagai wujud kontribusi nyata pada kemandirian bahan baku industri nasional, UNAIR turut memamerkan sederet inovasi terapan dalam area showcase IHYA 2026 yang disinergikan dengan pameran internasional Halal Indo 2026 (22โ27 September 2026).
Beragam produk unggulan diperkenalkan, mulai dari Bhannex yang berupa implan tulang medis berbasisย Natural Bovine Hydroxyapatite (BHA), hingga pasta gigi herbal antibakteri hasil kombinasi ekstrak Nigella sativa (habbatussauda) dan Tea Tree Oil.
Di sektor kesehatan dan substitusi bahan baku farmasi, UNAIR menghadirkan kapsul Diabetkol untuk penstabil gula darah dan kolesterol, ekstrak teh hijau MediTea yang kaya antioksidan, serta inovasi glukosamin untuk penanganan osteoarthritis dan gelatin halal berbasis rumput laut.
Seluruh riset terapan yang siap diadopsi oleh pelaku industri ini terangkum lengkap dalam Katalog Produk Inovasi UNAIR.
"Apresiasi ini menjadi pendorong bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi ilmiah yang menjawab kebutuhan riil masyarakat dan dunia usaha. Melalui kolaborasi riset lintas disiplin, penerapan teknologi, serta kepatuhan pada standar halal, UNAIR siap memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global," tutur Dr. Abdul Rahem, M.Kes., Apt., Ketua Pusat Halal UNAIR.


