legenda asal usul tanjung pinang cerita rakyat dari kepulauan riau - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Asal Usul Tanjung Pinang, Cerita Rakyat dari Kepulauan Riau

Legenda Asal Usul Tanjung Pinang, Cerita Rakyat dari Kepulauan Riau
images info

Legenda Asal Usul Tanjung Pinang, Cerita Rakyat dari Kepulauan Riau | Wikimedia Commons/Dj Onces Saputra


Tanjung Pinang merupakan daerah yang menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Tahukah Kawan, ada sebuah cerita rakyat dari daerah Kepulauan Riau yang menceritakan legenda dari asal usul nama Tanjung Pinang dulunya.

Bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul Tanjung Pinang tersebut? Berikut ceritanya.

Legenda Asal Usul Tanjung Pinang, Cerita Rakyat dari Kepulauan Riau

Disitat GNFI dari buku Maini Trisna Jayawati, dkk., yang berjudul Cerita Rakyat dan Objek Pariwisata di Indonesia: Teks dan Analisis Latar, alkisah pada zaman dahulu terdapat sebuah bandar kecil di Pulau Bintan. Bandar ini memiliki posisi yang sangat strategis pada waktu itu.

Bandar ini dikenal dengan nama Anjang Luku. Di sana banyak pohon pinang yang tumbur berjejer di tepi pantainya.

baca juga

Pada zaman dahulu, bandar ini sering kali menjadi tempat persinggahan bagi para saudagar. Tidak heran bandar tersebut penuh dengan hiruk pikuk kehidupan sejak lama.

Bahkan dulunya, bandar ini juga menjadi tempat persinggahan Laksamana Hang Tuah. Sang laksamana singgah di bandar tersebut pada saat berlayar dari daerah Melaka menuju Sungai Duyung Ulu Bintan.

Situasi serupa juga terjadi pada masa Sultan Ibrahim. Sang sultan juga memanfaatkan bandar tersebut sebagai tempat berkumpulnya para saudagar dengan berbagai macam latar belakang berbeda.

Tidak jarang bandar ini juga digunakan oleh Sultan Ibrahim ketika ingin berdiskusi dan bermusyawarah dengan para saudagar. Jika pertemuan tengah terjadi, kapal-kapal besar maupun kecil akan terlihat bersandar memenuhi bandar tersebut.

baca juga

Pada suatu waktu, Sultan Ibrahim memanggil para saudagar untuk berkumpul di bandar Anjang Luku. Sang sultan tengah ingin membicarakan hal penting bersama-sama.

Sultan Ibrahim berkeinginan untuk menguasai perdagangan di Selat Malaka hingga Selat Riau. Sebab mereka masih belum bisa menguasai sepenuhnya jalur perdagangan tersebut.

Wilayah ini dulunya dikuasai oleh para saudagar dari Jawa, Bugis, Melayu, dan Minangkabau. Oleh orang Eropa dulunya, para saudagar tersebut dikenal dengan istilah Perompak Lanun.

Para saudagar pun berbondong-bondong memenuhi panggilan Sultan Ibrahim. Kapal-kapal pun mulai bersandar memenuhi bandar tersebut.

baca juga

Sultan Ibrahim beserta para saudagar pun mulai mendirikan kemah-kemah di tepi pantai. Penerangan pun dipasang di berbagai sisi perkemahan.

Musyawarah ini dilakuan dalam kurun waktu lama. Setiap malam Sultan Ibrahim beserta para saudagar mencari cara agar tujuan yang mereka inginkan bersama bisa tercapai dengan baik.

Pada suatu malam, datang seorang nelayan Melayu yang melintasi daerah tersebut. Dia heran melihat tepi pantai Bandar Anjang Luku yang terlihat terang benderang.

Nelayan ini pun menghampiri pelaut Cina yang juga tengah melintasi daerah tersebut. Dia bertanya mengapa tepi pantai Bandar Anjang Luku terlihat terang seperti itu.

baca juga

Pelaut Cina ini pun menjawab jika cahaya yang dilihat oleh nelayan tersebut adalah "Pi-pei nang." Kata itu sendiri memiliki arti api-api yang dinyalakan oleh orang-orang.

Hal ini merujuk pada pemukiman perkemahn yang didirikan oleh Sultan Ibrahim beserta para saudagar. Mereka menyalakan api sebagai penerangan di segala sudut perkemahan mereka.

Sejak saat itulah, nama Bandar Anjang Luku pun mulai berganti. Oleh orang-orang Cina, daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama Pi-pei Nang.

Sementara itu, orang-orang Melayu pun juga mengenal daerah tersebut dengan nama yang berbeda. Bandar ini kemudian dikenal oleh orang Melayu dengan sebutan Pian Pinang.

baca juga

Hal ini merujuk pada pohon pinang yang banyak tumbuh di sepanjang pantai bandar tersebut. Karena bandar ini juga berada di daerah tanjung, akhirnya daerah itu pun kemudian dikenal dengan nama Tanjung Pinang dan bertahan hingga saat ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.