Kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026, Aichi-Nagoya, Jepang, tidak hanya mengandalkan atlet berpengalaman untuk meraih prestasi. Sebanyak 55 dari 105 atlet yang dikirim merupakan bagian dari Generasi Z. Jumlah ini menjadi yang terbesar dibandingkan kelompok usia lainnya.
Dominasi tersebut menunjukkan bahwa atlet muda turut mengambil peran penting dalam perjuangan Indonesia di ajang olahraga disabilitas tingkat Asia. Beberapa di antaranya bahkan berhasil membawa pulang medali, termasuk emas yang diraih dengan memecahkan rekor dunia.
Dari puluhan atlet muda yang memperkuat Merah Putih, terdapat sejumlah nama yang menarik untuk disoroti berkat penampilan mereka selama Asian Para Games 2026.
Gen Z jadi Kelompok Terbesar Kontingen Indonesia
Berdasarkan jumlah atlet Indonesia di Asian Para Games 2026, Generasi Z menempati posisi pertama dengan 55 atlet atau sekitar 52,38% dari keseluruhan kontingen. Kelompok ini berada pada rentang usia 17–29 tahun.
Milenial menjadi kelompok terbesar kedua dengan 45 atlet atau 42,86%. Sementara itu, Generasi X terdiri atas lima atlet atau sekitar 4,76% dari total kontingen.
Komposisi ini memperlihatkan besarnya peran atlet muda dalam skuad Indonesia. Mereka berkompetisi bersama atlet yang lebih berpengalaman untuk memperjuangkan prestasi di Nagoya.

I Kadek Dwi Purwana Yasa, atlet berusia 18 tahun asal Denpasar, berhasil memecahkan rekor dunia. | Foto: (Mohammad Ayudha | NPC INDONESIA)
Salah satu atlet muda yang mencuri perhatian adalah I Kadek Dwi Purwana Yasa. Atlet asal Denpasar tersebut baru berusia 18 tahun ketika mengikuti Asian Para Games 2026. Ia berhasil meraih medali emas nomor lempar cakram F57 putra dengan lemparan sejauh 49,75 meter. Hasil tersebut sekaligus memecahkan rekor dunia.
Prestasi serupa juga ditunjukkan oleh Abdil Majid Rahman. Atlet berusia 17 tahun asal Kampar ini berhasil meraih medali emas nomor 100 meter gaya dada SB7 putra.
Selain keduanya, ada Karisma Evi Tiarani yang turut menyumbangkan medali emas untuk Indonesia. Atlet para atletik berusia 25 tahun ini memenangkan nomor lari 100 meter T63 putri dengan catatan waktu 14,59 detik.
Di tengah keberhasilan para atlet tersebut, kehadiran generasi muda memberikan gambaran tentang potensi regenerasi atlet paralimpik Indonesia. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari kontingen, tetapi juga ikut berkontribusi terhadap pencapaian tim.
Enam Atlet Gen Z Indonesia yang Menarik Perhatian
Selain I Kadek Dwi Purwana Yasa, Abdil Majid Rahman, dan Karisma Evi Tiarani, ada beberapa atlet muda lainnya yang ikut memperkuat Indonesia di Asian Para Games 2026.
Pertama, Theradina Audria Lie yang berasal dari Sukabumi. Pada 21 Oktober 2026, usianya baru 17 tahun 12 hari. Meski masih sangat muda, perenang ini berhasil menyumbangkan medali perunggu pada nomor 100 meter gaya bebas S10 putri.
Berikutnya, Vitasari dari Surakarta yang berusia 17 tahun 9 bulan 2 hari. Ia berkompetisi di cabang olahraga para atletik dan berhasil meraih medali perunggu nomor lari 100 meter T36 putri. Hasil tersebut menambah kontribusi atlet muda bagi kontingen Indonesia.
Atlet berikutnya adalah Ubaidillah Amsyar Juba Ramadhani dari Sidoarjo. Saat mengikuti Asian Para Games 2026, ia berusia 18 tahun 28 hari. Perenang muda ini berhasil mencapai babak final nomor 100 meter gaya kupu-kupu S10 putra.
Ada pula Zahra Nur Azizah yang berasal dari Malang. Pada usia 18 tahun 3 bulan 19 hari, ia turut memperkuat Indonesia dalam cabang olahraga para renang. Zahra tampil pada nomor 400 meter gaya bebas S9 putri.
Kehadiran Theradina, Vitasari, Ubaidillah, dan Zahra melengkapi deretan atlet muda yang menunjukkan potensi di kompetisi internasional. Sebagian di antaranya telah berhasil meraih medali, sedangkan yang lain memperoleh pengalaman bertanding hingga babak final.
Dengan 55 atlet Gen Z berusia 17–29 tahun, Indonesia memiliki kelompok atlet muda yang cukup besar untuk mendukung prestasi olahraga paralimpik nasional. Keberhasilan sejumlah atlet meraih medali di Asian Para Games 2026 juga memperlihatkan potensi besar bibit unggul anak bangsa.


