Saat masih berkuliah dulu, penulis harus menyiapkan dengan ‘matang’ berbagai kebutuhan praktikum tatkala jadwalnya telah datang. Sebelum akhirnya beralih bidang ke etnobotani, penulis awalnya berniat mendalami mikrobiologi. Secara umum, mikrobiologi adalah ilmu yang berkutat soal pembiakan serta isolasi bakteri, virus, maupun fungi mikroskopis di dalam media tertentu sesuai karakteristik biakannya.
Sebagai seseorang yang diharuskan mengenakan jas laboratorium, masker, hingga sarung tangan lateks, penulis tahu betul akan kompleksitas yang acapkali dihadapi oleh praktikan. Risiko adanya kontaminan selama proses pembiakan, kegalatan dalam menggunakan alat laboratorium, sampai potensi terjadinya miskomunikasi antarpraktikan dan laboran; hal itu sudah jadi konsumsi sehari-hari bagi anak MIPA.
Permasalahannya, ketika kontaminan mampu mengacaukan keseluruhan hasil praktikum, sudah pasti praktikan wajib mengulangi prosesnya dari awal sampai sukses. Masih mending kalau laboratorium memiliki stok media biakan berikut mikrob cobaan yang memadai. Jika tidak, praktikan dipersilakan “bertanggung jawab” sendiri.
Makanya, tidak jarang penulis mendapati fenomena di mana mayoritas teman-teman penulis ikut dalam proyek dosen saat waktunya “berjibaku” dengan skripsi, yang istilahnya kita ketahui sebagai penelitian payung.
Dalam konteks ini, mahasiswa ‘disuapi’ ihwal gagasan utama proyek. Sebagai gambaran, katakanlah dosen A punya proyek penelitian tentang eksplorasi mikroorganisme pada air sungai yang tercemar. Dari sini, substansi amatan dapat dipecah layaknya bagi-bagi kue.
Contohnya: mahasiswa 1 dapat penawaran topik soal meneliti diversitas mikrob, mahasiswa 2 dapat soal menguji potensi toksisitas air akibat mikroorganisme, mahasiswa 3 dapat soal uji coba reagen tertentu guna melihat reaksi biokimia pada mikroorganisme—begitu seterusnya dalam substansi sampel yang selingkung.
Mahasiswa dipastikan memperoleh bantuan dana dari dosen dengan supervisi yang ketat dan bila memungkinkan harus zero-mistakes.
Menurut penulis, fenomena tersebut adalah buah simalakama. Bila kesempatan dari dosen itu tidak diambil, biaya penelitian otomatis ditanggung mandiri. Di sisi lain, pola itu sejatinya berpotensi mengurangi sensibilitas kreatif dari mahasiswa karena terkekang oleh biaya yang mencekik—memberi kesan bahwa ide penelitian mahasiswa “disetir” oleh keadaan yang memaksa, apapun itu kausalitasnya.
Daya berinovasi boleh jadi dipertanyakan orisinalitasnya. Pada akhirnya, peristiwa yang penulis jabarkan ini lekat dengan pragmatisme ekonomi: mumpung duitnya terjamin, ‘tancaplah gas’ selagi bisa.
Ini baru dari segi mikro. Secara makro, anggaran maupun budaya riset berkelanjutan di Indonesia juga sering pelik adanya. Melansir tirto.id (2/6/2026), muncul sejumlah kekhawatiran dari para ilmuwan, bahwa jikalau dana riset sudah habis atau menemui kendala yang berarti, biasanya inovasi penelitian akan berakhir menjadi laporan tertulis atau arsip akademik semata, tidak bertransformasi ke produk bernilai ekonomi tinggi yang dapat dinikmati langsung oleh publik.
Ditilik dalam pagu indikatif Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026, laman indonesiabaik.id pada infografiknya memaparkan bahwa Badan Gizi Nasional mendapat anggaran sekitar Rp217,8 triliun, berbeda dengan Kemendiktisaintek sebesar Rp55,4 triliun serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebesar Rp33,6 triliun.
Kejomplangan ini pada hakikatnya memasygulkan nurani, mengindikasikan pemerintah kurang sepenuhnya perhatian akan kondisi pendidikan masyarakat.
Kemendiktisaintek bahkan mengaku rasio dana riset pada APBN sangat minim terhadap Gross Domestic Product (GDP). I Ketut Adnyana menilai adanya ketimpangan anggaran riset Indonesia dengan negara lain secara komparatif, seperti Korea Selatan dan Israel.
“Keterbatasan anggaran yang tadi disampaikan bahwa memang benar untuk riset dan pengembangan kita masih di angka 0,2% dari GDP kita. Masih sangat-sangat jauh dibandingkan dengan Korea [Selatan], apalagi Israel,” jelasnya, dikutip dari kumparan.com (16/10/2025).
“Israel punya sekitar 6,7% dari GDP untuk riset dan pengembangan. Kita memang kira-kiranya menuju ke angka 1 atau 3% -lah seperti itu dari GDP kita. Memang masih sangat jauh,” tandas Ketut melanjutkan.
Bak efek bola salju, fakta inilah yang seolah memengaruhi posisi maupun daya tarik Indonesia di Penghargaan Nobel.
Selayang Pandang tentang Nobel
Penghargaan Nobel (Nobel Prize) merupakan suatu pengakuan bergengsi bertaraf internasional yang diabahkan kepada para kontributor sains atas jasa dan upayanya memajukan peradaban manusia. Menyitat web resminya, penghargaan ini diberikan sebagai tanda kehormatan besar bagi mereka yang bergelut dalam bidang fisika, kimia, fisiologi atau kedokteran, sastra, dan perdamaian guna meluangkan segala apa yang dimiliki demi kemaslahatan umat.
Nama “Nobel” sendiri memang berasal dari seorang cendekiawan ulung yaitu Alfred Nobel. Penemuan dinamit membuat reputasinya ternodai karena diselewengkan menjadi alat pemusnah massal oleh berbagai pihak. Menyadari bahwa temuannya menyengsarakan manusia, Alfred Nobel lantas menandatangani surat wasiat terakhirnya pada 27 November 1895, setahun sebelum ia wafat.
Bunyi wasiatnya adalah penetapan sebagian besar kekayaannya untuk dibagi ke dalam lima divisi keilmuan sebagaimana yang disebutkan tadi untuk, “mereka yang, selama tahun sebelumnya, telah memberikan manfaat terbesar bagi umat manusia.”
Sejauh ini, memang belum dijumpai orang Indonesia tulen yang secara resmi sukses meraih Penghargaan Nobel. Tercatat, dua orang yang sempat dinominasikan adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Pramoedya Ananta Toer.
Atas pertimbangan panitia yang bersifat rahasia, SBY gagal dan Penghargaan Nobel diberikan kepada mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari yang dianggap memfasilitasi perundingan damai antara RI dengan GAM.
Di satu sisi, walaupun mendulang banyak prestasi di bidang sastra, Pramoedya dinilai gagal akibat penerjemahan karyanya yang kurang bagus serta campur tangan tokoh nasional yang berkuasa waktu itu.
Harus Ada Progres Ekstrem untuk Berbenah
Sekali lagi, Indonesia tidak kekurangan sumber daya, baik dari alam maupun manusianya. Hal yang sebenarnya sepele tetapi krusial: beranikah kita bertransformasi menjadi negara maju? Dalam metafora konseptual, arti “berani” di sini adalah mampu meninggalkan mode usang menuju mode yang lebih visioner dalam bernegara.
Saat “Indonesia Emas 2045” itu tiba—penulis diprediksi berumur paruh baya, penulis menantikan adanya sosok dari kelompok akar rumput dengan “postur tegap” menerima Penghargaan Nobel di depan miliaran pasang mata yang menatap, membuktikan bahwa kita bisa.
Penulis hanya berharap, semoga tidak ada penyesalan yang datang belakangan apabila terus menyia-nyiakan kesempatan dan modal yang sudah Tuhan berikan. Ingatlah, bonus demografi itu punya S&K berlaku serta ada kedaluwarsanya.


