menyelidiki teori technostress beserta relevansinya di indonesia berdasarkan perspektif serial experiments lain - News | Good News From Indonesia 2026

Menyelidiki Teori Technostress beserta Relevansinya di Indonesia Berdasarkan Perspektif “Serial Experiments Lain”

Menyelidiki Teori Technostress beserta Relevansinya di Indonesia Berdasarkan Perspektif “Serial Experiments Lain”
images info

Ilustrasi Artikel | Pexels,MyAnimeList | Rashed Paykary,admin


Semasa penulis masih bocil, ibu dari penulis pernah memperkenalkan game bertema real-time strategy (RTS) yaitu Age of Empires. Apakah Kawan GNFI pernah memainkannya, atau minimal pernah mendengarnya?

Memang, permainan tersebut sudah dikategorikan kelewat jadul, mengingat perilisan pertamanya dilakukan pada 15 Oktober 1997. Yang penulis ingat, ‘perkenalan’ itu terjadi antara tahun 2007 atau 2008, menggunakan perangkat monitor yang terhubung ke CPU—khas penampilan komputer lawas.

Di dalam Age of Empires seri pertamanya, pemain diharuskan membangun peradaban berdasarkan kemajuan zaman. Sumber daya yang diakui kala itu berupa food, wood, stone, dan gold.

Ketika ingin meningkatkan kemutakhiran zaman, maka perlu menyiapkan sumber daya yang dibutuhkan dan sudah harus ada gedung/bangunan yang melambangkan zaman tertentu, seperti Tool Age, Bronze Age, hingga Iron Age.

baca juga

Untuk mengakhiri game, pemain wajib menaklukkan bangsa pesaing, mendirikan Wonder yang merepresentasikan kedigdayaan bangsa itu, maupun mengeklaim serta mempertahankan Ruins atau Artifacts sebelum direbut oleh pihak musuh.

Ilustrasi AoE versi pertama
info gambar

Ilustrasi AoE versi pertama | by Jordan Bevan


Berkaca pada premis game tadi, kini peradaban manusia telah memasuki Digital Age, setuju? Untuk menjadi dominan, mayoritas negara di dunia bertendensi memakai soft power, tidak seperti tempo dulu yang konvensional. Viralitas dan “pencapaian terukur” kerap menjadi standar masyarakat kontemporer guna memperoleh sesuatu, entah itu mengenai validitas, pujian, maupun informasi penting.

Ditinjau dalam data, frekuensi penetrasi internet di Indonesia mengalami peningkatan yang bikin kita melongo. Seturut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang disitat oleh GoodStats (28/5/2026), tingkat penetrasinya sudah mencapai 81,72% pada tahun ini, dengan akumulasi peningkatan sekitar 4,72% sejak 2022 yang berada di angka 77%.

Dikonversikan menurut jumlah populasi, maka pengguna internet per 2026 adalah sebesar 235,26 juta jiwa dari total populasi Indonesia yang mencapai 287,88 juta jiwa.

baca juga

Terkait aplikasi media sosial, laman wearesocial.com (11/11/2025) menyatakan bahwa WhatsApp (90,8%), Instagram (82,4%), Facebook (81,0%), YouTube (80,3%), serta TikTok (78,4%) merupakan platform yang terbilang mendominasi terhadap sarana masyarakat Indonesia bersosialisasi hingga menyuarakan aspirasi.

Yang membagongkan, para pengguna diketahui menghabiskan waktu sekitar 21 jam 50 menit per minggu di media sosial, termasuk menonton video daring—sama halnya lebih dari 3 jam setiap hari!

Adapun waktu mereka tersebar pada kurang-lebih 7 sampai 8 platform setiap bulan, menunjukkan karakteristik ekosistem sosial Indonesia yang cukup terfragmentasi tetapi sangat aktif. Menariknya, sekitar 56,3% pengguna media sosial adalah kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya 43,7% secara representatif.

Ini konsisten membuktikan bahwa masyarakat memang telah melek digital, terlepas dari dampak yang diterima setiap individunya.

baca juga

Serial Experiments Lain Sukses Melukiskan Teori Technostress yang Terasa Relevan Hari Ini

Belakangan ini, penulis sedang mencari variasi anime bertemakan psychological. Ternyata, ada satu judul anime bergaya retro futuristik yang meramalkan konstelasi hidup manusia jika bersanding dengan jejaring internet. Anime Serial Experiments Lain dikategorikan sebagai tayangan avant-garde: tipe film yang suka menolak struktur naratif tradisional, mengeksplorasi konsep-konsep abstrak, serta mendorong keluar batas toleran terhadap norma atau status quo dalam belantika perfilman.

Cerita anime ini ditulis oleh Chiaki J. Konaka, merupakan karya orisinal (original animation), divisualisasikan oleh Triangle Staff dengan sutradara bernama Nakamura Ryuutarou, dan diketahui tayang pada 6 Juli sampai 28 September 1998 sebanyak 13 episode.

Bahkan kabarnya, serial anime berikut menjadi bahan diskusi populer di kalangan akademisi saking substansi yang disuguhkan terasa begitu nyata dan mengena.

Serial Experiments Lain mengisahkan satu keluarga medioker yang hidup dalam nuansa gemerlapnya masyarakat metropolis. Tokoh utama pada anime ini adalah Iwakura Lain, anak dari Iwakura Yasuo dan saudara kandungnya Iwakura Mika.

baca juga

Perlu diketahui, Yasuo adalah sosok yang terobsesi pada komputer dan segala yang berkaitan dengan itu. Pada awalnya, Lain tidak seperti bapaknya. Ia justru mengaku dirinya tidak cakap mengoperasikan komputer dan aplikasi yang tersedia secara default.

Sampai suatu hari, Lain merengek ke Yasuo ingin dibelikan semacam perangkat komputer canggih dengan operating system (OS) edisi terbaru bernama NAVI. Ia menghendaki itu supaya dapat berinteraksi lebih intens bersama “entitas jaringan” yang terkait dengan spam email dari Yomoda Chisa, sosok murid satu sekolahnya Lain yang bunuh diri, diduga kuat akibat pengaruh negatif dari digitalisasi. Kemudian, bapaknya Lain mengabulkan permintaan anaknya ini.

Lain sedang Mengoperasikan Komputernya
info gambar

Lain dan Komputernya | Dokumentasi Pribadi


Lebih lanjut, sejak Lain memperoleh chip ‘aneh’ yang disebut Psyche entah dari siapa itu, ketakutannya akan komputer dan internet perlahan berganti menjadi obsesi yang bahkan jauh melampaui bapaknya sendiri.

Memasuki pertengahan cerita, Lain terindikasi makin terikat dengan The Wired, jejaring internet yang eksis dalam dunianya. Ia bahkan tampak punya gejala khas sosiopat—susah membedakan antara dunia nyata dan maya.

baca juga

Di penghujung cerita, penulis secara pribadi masih bingung: apakah Lain adalah manusia sungguhan, atau entitas jaringan itu sendiri yang memanipulasi atribut kepribadiannya selama masih hidup di dunia dan menebar teror kepada siapapun yang mengenalnya?

Pembahasan dan Imbauan

Barangkali teori/konsep ini terdengar masih asing di telinga kita. Namun, para pakar internasional sudah coba memetakannya secara ilmiah. Technostress merupakan terminologi teknologi yang sarat akan kerugian yang dialami manusia selama proses penggunaan itu terjadi.

Wujud Technostress sendiri bisa bermacam-macam tergantung jenis kerugiannya, seperti kecemasan, kelelahan, skeptisisme, inkompetensi pengoperasian, pemanfaatan yang berlebihan serta kompulsif, sampai yang dikorelasikan dengan gangguan mental. Kawan pasti tahu bentuk konkret yang dekat dengan kita, bukan? Paling tidak, Lain sudah melukiskannya untuk kita.

Sebagai pengamat teknologi dari kalangan sipil, penulis menilai bahwa segala arus informasi berikut teknologi pengarsipannya kini sudah mustahil untuk ditangkal dan/atau dibendung.

baca juga

Seperti opini yang pernah penulis buat sebelumnya, selain tentang adab dan empati, sekarang kebijaksanaan juga harus berperan terhadap pengoperasian teknologi.

Bagi kawula muda, penulis mengajak kalian untuk belajar mengonsultasikan unek-unek atau kegelisahan perihal penggunaan teknologi jika itu telah menjadi beban psikologis, giat menciptakan jalinan pertemanan yang nyata dan bukan melalui platform digital belaka, serta terapkan aspek mindfulness yang sekiranya berdampak baik untuk semua pihak.

Bagi Kawan yang sudah jadi orang tua, penulis merekomendasikan agar bisa meneladani anak untuk berinternet secara sehat dan bertanggung jawab, membangun semangat dalam mempelajari tools teknologi yang kian canggih supaya tidak dipandang sebelah mata oleh yang muda, serta tekankan kontrol data mengenai privasi diri sehingga tidak akan disalahgunakan oleh oknum tertentu.

Dari sini, internet—ditambah dengan AI—menunjukkan dua kutub yang berbeda kepada kita, yaitu dunia Solarpunk yang diidamkan banyak orang dan dunia Cyberpunk yang sedapat mungkin digugurkan kehadirannya. Yang jadi pertanyaan: kita sebagai manusia mau berjalan ke mana?

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.