tokoh militer indonesia pencipta strategi perang gerilya - News | Good News From Indonesia 2026

Tokoh Militer Indonesia Pencipta Strategi Perang Gerilya

Tokoh Militer Indonesia Pencipta Strategi Perang Gerilya
images info

Abdul Haris Nasution (Wikipedia)


Perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dipenuhi oleh kisah-kisah heroik para tokoh militer. Di antara deretan nama besar tersebut, terdapat satu sosok ahli strategi jenius yang diakui dunia, yakni Jenderal Besar, Abdul Haris Nasution.

Tokoh ini sangat dikenal luas sebagai peletak dasar taktik perang gerilya di Indonesia. Strategi kecerdasan militer yang dirancangnya berhasil membuat pasukan penjajah kewalahan dalam menghadapi perlawanan para pejuang republik pada masa revolusi fisik.

Menelusuri Masa Kecil dan Akar Pendidikan Sang Jenderal

Kisah hidup Jenderal A.H. Nasution bermula dari daerah yang berlokasi di Mandailing, Kotanopan, Provinsi Sumatera Utara. Dikutip dari laman Tempo.co artikel berjudul "Jenderal Besar AH Nasution Konseptor Taktik Perang Gerilya yang Lolos dari G30S", tokoh pahlawan nasional ini lahir ke dunia pada tanggal 3 Desember 1918.

Latar belakang keluarganya terbilang sederhana, tetapi penuh kerja keras. Ayahnya yang bernama H. Abdul Halim Nasution merupakan seorang pedagang yang menjual kelontong, tekstil, dan juga berprofesi sebagai pengumpul komoditas karet serta kopi di wilayah sekitarnya.

baca juga

Sang ayah kerap membawa barang dagangannya berkeliling ke berbagai daerah hingga mencapai kawasan Bukit Tinggi, Padang Sidempuan, dan Sibolga.

Pengalaman sering diajak berdagang menyusuri berbagai wilayah tersebut rupanya menanamkan rasa antusias dan kesenangan tersendiri di dalam jiwa sang anak. Sementara itu, ibundanya diketahui bernama Hj. Zahara Lubis.

Ketertarikan pada dunia pendidikan mulai terlihat sejak menempuh pendidikan dasar di sebuah sekolah berbahasa Belanda, yakni HIS (Hollands Inlandse Kweekschool) di Kotanopan. Perjalanan akademis berlanjut ke Sekolah Raja HIK di Bukittinggi, sebuah institusi yang pada masa itu lebih dikenal luas sebagai sekolah pencetak guru.

Di lingkungan pendidikan berasrama inilah karakter kedisiplinan dan kemandirian mulai terbentuk dengan sangat kuat. Para siswa diwajibkan menetap di asrama dengan aturan kehidupan kelompok yang memiliki tingkat kedisiplinan tinggi, sebuah transisi besar dari gaya kehidupan sebelumnya di desa asalnya.

baca juga

Pada tahun 1935, langkah pendidikannya berlanjut ke kota Bandung, bergabung bersama puluhan siswa lain dari berbagai daerah di Nusantara seperti Blitar dan Yogyakarta. Menariknya, sebelum mengenakan seragam kebanggaan militer, karier profesional yang ditekuni pertama kali justru berada di bidang pengajaran.

Profesi sebagai seorang guru dijalani di daerah Bengkulu dengan bayaran sebesar 50 Gulden setiap bulannya. Kehidupan kala itu dijalani dengan sangat sederhana namun segala kebutuhan hidup sehari-hari tetap tercukupi dengan baik.

Karier di dunia pendidikan semakin bersinar manakala sebuah lowongan pekerjaan membawa langkahnya ke wilayah Muara Dua, Palembang, Sumatra Selatan guna mengabdi sebagai kepala sekolah.

Memasuki Dunia Militer dan Kehidupan Keluarga

Pemerintah kolonial Belanda membuka pendaftaran terbuka bagi kalangan pemuda Indonesia untuk bergabung ke dalam sekolah perwira cadangan yang dinamakan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO).

baca juga

Bermodalkan bekal ijazah pendidikan AMS yang pernah ditempuh sebelumnya, seleksi CORO di kota Palembang berhasil diikuti dan akhirnya dinyatakan lulus secara resmi.

Segera setelah berita kelulusan tersebut, pelayaran menuju pulau Jawa, tepatnya ke kota Bandung, segera dilakukan demi memulai babak baru kehidupan keras di barak asrama taruna militer.

Meskipun pada awalnya sempat merasa terkejut dengan rutinitas baris-berbaris yang sangat padat merayap sejak pagi, siang, hingga sore hari, kegiatan kemiliteran ini justru sangat disenangi.

Semua bentuk latihan fisik yang berat tersebut dianggap sebagai wujud tanggung jawab guna menyelesaikan panggilan hati untuk menguasai ilmu strategi kemiliteran. Dedikasi tinggi tersebut membuahkan hasil luar biasa cepat pada karir militernya.

baca juga

Pada bulan September di tahun yang sama, pangkat kemiliteran naik menjadi Kopral, dan hanya dalam jeda waktu singkat selama tiga bulan berikutnya, kenaikan pangkat kembali didapatkan menjadi seorang Sersan.

Beralih ke ranah kehidupan pribadi, masa lajang resmi diakhiri saat menduduki jabatan mentereng sebagai Panglima Divisi Siliwangi pada tahun 1947. Prosesi pertunangan dengan sosok Johana Sunarti, yang merupakan putri dari Gondokoesoemo, dilangsungkan dengan khidmat pada tanggal 17 Februari 1947.

Momen suci pernikahan kemudian digelar pada tanggal 30 Mei 1947 bertempat di daerah sejuk Ciwidey. Dari pernikahan bersejarah ini, lahirlah dua orang putri yang diberi nama Hendrianti Shara Nasution dan Ade Irma Nasution.

Sebuah peristiwa tragis memilukan kemudian harus dialami keluarga jenderal, di mana putri bungsunya, Ade Irma Nasution, harus gugur mendahului orang tuanya akibat terkena tembakan dalam insiden berdarah G30S.

baca juga

Jenderal A.H. Nasution sendiri akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit Jakarta pada tanggal 6 September 2000 saat menginjak usia 82 tahun.

Taktik Perang Gerilya, Strategi Jenius di Tengah Keterbatasan Senjata Militer

Kecemerlangan analisis serta taktik pertempuran dari tokoh pahlawan ini terlihat dengan sangat nyata ketika peristiwa Agresi Militer Belanda II meletus dengan ganasnya pada tahun 1948.

Pada rentang masa krisis tersebut, ibu kota Yogyakarta menjadi pusat gempuran pasukan udara dan darat kolonial. Memegang amanah besar sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Djawa (PTTD), analisis tajam mengenai peta kekuatan lawan di medan pertempuran segera dilakukan.

Disadari sepenuhnya bahwa pasukan militer Belanda yang turun menyerang memiliki keunggulan mutlak dari segi logistik dan persenjataan militer modern.

baca juga

Kekuatan musuh sangat mustahil untuk ditahan jika para pejuang hanya bersandar pada strategi pertempuran konvensional ataupun bentrokan senjata secara berhadap-hadapan di medan terbuka.

Guna mengatasi jurang ketimpangan kekuatan tempur ini, sebuah konsep perlawanan brilian yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat dunia sebagai Taktik Perang Gerilya resmi diciptakan serta diimplementasikan.Β 

Taktik tempur gerilya ini mengedepankan strategi pergerakan lincah dengan tujuan memperlambat pergerakan maju pasukan militer Belanda melalui gangguan-gangguan serangan kilat yang sporadis.

Di samping itu, taktik pembumihangusan seluruh fasilitas-fasilitas krusial (bumi hangus) juga diterapkan secara merata agar segala infrastruktur tidak dapat dimanfaatkan kembali oleh pihak musuh.

baca juga

Berlandaskan cetak biru strategi jenius ini, instruksi mendesak langsung diturunkan untuk segera mengungsikan sebanyak mungkin kekuatan prajurit, perlengkapan persenjataan, peralatan logistik militer, serta mengevakuasi perlindungan masyarakat sipil menuju titik-titik kantong pertahanan tersembunyi jauh di wilayah pedalaman.

Sistem perlawanan militer bawah tanah ini kemudian dilembagakan melalui pembentukan wilayah-wilayah pertahanan militer terpadu yang dinamakan Wehrkreise.

Penggunaan konsep sistematis pertahananΒ Wehrkreise ini pada akhirnya memungkinkan pasukan kemerdekaan republik untuk bertahan kokoh dari bombardir amunisi berat musuh, melancarkan skema serangan mendadak untuk merusak barisan pertahanan lawan, lalu dengan sigap berbaur menyamarkan diri kembali bersama para penduduk setempat di wilayah sekitarnya.

Taktik menyatu bagai air dengan lingkungan ini terbukti ampuh membuat pergerakan pejuang sangat sulit dilacak, dideteksi, apalagi ditaklukkan oleh serdadu Belanda yang jumlah peralatan senjatanya jauh lebih mutakhir dan mendominasi.Β 

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.