Jika mendengar Pulau Seram, Maluku, mungkin yang langsung teringat adalah Pantai Ora dan lautnya yang jernih. Padahal di Teluk Saleman, Seram Utara, ada tebing yang menyimpan gambar buatan manusia prasejarah, mulai dari cap tangan, perahu, hingga sosok manusia memegang perisai.
Gambar ini dikenal sebagai lukisan cadas, dan menyimpan cerita tentang kehidupan orang Maluku di masa lampau.
Apa itu Lukisan Cadas?
Lukisan cadas atau seni cadas adalah gambar yang dibuat manusia prasejarah di permukaan batuan keras, seperti dinding gua, ceruk, dan tebing.
Menurut arkeolog Marlon Ririmasse dalam Jurnal Kapata Arkeologi (2007), bentuknya bisa berupa lukisan cadas sendiri bisa berupa lukisan (painting) dengan pewarna tertentu, goresan (engraving), atau pahatan (carving).
Di Indonesia, motifnya biasanya cap tangan, sosok manusia, hewan, perahu, dan garis geometris. Sebarannya paling banyak di wilayah timur Indonesia, mulai dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, sampai Papua.
Seni cadas prasejarah memang menarik minat banyak orang di berbagai belahan dunia, mulai dari peneliti sampai penggemar seni dan budaya.
Empat Situs di Maluku
Ririmasse mencatat Maluku punya setidaknya empat situs lukisan cadas. Dua diantaranya ada di Pulau Seram, yaitu Teluk Saleman di Seram Bagian Utara dan sekitar Sungai Tala du Seram Bagian Barat.
Dua lainnya berada di Wamkana, Pulau Buru, dan Dudumahan, Kei Kecil. Di antara keempatnya, Dudumahan paling sering diteliti. Menurut Ririmasse, hal itu wajar karena lokasinya dekat Tual dan mudah dijangkau.
Awal Penemuan di Teluk Saleman
Lukisan cadas di Seram pertama kali dicatat oleh Josef RΓΆder, peneliti asal Jerman yang ikut dalam ekspedisi Frobenius pada 1937 sampai 1938.
Di Teluk Saleman, RΓΆder menemukan motif:
- manusia yang memegang perisai di tangan kirinya
- cap tangan
- hewan seperti kadal dan burung
- matahari
- dan perahu
Setelah itu, situs ini jarang diteliti. Hingga 2007, Ririmasse mencatat belum ada penelitian ulang di Teluk Saleman sejak masa RΓΆder, atau sekitar tujuh puluh tahun. Usia lukisannya pun belum bisa dipastikan karena penanggalan masih perlu diteliti.
Apa Makna Lukisannya?
Banyak peneliti mengaitkan lukisan cadas Maluku dengan hal magis dan religius. Ririmasse mengingatkan bahwa penafsiran ini masih berupa dugaan awal, sehingga kajian etnografi yang lebih mendalam masih dibutuhkan. Dari sisi sosial budaya, peneliti Lucas Wattimena (2014) melihat lukisan cadas Maluku sebagai simbol yang memuat makna identitas, peradaban, dan keberagaman. Nilai yang terkandung di dalamnya meliputi kekerabatan, religi, pengelompokan, pengetahuan, hingga cara bertahan hidup.
Menurut pemandu wisata setempat, gambar di tebing karst ini dulu berfungsi seperti catatan visual tentang perjalanan antarpulau, cara bertahan hidup, hingga batas wilayah tinggal.
Tantangan Pelestarian
Kawasan ini kini dikenal sebagai tujuan wisata. Desa Saleman menawarkan tiga paket wisata pantai, yaitu Pantai Ora, Pantai Air Belanda, dan Pantai Tebing Hatupia. Hatupia sendiri asal namanya dari Hatu yang berarti batu dan Pia yang berarti sagu.
Meski begitu, dokumentasi detail lukisan di Saleman yang tersedia untuk publik masih sangat terbatas. Foto yang beredar umumnya hanya memperlihatkan tebing Hatupia dari kejauhan karena lukisannya dilihar dari atas perahu.
Jika dilihat dari perahu, lukisan cadas di Saleman berwarna putih. Hingga kini, material pewarnanya masih belum diketahui.
Pemandu setempat juga menyebut bahwa lokasi di pesisir, terpaan cuaca, dan iklim laut membuat lukisan ini mudah luntur.


