Sebagian orang berpendapat bahwa Purworejo itu hanyalah kota yang panasnya bikin badan lengket, sedikit wisata, penuh sawah, pantai yang tidak menarik, dan tidak punya mall. Meski banyak pendapat yang mengatakan seperti itu, perlu diketahui bahwa di pesisir selatannya, hawa panas menyegat itu justru dimanfaatkan warga untuk sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan.
Namanya Pantai Jetis, pantai ini cenderung underrated. Mayoritas orang lebih memilih ke pantai yang berpasir putih bersih meski jaraknya jauh. Di pantai tersebut ada wisata terapi garam yang diam-diam punya banyak peminat. Siapa sangka, tempat sesederhana itu menyimpan wisata unik dan menarik yang jarang orang ketahui.
Lokasi Terapi Garam Pantai Jetis
Pantai Jetis berada di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, sekitar 23 kilometer ke arah selatan dari Alun-alun Purworejo. Letaknya memang cukup jauh dari pusat kota, sehingga tak banyak yang mengira ada wisata kesehatan unik di sana. Namanya pun belum setenar pantai berpasir putih di daerah lain.
Banyak anggapan bahwa pasirnya hitam kasar, ombaknya besar, dan tempatnya kurang bersih. Cerita tentang Nyi Roro Kidul juga membuat sebagian orang ragu mampir kesana. Kesan pertama sering menipu, padahal, pasir hitam di sini terasa lembut dan lumayan bersih.

Tunnel plastik (terowongan) khusus terapi garam di Pantai Jetis Purworejo | Foto: Dok. Pribadi
Tak jauh dari bibir pantai, berjajar tambang garam milik warga. Mereka memanfaatkan terik matahari khas pesisir untuk mengubah air laut menjadi garam. Di sekitarnya berdiri tempat terapi garam yang dikelola Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Pendowo Limo.
Melansir dari dokumen Potensi Terapi Garam di Pantai Jetis (Bintoro, 2022) yang diarsipkan independen di Scribd, Kugar dibentuk lima petani tambak udang yang usahanya terpuruk saat pandemi Covid-19. Mereka bangkit dengan mengolah garam, lalu membuka terapi garam atas saran pemerintah kabupaten. Dari situlah usaha garam dan terapi tumbuh pelan-pelan.
Sensasi Sauna dengan Uap Alami
Terapi itu dilakukan di dalam tunnel atau terowongan berbahan plastik putih bening. Uap panas dari proses pengkristalan garam di dalamnya itulah yang dinikmati pengunjung. Panjang terowongannya sekitar 19 meter dengan lebar 3,5 meter, cukup untuk belasan hingga sekitar 20 orang sekaligus.
Pengunjung tinggal melepas alas kaki, lalu menikmati hawa hangat yang ada di dalamnya. Karena suhu bisa mencapai 40 sampai 47 derajat Celsius, Ketua Kugar Pendowo Limo, Marsino, mengingatkan soal durasi. Pengelola menyarankan datang pukul 09.00 sampai 12.00 WIB.
βSebaiknya terapinya hanya 15 menit saja, biar nggak dehidrasi karena terlalu lama di dalam,β ujar Marsino.

Gambaran di dalam tunnel terapi garam Pantai Jetis Purworejo | Foto: Screenshoot Youtube Metro TV Jateng-DIY
Banyak pengunjung datang untuk meredakan pegal, mengeluarkan toksin atau racun, gangguan pernapasan, masalah kulit, hingga sulit tidur. Keluhan-keluhan itu memang akrab dialami banyak orang Indonesia.
βSepemahaman saya, terapi garam itu bisa buat mengeluarkan banyak keringat karena saat di dalam sauna harus banyak gerak. Jadi, bisa ngeluarin racun di tubuh sama bisa lemesin otot,β ungkap salah satu pengunjung.
Pengelola juga menyebut uap garam membantu melancarkan peredaran darah, melemaskan otot, menjaga kesehatan pernapasan, mengatasi masalah kulit gatal, kurangi pembengkakan, serta meredakan stress lewat kandungan ion negatif pada partikel garam yang ada.
Terkait manfaatnya untuk saluran pernapasan, studi Anita A. Wasik dan rekan di PubMed (2021) menyebut terapi garam efektif meredakan gejala sinusitis, bronkitis kronis, dan asma ringan hingga sedang. Studi itu memakai ruangan terkontrol, jadi hasilnya belum tentu sama dengan di Jetis. Terapi garam lebih pas dianggap pelengkap, dan pengunjung dengan penyakit berat sebaiknya bertanya dulu kepada dokter.
Garam Jetis Peluang Ekonomi Warga
Garam Jetis punya kualitas yang menjanjikan. Berdasarkan uji laboratorium Sucofindo yang diulas tvOneNews, kadar natrium klorida garamnya mencapai 97,49%. Menurut informasi dari beberapa sumber, garam konsumsinya pun sudah mengantongi sertifikat BPOM. Hasil uji itu menjadi bekal kuat bagi produk lokal untuk bersaing.
Peminatnya terus bertambah. Marsino bahkan menyebut jumlah tunnel yang semula hanya sembilan unit kini menjadi 38 unit.
βSetiap hari puluhan orang dari sekitar sini bahkan luar provinsi datang untuk terapi,β katanya dalam rilis Indonesiana.id.
Tarifnya sangatlah terjangkau dan merakyat. Bahkan untuk parkir saja tidak di pungut biaya, hanya saja terkadang tetap butuh membayar tiket masuk area pantai. Pengelola menerima upah seikhlasnya lewat kotak sukarela, sedangkan bitern atau cairan sisa kristalisasi dijual sebagai oleh-oleh khas pesisir.
Pemerintah pun ikut melirik. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, Tejo Harwanto, menyupervisi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Jetis.
βPeran Kementerian Hukum dan HAM khususnya di Divisi Pelayanan Hukum dan HAM terus mendorong pendaftaran Indikasi Geografis agar kekayaan alam ini dapat berdampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat,β tuturnya.
Dorongan itu diharapkan membuat Terapi Garam Jetis lebih dikenal dan terlindungi. Peluangnya juga masih terbuka sangat lebar. Melalui platform Scribd, dokumen Terapi Garam di Purworejo (Aminuddin, 2022), mencatat ada perusahaan garam dari Jakarta yang siap menampung 100 ton per bulan, sementara produksi Kugar baru sekitar 4 ton.
Kalau kapasitas ditambah dan pengelolaan dibenahi, penghasilan warga bisa ikut naik. Tempat terapi buka setiap hari (kecuali Jumat) pukul 08.00 sampai 14.00 WIB. Jadi, untuk Kawan yang kebetulan lagi main ke daerah Purworejo, jangan lupa mampir ya. Jangan khawatir bosan, karena disana tersedia saung yang nyaman untuk sekedar nongkrong ataupun melepas penat.

