Perubahan tutupan lahan di Dusun Kepuh, Klaurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terekam dalam rentang waktu hampir dua dekade.
Melalui analisis citra satelit Landsat yang dikembangkan menjadi media informasi dalam program MERAPI VISION (Merapi Visualization of Land Cover Change for Public Education), perubahan kondisi vegetasi sebelum dan setelah erupsi Gunung Merapi ditampilkan melalui papan infografis di kawasan wisata Sela Maruta.
Program tersebut merupakan program kerja salah satu mahasiswa Matematika dari tim KKNM 30666 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Clarissa Yaffa Devinta.Β
Papan infografis tersebut menyajikan perbandingan tutupan lahan pada lima tahun pengamatan, yaitu 2006, 2011, 2013, 2018, dan 2025. Tahun 2006 digunakan sebagai gambaran kondisi sebelum erupsi, ketika tutupan vegetasi mencapai 88,26% atau sekitar 204,75 hektare.
Kondisi tersebut menjadi titik pembanding untuk melihat perubahan lingkungan setelah Gunung Merapi mengalami erupsi pada akhir 2010.Β
Perubahan paling besar terlihat pada 2011. Awan panas dan material vulkanik yang tebal menyebabkan kawasan vegetasi mengalami penurunan. Hasil analisis menunjukkan tutupan vegetasi pada tahun 2011 menjadi 67,19% atau sekitar 155,87 hektare, sementara area nonvegetasi mencapai 32,81% atau sekitar 76,11 hektare. Dibandingkan 2006, luas vegetasi berkurang sekitar 48,88 hektare.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi tutupan lahan setelah terdampak erupsi.Β
Kondisi vegetasi kemudian menunjukkan perkembangan pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2013, tutupan vegetasi meningkat menjadi 84,59% atau sekitar 196,24 hektare, sedangkan area nonvegetasi turun menjadi 15,41% atau sekitar 35,74 hektare.
Infografis mencatat adanya pertumbuhan tanaman pada lahan berpasir akibat material vulkanik. Perkembangan tersebut berlanjut pada 2018, ketika tutupan vegetasi mencapai 89,17% atau sekitar 206,85 hektare, dengan area nonvegetasi sebesar 10,83% atau sekitar 25,13 hektare.Β
Pada 2025, perubahan tersebut terlihat semakin jelas. Tutupan vegetasi tercatat mencapai 97,10% atau sekitar 225,24 hektare, sedangkan area nonvegetasi tersisa 2,90% atau sekitar 6,74 hektare. Jika dibandingkan dengan 2011, luas vegetasi bertambah sekitar 69,37 hektare. Sementara itu, luas area nonvegetasi berkurang sekitar 69,37 hektare.
Dengan demikian, data lima tahun pengamatan tersebut memperlihatkan perubahan tutupan lahan dari kondisi sebelum erupsi, penurunan setelah erupsi, hingga perkembangan vegetasi pada tahun-tahun berikutnya.Β

Foto: Google Earth Pro
Untuk memperoleh gambaran tersebut, analisis dilakukan dengan memanfaatkan data citra satelit Landsat. Data tutupan lahan kemudian diolah dan dikembangkan menggunakan bahasa Python yang dibuat untuk menyajikan hasil analisis secara lebih terstruktur.
Salah satu hasil pengolahan tersebut berupa tabel perubahan multi-tahun yang memuat luas vegetasi, luas nonvegetasi, serta persentasenya pada setiap tahun pengamatan.
Hasil pengolahan tersebut selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan infografis agar informasi spasial dapat dipahami oleh warga dan pengunjung.Β

Dokumentasi Pribadi
Penyampaian informasi dilakukan melalui papan yang dipasang secara permanen di kawasan wisata Sela Maruta. Proses pemasangan berlangsung sekitar tiga jam dan mencakup pengurusan izin, penyiapan papan informasi, hingga pemasangan di lokasi.
Kehadiran media tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenali perubahan lingkungan di kawasan sekitar melalui data yang disajikan secara visual dan kronologis, tanpa harus membaca hasil analisis spasial yang bersifat teknis.
Selain menjadi informasi mengenai perubahan lingkungan, data tutupan lahan dapat memberikan gambaran awal bagi pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Kondisi tutupan vegetasi yang tercatat pada 2025 dapat menjadi informasi dalam melihat potensi kawasan untuk pengembangan agroforestri dan ekowisata.
Di sisi lain, keberadaan area nonvegetasi yang tersisa juga dapat diperhatikan dalam perencanaan infrastruktur desa dan jalur evakuasi.
Penyajian informasi perubahan tutupan lahan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-15, Ekosistem Daratan (Life on Land), yang berkaitan dengan upaya menjaga dan mengelola ekosistem daratan secara berkelanjutan.
Melalui MERAPI VISION, mahasiswa KKN UNY turut membawa hasil pengolahan data lingkungan ke ruang publik. Harapannya, informasi mengenai perubahan tutupan lahan Dusun Kepuh tidak berhenti sebagai data, tetapi dapat membantu warga dan pengunjung mengenali dinamika lingkungan di kawasan Gunung Merapi dari waktu ke waktu.


