Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program KKN melaksanakan kegiatan pendampingan pencatatan keuangan sederhana bagi pelaku UMKM terpilih di Desa Kepuharjo, Yogyakarta, pada Senin, 22 September 2026.
Aktivitas ini merupakan bagian dari program kerja individu mahasiswa KKN UNY yang bertujuan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan.
Kegiatan pendampingan menyasar 4 pelaku UMKM terpilih di Desa Kepuharjo yang bergerak di bidang kuliner dan perdagangan, meliputi warung makan, toko kelontong, dan usaha minuman.
Pemilihan sasaran kegiatan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pelaku usaha terhadap pencatatan keuangan yang sederhana dan mudah diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Mahasiswa KKN UNY dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, melakukan kunjungan langsung atau door-to-door ke masing-masing lokasi usaha. Pendekatan ini dilakukan agar pendampingan dapat berlangsung secara lebih dekat dan menyesuaikan dengan kondisi serta aktivitas masing-masing pelaku UMKM.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyerahkan buku kas harian yang telah dirancang menggunakan template sederhana sehingga dapat digunakan oleh pelaku usaha tanpa memerlukan pengetahuan akuntansi secara khusus.
Buku kas harian tersebut memuat beberapa kolom utama, yaitu tanggal, keterangan, pemasukan, pengeluaran, dan saldo harian. Dengan format tersebut, pelaku UMKM dapat mencatat transaksi yang terjadi selama kegiatan usaha secara lebih terstruktur.
Selain menyerahkan buku kas, mahasiswa juga memberikan pendampingan secara langsung mengenai cara mengisi setiap kolom yang tersedia.
Penjelasan dilakukan menggunakan contoh transaksi dan angka nyata dari masing-masing usaha agar pemilik UMKM dapat memahami cara pencatatan dengan lebih mudah dan sesuai dengan kondisi usahanya.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada minggu pertama pelaksanaan KKN, sebagian besar pelaku UMKM sasaran belum memiliki kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran usaha secara rutin.
Aktivitas transaksi sehari-hari umumnya masih mengandalkan ingatan atau pencatatan yang belum terstruktur. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pelaku usaha dalam mengetahui kondisi keuangan usahanya secara lebih akurat.
Selain itu, keuangan usaha dan keuangan pribadi masih tercampur. Pemisahan antara uang yang digunakan untuk kebutuhan usaha dan uang untuk kebutuhan pribadi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan UMKM.
Tanpa pencatatan yang teratur, pemilik usaha dapat mengalami kesulitan dalam mengetahui jumlah pemasukan, pengeluaran, maupun saldo yang sebenarnya tersedia untuk kegiatan usaha.
Melalui kegiatan pendampingan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan buku kas sebagai media pencatatan, tetapi juga mendorong pelaku UMKM untuk mulai membangun kebiasaan mencatat transaksi secara mandiri.
Pendampingan dilakukan dengan memberikan penjelasan secara sederhana dan langsung mempraktikkan pengisian buku kas berdasarkan kegiatan usaha masing-masing.
Dengan demikian, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya memahami fungsi buku kas, tetapi juga mampu melanjutkan penggunaannya setelah kegiatan pendampingan selesai.
Seluruh pemilik UMKM sasaran menunjukkan antusiasme dan kesiapan untuk mulai menerapkan pencatatan keuangan secara mandiri. Respons tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap sistem pencatatan keuangan sederhana masih cukup relevan bagi pelaku usaha mikro di tingkat desa.
Format buku kas yang sederhana juga diharapkan dapat memudahkan pelaku usaha untuk menerapkannya secara konsisten tanpa mengganggu aktivitas utama dalam menjalankan usaha.
Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kapasitas pelaku usaha mikro dalam mengelola keuangan sebagai salah satu fondasi pertumbuhan usaha.
Kemampuan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara teratur dapat membantu pelaku UMKM memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keuangan usahanya serta mendukung pengelolaan usaha yang lebih terstruktur.
Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui pemerataan akses pengetahuan mengenai pencatatan keuangan bagi pelaku usaha mikro di pedesaan yang selama ini belum memperoleh pendampingan secara optimal.
Pendampingan secara langsung dan door-to-door memungkinkan materi disampaikan sesuai kebutuhan masing-masing pelaku UMKM. Dengan demikian, pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dapat lebih mudah diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Program pendampingan ini diharapkan tidak berhenti pada saat kegiatan KKN selesai. Mahasiswa KKN UNY berharap kebiasaan pencatatan keuangan yang telah dirintis dapat terus diterapkan secara konsisten oleh pelaku UMKM di Desa Kepuharjo.
Pencatatan yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan usaha yang lebih terstruktur, membantu pemilik usaha memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi, serta memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan keuangan usaha.
Dalam jangka panjang, pencatatan keuangan yang lebih tertib juga diharapkan dapat membantu pelaku UMKM dalam mengevaluasi kegiatan usahanya dan mempertimbangkan kebutuhan pengembangan usaha.
Data transaksi yang tercatat dengan baik dapat menjadi informasi pendukung ketika pemilik usaha ingin merencanakan pengeluaran, mengelola pemasukan, maupun mengembangkan skala usahanya.
Melalui program sederhana ini, mahasiswa KKN UNY berupaya memberikan pendampingan yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM.
Penerapan pencatatan keuangan sederhana diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha sekaligus mendukung penguatan ekonomi lokal di Desa Kepuharjo.


