Gerakan gotong royong swadaya masyarakat datang dari Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME). Organisasi Pemuda ini membangun 59 unit rumah gratis untuk masyarakat Indonesia yang membutuhkan dan masih tinggal di RTLH (Rumah Tidak Layak Huni). 59 rumah gratis ini dibangun untuk mensyukuri Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang.
Program ini dimulai pada tanggal 21 September 2026 lalu, ditandai dengan peletakan batu pertama, dan ditargetkan untuk selesai sebelum tanggal 28 Oktober 2026.
Menurut data yang dihimpun dari media resmi OPSHID yaitu OPSHID Media, 59 penerima Rumah Syukur sudah terdata. Tersebar di 50 kabupaten/kota di 12 provinsi, dari Lampung sampai Kalimantan.
Jawa Timur menjadi wilayah dengan penerima unit terbanyak, yaitu 27 rumah, disusul Jawa Tengah dengan 13 rumah. Jombang paling banyak dengan 5 unit, lalu Malang 3 unit, serta Bojonegoro dan Sleman masing-masing 2 unit.
Usia penerimanya adalah 20 sampai 74 tahun. Sebagian besar bekerja serabutan, sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau asisten rumah tangga. Banyak juga penerima perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal suami. Ada rumah yang sudah lapuk dan hampir roboh, ada juga yang tidak pernah direnovasi sejak 1991.
Semua rumah ini dibangun mandiri oleh OPSHID. Bukan sekadar perbaikan dinding biasa, standar bangunannya rata-rata kokoh berukuran tipe 36. Proses diawali dari survey rumah-rumah yang akan dibangun, pembongkaran rumah lama, dan pembangunan rumah baru.
Menariknya lagi, rumah diserahkan dalam kondisi siap huni lengkap dengan instalasi air, instalasi listrik, perabotan dasar (seperti kasur dan lemari), bahkan terkadang dibantu dengan pemberian modal usaha atau tanah.
Mulai 0% hingga 100% siap huni, dilakukan berdasarkan gotong royong bersama. Semua biaya pembangunan serta konsumsi selama proses pembangunan ditanggung oleh OPSHID, tanpa membebankan sepeserpun biaya pada penerimanya.
Tidak hanya pada tahun 2026 ini saja, program Rumah Syukur ini telah dijalankan oleh OPSHID sejak tahun 2008. Total akumulasi rumah yang dibangun OPSHID yaitu 511 rumah gratis (termasuk rumah yang sedang dibangun di tahun 2026).
Mengapa yang Diberikan adalah Rumah?
Rumah gratis yang dibangun OPSHID kurang lebih memakan biaya 150 juta rupiah, mulai material, konsumsi, hingga operasional. Tak jarang muncul pertanyaan: apabila OPSHID mampu menyediakan biaya 150 juta rupiah untuk diberikan pada masyarakat kurang mampu, mengapa diberikan dalam bentuk rumah? Kenapa tidak sembako, uang tunai, atau lainnya?
Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Hunian yang layak dapat memenuhi kebutuhan fisiologis seperti kenyamanan untuk tidur dan berkegiatan, serta kebutuhan psikologis seperti rasa aman dan stabilitas emosional. Selain itu kelayakan tempat tinggal juga merupakan faktor penentu keluarga yang menempatinya masuk ke tingkat ekonomi yang mana.
Kebanyakan keluarga yang masih tinggal di RTLH masuk ke kategori miskin/kurang mampu. Dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan untuk makan sehari-hari sebuah keluarga harus berjuang keras. Tak ada sisa dana untuk merenovasi rumah.
Maka dampak yang dihasilkan dari memiliki hunian yang layak lebih bersifat jangka panjang dan generasional. Dengan rasa aman dan nyaman yang diciptakan dari rumah yang lebih layak, mental atau kondisi kejiwaan seseorang dapat terangkat. Dan yang diharapkan tumbuh dari sini adalah spirit untuk menuju tingkat ekonomi yang lebih baik. Rumah juga dapat diwariskan dari generasi ke generasi, membantu sebuah keluarga memutus rantai kemiskinan generasional.
Karena itulah OPSHID memilih untuk berkontribusi pada masyarakat lewat jalur gotong royong membangun rumah gratis.
Penulis telah melihat banyak penerima Rumah Syukur ini di berbagai daerah. Mereka semua, tentu, mengungkapkan rasa syukur, bertangis haru, dan ucapan terima kasih yang tak terhingga. Salah satu yang paling saya ingat dan paling berkesan adalah Ibu Nisfaiyah atau akrab disapa bu Nis dari Lamongan.
Beliau adalah seorang janda, single mother, dan tulang punggung keluarga yang berisi 3 putra dan 2 putri. Nis adalah seorang pengrajin kain tenun di Desa Parengan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan.
Dengan upah 45 hingga 55 ribu rupiah per lembar kain, Nis dapat menyelesaikan 1 lembar kain tenun per hari. Upah dari kain tenun itulah yang menghidupinya dan anak-anaknya.
Tinggal di rumah beralaskan tanah, berdinding kayu yang sudah lapuk karena lembab, atap yang sudah mulai rapuh dan dapat ambruk kapan saja, Nis tak bisa merenovasi rumah reyotnya. Ia hanya bertahan sekuat tenaga, hari demi hari, agar anaknya tetap bisa makan dan sekolah.
Pada Sumpah Pemuda ke 96 tahun 2024, Nisfaiyah mendapat rumah gratis dari OPSHID. Rezeki yang datang tak terduga itu, bagai buah manis dari perjalanan panjang kesabaran dan perjuangannya.
“Kalau perasaannya ya sueneng. Kesannya sampai ndak bisa ngomong. Seperti mau nangis juga tidak bisa saking senengnya”, ucap Nis mengungkapkan rasa syukurnya.
Saya berkesempatan mengunjungi bu Nis dua kali. Pertama pada 14 September 2024, saat peletakan batu pertama rumah barunya, dan kedua pada 18 November 2024.
Saat itu, ia sudah menghuni rumah barunya. Ibu Nis dan Ibu Darukmi, penerima Rumah Syukur lain yang lokasinya bersebelahan, terlihat jauh lebih bahagia dan dan dalam keadaan yang lebih nyaman.
Nis (ketiga dari kiri, kerudung abu-abu) bersama anak-anaknya dan Darukmi (kedua dari kiri, kerudung hitam) bersama ibunya di depan rumah baru mereka.
Pada momen seperti itulah, saya dapat membuktikan sendiri bagaimana dampak yang dihasilkan program ini pada masyarakat.
Maka dengan ditulisnya artikel ini, bukan untuk berbangga diri akan suatu pencapaian sosial. Melainkan karena, sesuai nama platform ini yaitu "Good News From Indonesia", inilah pesan baik yang ingin kami sampaikan pada segenap Kawan GNFI dan juga seluruh masyarakat Indonesia.
Di tengah situasi negara yang tak menentu, jangan pernah kehilangan solidaritas dan simpati pada sesama. Dan di tengah kebencian, teruslah menyebarkan hal baik dan pesan yang bermanfaat. Karena gerak gotong royong itu nyata manfaatnya, baik dalam skala kecil maupun untuk Indonesia Raya.


