Kita pernah berpuasa, tapi tak pernah belajar lapar; kita pernah menerima abu, tapi tak pernah mengerti debu. Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah upacara tanpa getar—puasa tinggal lapar, Rabu Abu tinggal debu.
Sejarah sering bergerak seperti jarum jam yang tak kita dengar bunyinya. Ia berputar, membawa kembali musim-musim yang kita kira telah kita pahami. Ramadan datang lagi. Ramadan mengetuk pintu dengan denting sendok sahur dan azan yang mengambang di langit subuh. Di belahan lain kalender, Rabu Abu menandai dahi dengan abu—serpih dari daun palma yang pernah dilambai-lambaikan dalam kemenangan, lalu dibakar dalam ingatan.
Kita mengulangnya setiap tahun. Seperti bangsa yang setia pada upacara, tapi sering lupa pada makna.
Dalam puasa, tubuh dipaksa menepi. Lapar menjadi semacam guru tua yang tak banyak bicara. Ia tak berdebat. Ia hanya hadir, menggerogoti jam demi jam, mengajarkan bahwa keinginan tak selalu harus dipenuhi. Dalam sejarah Islam awal, puasa adalah latihan solidaritas: tubuh yang kenyang diajak mengenali tubuh yang tak pernah punya pilihan selain lapar. Ia adalah etika yang menyelinap melalui perut.
Namun kota-kota modern mengubahnya menjadi panggung. Spanduk “Ramadan Sale” bergelantungan seperti ayat baru tentang keselamatan lewat diskon. Setelah magrib, meja-meja penuh, kamera ponsel terangkat, dan lapar yang tadi dipuji sebagai kebajikan berubah menjadi pembenaran bagi pesta. Kita menahan diri untuk membalasnya. Seolah-olah Tuhan bisa dinegosiasikan dengan menu takjil.
Baca Selengkapnya

