Bapak Tata Bahasa Arab adalah seorang non-Arab dan yang paling memahami struktur bahasa suci adalah mereka yang tak lahir dengan bahasa itu. Namun, mungkin, justru itulah rahasianya.
PADA suatu pagi di akhir abad ke-8 M ada aroma yang berbeda di kota Basrah, Irak. Bukan hanya aroma rempah dari kapal-kapal yang bersandar di Sungai Tigris atau bau minyak wangi para pedagang yang berlalu-lalang di pasar. Kala itu, ada wangi lain yang lebih samar, namun lekat: wangi apel yang selalu menguar dari seorang anak muda Persia yang setiap hari berjalan tergesa menuju rumah Umar bin Bukair Al-Warraq: seorang penjual kertas dari Samarkand.
Anak muda itu—dengan kulit putih semburat merah di pipinya seperti warna buah apel—adalah Amr bin Utsman bin Qanbar (760 – 796 M). Namun, tidak ada yang memanggilnya dengan nama panjang itu. Ia dikenal dengan panggilan Sibawaih, “si Wangi Buah Apel”, nama julukan dari ibunya di kampung halaman, nun jauh di Persia (Iran).
Di tangannya, segepok kertas kasar selalu ia bawa pulang. Sementara di matanya ada api yang tak pernah padam: api pencarian kebenaran tentang kata, tentang bunyi, tentang bagaimana bahasa manusia bekerja.
Ia tak tahu, lembaran-lembaran kertas itu kelak akan menjadi fondasi ilmu yang mengubah peradaban. Juga, namanya akan disebut ribuan tahun setelah ia tiada dan ia-seorang anak muda Persia yang logat Arabnya masih canggung-akan menjadi “Bapak Tata Bahasa Arab” sepanjang masa.
Baca Selengkapnya

