Pasbana - Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika seorang tamu asing berdiri terpaku di sebuah kota kecil di kaki Gunung Marapi. Ia bukan pejabat kolonial, bukan pula perwira militer. Hanya seorang pedagang cerutu dari Amsterdam yang kebetulan memiliki mata seorang penulis.
Namanya Justus van Maurik.
Dalam perjalanan keliling Hindia Belanda tahun 1896, ia singgah beberapa hari di Padang Panjang—dan justru di kota kecil inilah ia menemukan sesuatu yang tidak ia duga: kehidupan yang terasa hangat, hidup, dan hampir romantis.


