Pasbana - Di sebuah nagari di Kabupaten Solok Selatan, denting pisau dan doa-doa pelan menjadi penanda: musim tanam akan segera dimulai. Warga nagari berkumpul, bukan sekadar untuk menyembelih seekor kerbau besar, tetapi untuk merawat satu hal yang jauh lebih penting—kebersamaan.
Tradisi itu disebut Mambantai Kabau Nan Gadang. Dalam bahasa Minangkabau, artinya menyembelih kerbau besar. Bagi masyarakat Minangkabau, ritual ini bukan seremoni biasa. Ia adalah simpul yang mengikat adat, iman, dan kehidupan agraris yang telah diwariskan lintas generasi selama ratusan tahun.
Tak heran bila tradisi ini kemudian ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda Indonesia—sebuah pengakuan bahwa budaya hidup bukan hanya disimpan di museum, tetapi dijalankan dalam keseharian masyarakat.


