KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Historical Study Trips (HST) kembali mengadakan kegiatan study trip, Minggu, 21 Juni 2026. Kali ini berbeda dengan kegiatan sebelumnya karena berkolaborasi dengan event kultural yang dilaksanakan oleh masyarakat Roma Kebon, Jatinegara, Gombong dengan nama Pagelaran Eksotika Tjintjinggoeling (PET).
Event kultural ini sudah diinisiasi sejak tahun 2024 dan di tahun 2026 ini mengambil tema, “Air dan Kehidupan” (Baca: Pagelaran Eksotika Tjintjinggoeling)
Adapun tema yang diusung oleh Historical Study Trips dalam sesi festival budaya adalah, “Mengulik Tjintjinggoeling, Melacak Roma Jatinegara”. Tjintjinggoeling dan Remo/Roma Jatinegara, dua nama yang mungkin bagi sementara orang terdengar begitu familiar namun bagi sebagian yang lain terdengar begitu sayup-sayup.
Pertama, Tjintjinggoeling adalah nama sungai yang sudah lama ada sebelum Gombong menjadi nama baru yang menggantikan Remo/Roma Jatinegara. Menjelang Perang Jawa berakhir (1825-1830), Pangeran Diponegoro pernah melintasi Sungai Tjintjinggoeling. Muara sungai ini berakhir di laut selatan persis di Gua Karangbolong. Peta-peta lama Hindia Belanda menuliskan nama muara Tjintjinggoeling.
Di tahun 1889 kanal Telomoyo dibangun yang mengalirkan air sungai Tjintjinggoeling ke muara. Kala itu Remo Jatinegara telah berganti nama menjadi Gombong dan berstatu district (kawedanan) di bawah regentschap (kabupaten) Karanganyar. Keberadaan Waduk Sempor yang sudah direncanakan Belanda di tahun 1917 dan dibangun di pemerintahan Sukarno tahun 1959 dan disempurnakan pemerintahan Suharto tahun 1968-1978 memanfaatkan aliran Sungai Tjintjingoeling yang kadang diberi Sungai Jatinegara.
Baca Selengkapnya

