Siang belum sepenuhnya beranjak ketika Sarasehan Budaya di kawasan Geosite Kedung Lantung, Drenges, Sugihwaras, Bojonegoro dimulai (10/8/2026). Dalam acara ini, geosite tak hanya dibahas sebagai tempat. Ia dibaca kembali melalui batuan, lanskap, dan budaya masyarakat yang masih berlangsung hingga hari ini.
Pada Senin pukul 13.30, Komunitas Bojonegoro History kembali gelar Serasehan Budaya, yang merupakan bagian dari Ekspedisi Naga Api volume VI, dalam program Serial Literasi Geopark. Kali ini, forum diskusi mengangkat tema “Kedung Lantung: Menuju Desa Wisata Berbasis Edukasi Sejarah, Geologi, dan Budaya.”
Serasehan ini menjadi ruang perjumpaan berbagai perspektif untuk membicarakan kemungkinan masa depan Kedung Lantung. Bukan semata sebagai tempat yang dikunjungi, melainkan ruang yang dapat membuat orang belajar: membaca sejarah dari lanskap, membaca geologi dari bebatuan, membaca biodiversitas dari kehidupan di sekitarnya, sekaligus membaca kebudayaan dari masyarakat di dalamnya.
Kegiatan terbuka untuk masyarakat umum ini, diselenggarakan Komunitas Bojonegoro History dengan berkolaborasi bersama KKN Universitas Bojonegoro (Unigoro) dan KKN Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri). Tiga narasumber hadir membawa tiga pintu masuk untuk membaca Kedung Lantung.
Ketua Komunitas Bojonegoro History, M. Andre, yang juga menjadi moderator acara menyatakan, kegiatan ini ditujukan dalam rangka menggali dan membangun gagasan atas pengembangan Kedung Lantung. Di mana geosite tidak hanya berorientasi pada kunjungan, namun juga edukasi masyarakat.
Baca Selengkapnya

