CERITA KOTA | Di sepanjang Jalan Merdeka, Pontianak, aroma asap tipis mulai menari-nari tepat setelah azan Magrib berkumandang. Di bawah pendar lampu jalan, bunyi thak-thak-thak yang ritmis bersahutan dari palu besi yang menghantam meja kayu. Itulah suara "selamat datang" dari #RamadandiPontianak.
Bagi masyarakat awam, ini mungkin sekadar cara unik mengolah cumi kering. Namun bagi warga Pontianak, Sotong Pangkong adalah sebuah ritual, nostalgia yang terbungkus dalam serat daging yang kenyal dan gurih.
Secara etimologi, namanya sangat lugas: Sotong (cumi) dan Pangkong (dipukul dengan palu dalam bahasa Melayu Pontianak). Teknik ini lahir dari kearifan lokal untuk menyiasati tekstur sotong kering yang keras.
Dahulu, para nelayan di pesisir Kalimantan Barat mengawetkan hasil tangkapan dengan cara dijemur hingga garing. Agar bisa dinikmati sebagai kudapan, sotong kering ini dipanggang di atas bara arang, lalu dipukul berkali-kali hingga seratnya merekah dan menjadi empuk.
Tanpa bumbu tambahan di atas panggangan, rasa gurih alami muncul dari garam laut yang tertinggal saat proses penjemuran.
Baca Selengkapnya

