karbon biru di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Potensi Karbon Biru Indonesia di Pesisir Nusantara

Mengenal Potensi Karbon Biru Indonesia di Pesisir Nusantara
images info

potensi karbon biru di Indonesia | Sumber: Pexels


Cara mangrove menyerap karbon biru menjadi salah satu mekanisme biologis paling efisien di bumi dalam menahan laju pemanasan global. Melalui proses fotosintesis dan sistem perakaran yang unik di kawasan pasang surut, hutan bakau mampu menangkap karbon dioksida dari atmosfer lalu menguncinya di dalam sedimen bawah air selama ribuan tahun.

Kawan GNFI, memahami cara kerja ekosistem pesisir ini sangat penting di tengah darurat krisis iklim dan kerusakan hutan Indonesia saat ini. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia memegang peranan strategis dalam memanfaatkan potensi penyerapan karbon biru alami demi kelangsungan ekosistem global yang berkelanjutan.

Bagaimana Cara Mangrove Menyerap Karbon

magrove, pohon magrove, karbon biru, blue carbon
info gambar

pohon mangrove | Sumber: Pexels


Mekanisme penyerapan karbon oleh hutan mangrove berlangsung melalui dua tahapan utama, yakni penyerapan biologis di atas permukaan dan penyimpanan jangka panjang di dalam tanah. Saat berfotosintesis, pohon mangrove menyerap gas karbon dioksida dari atmosfer menggunakan daunnya, lalu mengubahnya menjadi biomassa seperti kayu, ranting, daun, dan akar.

Ketika bagian tumbuhan tersebut gugur dan jatuh ke dalam lumpur pesisir yang tergenang air laut, lingkungan di sekitar akar mangrove menjadi anaerob (minim oksigen). Kondisi tanpa oksigen ini memperlambat proses penguraian mikroorganisme secara drastis, sehingga karbon tertimbun dan terkunci rapat di dalam sedimen dasar laut selama berabad-abad tanpa terlepas kembali ke udara.

Di Indonesia sendiri, hutan mangrove sangat luas dan tersebar diberbagai daerah, dikutip dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada September 2025, Indonesia memiliki luas mangrove sekitar 3,11 juta hektare atau 22,6 persen dari total ekosistem mangrove global. Jumlah ini meliputi setidaknya 241 jenis magrove yang berbeda.

Dengan potensi magrove di Indonesia yang sangat luas didukung dengan ekosistem pesisir dan laut yang sangat luas di negara ini seharusnya ekosistem karbon biru dari pohon mangrove ini dapat secara nyata dimanfaatkan dengan baik. 

Padang Lamun, 'Pahlawan' Tersembunyi di Bawah Laut yang Menyerap Emisi

padang lamun, karbon buru, blue carbon indonesia, manfaat karbon biru
info gambar

Padang Lamun | Sumber: Pexels


Selain hutan bakau, ekosistem padang lamun (seagrass beds) di perairan laut dangkal juga memegang peran vital dalam siklus karbon biru. Tumbuhan berbunga bawah air ini menyerap karbon terlarut secara langsung melalui jaringan daunnya serta mengendapkan serasah organik ke dalam substrat pasir laut yang stabil.

Meskipun hidup sepenuhnya di dalam air laut, padang lamun memiliki tingkat produktivitas organik yang sangat tinggi. Ekosistem ini tidak hanya berfungsi sebagai penyerap emisi gas rumah kaca yang sangat efektif, tetapi juga menjadi tempat pemijahan dan perlindungan bagi berbagai biota laut bernilai ekologis tinggi.

Mangrove vs Padang Lamun, Mana yang Lebih Tangguh Menyerap Karbon?

Merujuk pada catatan riset dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), ekosistem pesisir memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari ekosistem hutan erestrial. Meskipun cakupan wilayahnya jauh lebih kecil daripada hutan daratan, ekosistem karbon biru dapat menyerap karbon dengan laju kecepatan yang jauh lebih tinggi dalam rentang waktu jutaan tahun.

Sebagian besar emisi karbon yang diikat oleh ekosistem karbon biru ini tersimpan aman di dalam lapisan tanah bawah air yang tersembunyi dari pandangan kita. 

Dalam hal kapasitas penyimpanan karbon, baik mangrove maupun padang lamun memiliki keunggulan komparatif yang saling melengkapi di zona pesisir nusantara:

  • Hutan Mangrove: Unggul dalam hal jumlah total simpanan karbon per hektar karena struktur pohonnya yang besar, mencakup biomassa di atas permukaan (batang dan tajuk) serta endapan sedimen lumpur yang sangat tebal.
  • Padang Lamun: Unggul dalam kecepatan laju sekuestrasi karbon organik langsung ke dalam sedimen dasar laut per satuan waktu, serta kemampuan daur ulang nutrisi yang sangat efisien di perairan dangkal.

Kolaborasi kedua ekosistem ini seharusnya bisa dimanfaatkan secara nyata untuk menjadikan kawasan pesisir Indonesia sebagai benteng pertahanan alami terkuat terhadap perubahan iklim global.

baca juga

Pentingnya Menjaga Keutuhan Ekosistem Alam Secara Utuh

Menjaga kelestarian alam secara menyeluruh, baik di wilayah pesisir melalui perlindungan karbon biru maupun di daratan melalui ekosistem hutan, adalah kunci mutlak untuk menahan laju krisis iklim global.

Kawan GNFI, manusia dan satwa liar sangat bergantung pada ketersediaan air bersih serta hutan yang lestari untuk bertahan hidup di bumi ini. Hutan daratan jangan ditebang sembarangan, apalagi dibakar demi kepentingan komersial sesaat yang justru melepaskan emisi karbon ke atmosfer.

Penting untuk disadari bahwa pohon di hutan alami dan perkebunan kelapa sawit adalah dua entitas yang sangat berbeda. Perkebunan sawit monokultur sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi ekologi, tata air, dan keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh hutan asli nusantara.

Hutan adalah rumah sejati bagi ribuan flora dan fauna yang memiliki hak yang sama untuk hidup berdampingan.

Mari kita lindungi hutan daratan dan ekosistem pesisir kita demi terciptanya keseimbangan iklim dan masa depan bumi yang berkelanjutan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Evita Damayanti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Evita Damayanti.

ED
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.