empat musim pertiwi di bromo musim di mata petani - News | Good News From Indonesia 2026

Empat Musim Pertiwi di Bromo, "Musim" di Mata Petani

Empat Musim Pertiwi di Bromo, "Musim" di Mata Petani
images info

Lanskap Gunung Bromo yang menjadi latar film Empat Musim Pertiwi sekaligus ruang hidup bagi masyarakat di sekitarnya. Foto: Kevin Zhang/Unsplash


Keindahan alam Gunung Bromo menjadi awal mula film "Empat Musim Pertiwi" karya Kamila Andini ditulis. Film yang dijadwalkan tayang di bioskop nasional pada tanggal 8 Oktober 2026 menjadikan Gunung Bromo menjadi latarnya, dan memakai analogi empat musim sebagai alur cerita.

Kamila Andini memilih Bromo sebagai latar ceritanya karena terlintas ketika liburan bersama keluarganya di Gunung Bromo. Ia melihat adanya tekstur empat musim dalam satu lanskap. Empat musim ini diceritakan sebagai empat fase kehidupan Perempuan.

Indonesia yang memiliki iklim tropis tidak mengenal empat musim seperti negara subtropis. Lantas, mengapa Bromo bisa menghadirkan “tekstur” empat musim, dan bagaimana perubahan kondisi lingkungannya memengaruhi tanaman petani?

Musim Dingin yang Bukan Hujan Salju, tapi Embun Upas

Sebagai wilayah dengan iklim tropis, Indonesia memiliki dua musim setiap tahunnya. Namun, di daerah Bromo ada perbedaan yang unik. Harusnya wilayah di sekitar Bromo hanya memiliki musim hujan dan kemarau. Tetapi nyatanya, di sana seolah terdapat empat musim yang terjadi dalam satu tahun.

Seperti musim di negara sub tropis, Bromo dianalogikan seolah memiliki tekstur empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Salah satu fase yang menyerupai "musim dingin" dan sering dibicarakan ini dikenal dengan istilah fenomena bediding. 

Saat bediding kondisi lingkungan di sekitar Bromo menjadi kering, langit cerah, serta massa udara dingin dari Australia. Pada Juni 2026, suhu minimum di Cemoro Lawang bisa mencapai 5°C. Bahkan menurut Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di kawasan Bromo yang lebih tinggi, suhu bahkan dapat mendekati 0°C.

Menariknya, yang terjadi ketika suhu turun ini bukan hujan salju sebagai presipitasi dari atmosfer, embun upas terbentuk ketika embun di permukaan tanah, pasir, atau tanaman membeku menjadi kristal es. Di tahun 2026 embun upas mulai terlihat sejak 8 Juni 2026.

Musim dingin ini bisa dianalogikan sebagai salah satu fase kehidupan Pertiwi yang diceritakan. Ketika dia harus menghadapi hari-harinya bersama luka yang menyelimuti dirinya. Seperti dinginnya fase bediding, Pertiwi melewati hari-hari tanpa kehangatan.

Bahkan, sebenarnya embun upas ini diam-diam jadi musuh bagi tanaman. Sebab itulah fenomena bediding yang unik memiliki sisi ancaman bagi tanaman.

baca juga

Hamparan Es yang Cantik di Mata Wisatawan, Taruhan di Mata Petani

Hamparan es yang tampak cantik dilihat oleh wisatawan, sebenarnya cukup merugikan bagi petani. BMKG Juanda mengingatkan petani bahwa embun upas ini dapat merusak tanaman. Mereka juga mengimbau dilakukan langkah perlindungan untuk tanaman-tanaman yang sedang dibudidayakan oleh petani. Pada tahun 2026 diperkirakan puncak kemarau, dan bediding, berlangsung Juli-September 2026.

Gejala yang terjadi di ladang dapat dilihat dari tanaman yang mengering setelah terkena embun yang membeku. Untuk tanaman seledri, menurut laporan petani sekitar Bromo pada 2018-2019, selain mengering, daun yang berwarna hijau juga terlihat berbintik kuning. Hasil panen yang rusak ini mengakibatkan tidak laku ketika dijual ke pasar.

Umur tanaman juga menentukan nasib dari hasil panen petani. Dampak empun upas terhadap tanaman tidak sama di setiap lahan. Media Indonesia (2019) melaporkan potensi kerusakan akibat embun upas terutama terjadi pada tanaman kentang yang baru berumur 1–2 bulan. Sementara, tanaman kentang yang sudah berada di akhir musim panen tidak begitu terdampak.

Di sisi lain, detikJatim dan WartaBromo pada bulan yang sama melaporkan bawang daun, kentang, dan sayuran lain di lereng Bromo layu dan mati sebelum sempat dipanen.

Fase tumbuh tanaman cukup menentukan nasib tanaman itu sendiri. Begitu pula musim yang menentukan keberlangsungan budidaya pertanian bagi petani di sekitar Bromo.

baca juga

Tanah Vulkanik Bromo yang Potensial, tapi Gampang Terkikis

Tidak hanya manusia, tanah juga memiliki fasenya masing-masing, seperti halnya tanah di sekitar Gunung Bromo. Tanah vulkanis di sekitar Bromo menyimpan nutrisi yang potensial untuk tanaman. Akan tetapi, kandungan hara ini masih membutuhkan waktu untuk melapuk dan menjadi tanah ladang.

Hasil penelitian Agustina dkk. (2025), menemukan bahwa material letusan Bromo menyimpan kesuburan potensial, tetapi pada bahan letusan segar kandungan C dan N-nya sangat rendah. Hara pada material letusan tersebut belum seluruhnya tersedia bagi tanaman dan membutuhkan proses pelapukan serta pembentukan tanah sebelum dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Menurut Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Ditjen KSDAE), tanah di sekitar Bromo mempunyai tekstur yang mudah terkikis. Tanahnya yang berbahan induk abu/pasir membuatnya gampang tererosi, terutama ketika musim penghujan.

Barangkali, dari tanah yang kita pijak ketika berlibur di Gunung Bromo kita juga tahu bahwa tidak ada manusia yang bertemu keindahannya tanpa melewati fase-fase sulit dalam hidupnya.

Kalau kita melihat Pertiwi, ia butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali menemukan jalan menuju pulih untuk dirinya. Seperti petani yang bersedia menunggu agar tanah-tanah yang punya potensi itu siap untuk dimanfaatkan sebagai media tanam.

baca juga

Kalau nanti Kawan menonton kisah hidup Pertiwi yang menghiasi layar bioskop di tanggal 8 Oktober 2026, barangkali tidak hanya melihatnya dari keindahan matahari yang terbit dari balik gunung, atau cantiknya lanskapnya. Beberapa hal lain, kabut, dingin, ladang, dan lerengnya bisa Kawan temukan untuk ikut memaknai kehidupan.

Kalau Kawan punya empat musim seperti tekstur musim di Bromo, musim mana yang paling Kawan tunggu kehadirannya?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.