pustaha laklak ketika warisan pengetahuan batak berhadapan dengan tantangan zaman - News | Good News From Indonesia 2026

Pustaha Laklak: Ketika Warisan Pengetahuan Batak Berhadapan dengan Tantangan Zaman

Pustaha Laklak: Ketika Warisan Pengetahuan Batak Berhadapan dengan Tantangan Zaman
images info

Gambar Pustaha Laklak yang diambil dari Wikimedia Commons oleh Askolani Nasution


Ketika berbicara tentang budaya Sumatera Utara, ingatan kita mungkin langsung tertuju pada Danau Toba, kain ulos, rumah adat, atau beragam tradisi masyarakat Batak. Namun, ada warisan lain yang tidak kalah menarik untuk dikenal, yaitu Pustaha Laklak.

Berbeda dari buku yang kita temui sehari-hari, naskah tradisional ini ditulis menggunakan aksara Batak pada lembaran kulit kayu yang dilipat.

Pustaha Laklak bukan sekadar benda tua yang menyimpan jejak masa lalu. Di dalamnya terdapat catatan pengetahuan yang pernah hidup dan berkembang dalam masyarakat.

Sayangnya, keberadaan sebuah warisan tidak otomatis membuatnya tetap dipahami oleh generasi berikutnya. Lantas, bagaimana cara menjaga Pustaha Laklak agar tidak hanya tersimpan sebagai koleksi sejarah, tetapi juga terus dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia?

baca juga

MengenalPustahaLaklak,ManuskripdariTradisiTulisBatak

PustahaLaklak merupakan manuskrip tradisional Batak yang menggunakan kulit kayu sebagai media tulis. Kata pustaha merujuk pada kitab atau buku, sedangkan laklak berkaitan dengan kulit kayu yang digunakan sebagai bahan naskah. Lembaran kulit kayu tersebut diolah dan dilipat sehingga dapat memuat tulisan dalam bentuk yang berbeda dari buku modern.

Menurut Uli Kozok dalam bukunya SuratBatak (2009), masyarakat Batak memiliki tradisi tulis yang berkembang dengan bentuk aksara dan media tersendiri. Tradisi ini menunjukkan bahwa pengetahuan pada masa lalu tidak hanya diwariskan melalui cerita lisan, tetapi juga dicatat dalam naskah.

Pustaha Laklak memiliki hubungan erat dengan orang-orang yang menguasai pengetahuan tradisional, termasuk datu, yakni tokoh yang memiliki keahlian tertentu dalam tradisi Batak. Isi setiap naskah tidak selalu sama. Sejumlah pustaha memuat pengetahuan mengenai pengobatan tradisional, penanggalan, ramalan, dan kosmologi atau pandangan tentang alam semesta.

Keragaman tersebut membuat Pustaha Laklak menarik untuk dipelajari. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa lalu memiliki cara tersendiri dalam mencatat, menyusun, dan meneruskan pengetahuan sesuai dengan lingkungan serta kebudayaan mereka.

baca juga

Lebih dari Sekadar Manuskrip: Pengetahuan yang Merekam Kehidupan Masa Lalu

Nilai Pustaha Laklak tidak berhenti pada bentuknya yang unik atau usianya yang tua. Manuskrip ini juga dapat menjadi sumber untuk memahami bagaimana masyarakat Batak pada masa lalu memandang kehidupan dan mengembangkan pengetahuan.

Penelitian Churmatin Nasoichah mengenai pustaha laklak dan naskah bambu di Mandailing Natal, yang diterbitkan dalam ForumArkeologi, memperlihatkan bahwa bentuk aksara pada naskah dapat berbeda karena bahan penulisan dan karakter masing-masing penulis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tulis Batak memiliki keragaman yang layak diteliti lebih jauh.

Melalui penelitian terhadap naskah, kita dapat mempelajari bahasa, aksara, serta konteks sosial dan budaya yang melatarbelakanginya. Namun, membaca manuskrip lama tidak cukup hanya dengan mengenali bentuk hurufnya. Isi tulisan juga perlu dipahami berdasarkan konteks zaman dan tradisi masyarakat yang melahirkannya.

Karena itu, Pustaha Laklak bukan hanya benda yang pantas disimpan di museum. Ia juga merupakan sumber pengetahuan yang dapat membantu generasi sekarang memahami perjalanan kebudayaan daerahnya.

baca juga

Tantangan Modernisasi: Ketika Warisan Budaya Harus Beradaptasi dengan Zaman

Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian Pustaha Laklak adalah keberlanjutan pengetahuan tentang naskah itu sendiri. Menyimpan manuskrip merupakan langkah penting, tetapi upaya tersebut belum cukup apabila semakin sedikit orang yang mampu membaca aksara dan memahami isinya.

Penelitian Hasugian dan Napitu (2025) dalam JurnalNagur membahas persoalan pewarisan pengetahuan Pustaha Laklak. Mereka mengidentifikasi sejumlah faktor, antara lain perubahan sistem pendidikan, perubahan sosial, dan terbatasnya pewarisan pengetahuan tradisional. Kajian tersebut mengingatkan kita bahwa hilangnya pemahaman terhadap sebuah warisan dapat terjadi secara perlahan, bahkan ketika benda peninggalannya masih ada.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan kondisi fisik manuskrip. Karena menggunakan bahan organik berupa kulit kayu, naskah memerlukan penanganan dan penyimpanan yang sesuai agar tidak mudah rusak. Tanpa perawatan yang memadai, informasi berharga di dalamnya berisiko hilang sebelum sempat dipelajari lebih jauh.

Meski demikian, modernisasi tidak harus dipandang sebagai musuh kebudayaan. Teknologi justru dapat membuka peluang baru melalui digitalisasi, dokumentasi, dan penyebaran informasi. Foto digital, misalnya, dapat membantu memperkenalkan naskah kepada masyarakat yang tidak memiliki kesempatan melihat koleksi aslinya.

baca juga

Namun, digitalisasi saja tidak cukup. Gambar naskah yang tersedia di internet belum tentu dapat dipahami pembaca. Diperlukan penelitian, alih aksara, penerjemahan, dan penjelasan yang mudah dimengerti agar pengetahuan di dalamnya dapat diakses secara lebih luas.

Merawat Masa Lalu, Membuka Jalan bagi Generasi Mendatang

Pelestarian Pustaha Laklak perlu dilakukan melalui pendekatan yang saling melengkapi. Pertama, kondisi fisik manuskrip harus dirawat dengan melibatkan tenaga yang memahami konservasi. Kedua, digitalisasi dapat membantu mendokumentasikan naskah sekaligus memperluas akses terhadapnya. Ketiga, penelitian dan penerjemahan perlu terus didorong agar isi manuskrip tidak berhenti menjadi tulisan yang sulit dipahami.

Pendidikan juga mempunyai peran penting. Pengenalan aksara Batak melalui kegiatan budaya, bahan bacaan populer, pameran, atau pembelajaran di sekolah dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda. Kolaborasi antara peneliti, lembaga kebudayaan, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat Batak juga diperlukan agar upaya pelestarian tidak berjalan sendiri-sendiri.

Bukan Sekadar Menyimpan Manuskrip, tetapi Menjaga Pengetahuan

Pustaha Laklak mengingatkan kita bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya hadir dalam tarian, pakaian adat, atau bangunan bersejarah. Ada pula warisan berupa tulisan dan pengetahuan yang membutuhkan perhatian lebih agar tetap dapat dipahami.

baca juga

Menjaga Pustaha Laklak berarti merawat manuskrip sekaligus membuka kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mempelajari isinya. Sebab, warisan budaya tidak benar-benar hidup hanya karena berhasil disimpan selama ratusan tahun.

Ia akan tetap bermakna ketika dipelajari, dipahami, dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat. Dengan begitu, Pustaha Laklak bukan sekadar kenangan tentang masa lalu, melainkan jembatan pengetahuan menuju masa depan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.