Ada masa ketika harga sepiring nasi bukan hanya soal berapa rupiah yang harus dibayar. Bagi sebagian orang, harga makanan bisa menjadi tanda bahwa kehidupan sedang berubah dan menjadi lebih sulit.
Bagi Margaretha Siswanti, perempuan yang saat ini berusia 53 tahun asal Klaten ini, masih menyimpan memori tahun 1998 dalam ingatan melalui hal-hal sederhana. Ia tidak hanya mengingat kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat atau toko-toko yang tiba-tiba tutup. Ia juga mengingat harga makanan yang semakin mahal, perjalanan pulang yang terhambat, dan rasa takut ketika kebutuhan sehari-hari mulai sulit dipenuhi.
Hampir tiga puluh tahun telah berlalu sejak peristiwa tersebut. Banyak hal tentu sudah tidak lagi diingat dengan jelas. Harga-harga yang dulu pernah ia bayar pun tidak lagi ia ingat secara pasti. Namun, pengalaman dan perasaan yang muncul pada masa itu masih membekas.
Sebelum 1998, Margaretha merasa keadaan ekonomi masih baik-baik saja. Saat itu, ia bekerja di pabrik dan tinggal sebagai anak kos. Kehidupannya berjalan sederhana: bekerja, mencari makan, lalu pulang ke tempat kos. Semuanya berjalan seperti biasa sampai pada Mei 1998, ketika keadaan di berbagai wilayah Indonesia mulai berubah.
Saat itu, Margaretha sedang berada di Kemayoran. Ia sebenarnya ingin pulang ke Tangerang, tetapi situasi yang terjadi membuat perjalanan menjadi sulit. Setelah peristiwa Trisakti dan munculnya kerusuhan, keadaan di sekitar tempatnya berada menjadi tidak menentu. Banyak toko tutup dan transportasi juga tidak berjalan seperti biasanya.
βBanyak toko-toko tutup,β kenangnya.
Keadaan tersebut membuat Margaretha memilih untuk tidak pulang. Ia khawatir terjadi sesuatu di perjalanan. Jalan yang biasanya menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari tiba-tiba menjadi tempat yang membuatnya merasa tidak aman.
Namun, krisis tidak hanya dirasakan melalui kerusuhan dan keadaan jalanan. Dampak lainnya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harga berbagai kebutuhan meningkat.
Sebagai anak kos yang bekerja di pabrik, kenaikan harga makanan tentu bukan persoalan kecil. Sebelum 1998, menurut Margaretha, harga makanan masih cukup terjangkau. Setelah kerusuhan Mei, harga barang-barang mulai naik dan makanan menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Ia memang tidak lagi mengingat berapa tepatnya kenaikan harga tersebut. Ketika ditanya, Margaretha mengaku sudah lupa karena peristiwa itu telah berlangsung puluhan tahun lalu. Akan tetapi, ada satu hal yang masih ia ingat: harga nasi bungkus ikut naik.
Sebagai anak kos, Margaretha lebih sering makan di warung. Karena itu, ia tidak terlalu mengetahui bahan makanan apa saja yang mengalami kenaikan harga paling tinggi. Ia hanya merasakan perubahan tersebut ketika membeli makanan sehari-hari. Harga nasi bungkus yang sebelumnya biasa saja mulai terasa lebih mahal.
Pada masa itu, Margaretha mengatakan bahwa penghasilannya sekitar dua puluh enam ribu rupiah sehari. Uang tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sekaligus membayar biaya kos.
βYa ituβ¦ buat makan, ya rasa berat juga buat bayar kost.β
Kalimat tersebut menunjukkan bagaimana kenaikan harga berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Penghasilan yang terbatas harus dibagi untuk memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus. Ketika harga makanan naik, ruang untuk memenuhi kebutuhan lainnya menjadi semakin sempit.
Bagi Margaretha, persoalan makanan juga membawa rasa takut. Ketika ditanya bagaimana perasaannya saat kebutuhan pangan mulai terasa sulit didapatkan, ia menjawab singkat, βTakut.β
Ketakutan itu muncul karena ia membayangkan bagaimana jika makanan tidak lagi mudah didapatkan. Harga yang semakin tinggi membuat kebutuhan yang paling dasar sekalipun menjadi lebih sulit dijangkau. Bagi seorang anak kos yang harus mengatur pengeluaran sendiri, keadaan tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah.
Selain kenaikan harga, Margaretha juga mengingat adanya penjarahan selama kerusuhan 1998. Namun, berdasarkan pengalamannya, keadaan tersebut tidak terlalu terasa di Tangerang. Ia mengetahui bahwa situasi di Jakarta lebih terasa.
Ia juga pernah membaca mengenai adanya kekerasan seksual pada masa kerusuhan, tetapi ia mengakui tidak mengetahui peristiwa tersebut secara langsung dan tidak dapat menjelaskan secara lebih rinci.
Kini, setelah hampir tiga puluh tahun berlalu, ingatan Margaretha tentang 1998 tidak lagi tersusun seperti sebuah kronologi yang lengkap. Ada bagian yang masih ia ingat dengan jelas, tetapi ada juga bagian yang mulai hilang.
Ia lupa berapa besar kenaikan harga makanan.
Ia juga tidak lagi mengingat secara jelas apakah ada bantuan pemerintah yang dirasakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan pada masa tersebut.
Namun, ia masih mengingat rasa takut.
Ia masih mengingat jalanan yang sulit dilewati dan toko-toko yang tutup. Ia masih mengingat bagaimana harga makanan menjadi lebih mahal. Dan ia masih mengingat bahwa uang yang diperoleh dari bekerja harus dibagi untuk kebutuhan yang sangat sederhana: makan dan membayar tempat tinggal.
Dari pengalaman Margaretha, kita dapat melihat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan dalam bentuk angka, tanggal, atau peristiwa besar. Sejarah juga dapat hidup dalam ingatan orang-orang biasa melalui pengalaman sehari-hari.
Krisis 1998 bukan hanya tentang keadaan ekonomi yang memburuk dan kerusuhan yang terjadi di berbagai wilayah. Di balik peristiwa tersebut, ada orang-orang yang tetap harus bekerja, mencari makan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keadaan yang tidak pasti.
Bagi Margaretha, mungkin tahun 1998 akan selalu diingat melalui hal-hal sederhana: jalan yang tidak bisa dilewati, toko-toko yang tutup, harga makanan yang naik, dan penghasilan yang harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pada akhirnya, ingatan tentang krisis itu kembali pada sesuatu yang sangat sederhana: kehidupan sehari-hari.
Sesuatu yang setiap hari terlihat biasa, tetapi pada masa itu pernah terasa lebih berat untuk didapatkan.


