mengapa acara tv suka tayang sampai tengah malam menguak rahasia taktik supersizing - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Acara TV Suka Tayang sampai Tengah Malam? Menguak Rahasia Taktik "Supersizing"

Mengapa Acara TV Suka Tayang sampai Tengah Malam? Menguak Rahasia Taktik "Supersizing"
images info

Photo AI Generate - Gemini


Kawan GNFI, pernahkah menyalakan televisi pada pukul tujuh malam untuk menonton sebuah ajang pencarian bakat, lalu menyadari bahwa acara tersebut belum juga selesai saat Kawan bersiap tidur pada tengah malam?

Fenomena program televisi yang tayang dengan durasi luar biasa panjang ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan.

Ini adalah bentuk manifestasi dari sebuah taktik penjadwalan siaran tingkat tinggi yang dirancang untuk memonopoli perhatian penonton.

Dalam dunia penyiaran (broadcasting), strategi "mengunci" penonton dengan durasi panjang ini dikenal dengan istilah supersizing. Taktik ini tidak hanya mengubah cara kita menikmati hiburan di layar kaca, tetapi juga menjadi senjata utama stasiun televisi untuk "membunuh" jam tayang kompetitor mereka.

baca juga

Mengenal Taktik 'Supersizing' di Layar Kaca

Strategi supersizing merupakan teknik menambahkan durasi pada sebuah program acara unggulan. Strategi ini dipelopori oleh Jeff Zucker, mantan presiden NBC Entertainment di Amerika Serikat. Teori dasar di balik taktik ini sangat sederhana tetapi mematikan: penonton yang sudah terlanjur menikmati waktu tambahan bersama acara favorit mereka tidak akan mengganti saluran ke acara lain yang baru saja dimulai di stasiun pesaing.

Di industri pertelevisian Indonesia, praktik ini sangat lazim kita temui pada waktu siaran utama (prime time). Contohnya pada babak grand final program MasterChef Indonesia di RCTI, di mana durasi tayangan yang awalnya hanya satu jam bisa diperpanjang menjadi satu setengah bahkan dua jam penuh. Langkah ini secara efektif menutupi waktu tayang program andalan di stasiun televisi lain.

Praktik serupa juga menjadi strategi andalan Indosiar lewat program pencarian bakat seperti Dangdut Academy atau LIDA. Acara ini sering kali tayang sejak malam hari hingga larut malam, memotong kesempatan stasiun TV lain untuk menarik penonton ke acara bincang-bincang (talk show) atau film larut malam mereka.

Analisis Masalah: Jebakan 'Overexposure' dan Kejenuhan Audiens

Meski supersizing terbukti ampuh menjegal kompetitor dan mendulang rating dalam jangka pendek, taktik ini membawa sebuah masalah besar jika dilakukan tanpa rem.

baca juga

Saat sebuah stasiun televisi terus-menerus menayangkan program yang sama dengan durasi panjang setiap harinya, mereka sedang masuk ke dalam perangkap overexposure (tayangan berlebihan). 

Overexposure adalah kondisi di mana sebuah program acara terlalu sering ditayangkan atau di duplikasi secara cepat karena kesuksesan awalnya. Program kompetisi dangdut seperti Dangdut Academy, LIDA, dan Bintang Pantura yang tayang nyaris tanpa jeda selama bertahun-tahun perlahan mengalami penurunan rating dan share.

Hal ini terjadi karena format acara dan pengisi acaranya hampir serupa, sehingga daya tarik eksklusifnya hilang. Penonton merasa jenuh dan akhirnya memilih untuk meninggalkan acara tersebut.

Kasus serupa juga terjadi pada program drama seperti sinetron Ikatan Cinta (RCTI). Awalnya sinetron ini meraih popularitas luar biasa. Namun, karena ditayangkan setiap hari dengan cerita yang dipanjang-panjangkan (efek turunan dari supersizing durasi dan episode), penonton akhirnya merasa bosan.

baca juga

Solusi Penjadwalan, Mengembalikan Keseimbangan Layar

Untuk memecahkan masalah kejenuhan akibat supersizing dan overexposure ini, programmer stasiun televisi perlu menata ulang strategi penjadwalan mereka agar audiens tetap loyal dalam jangka panjang. Terdapat beberapa pendekatan strategis yang bisa diterapkan:

Pertama, beralih ke strategi Hammocking dan Tentpoling. Alih-alih membiarkan satu program tayang selama empat jam penuh, stasiun televisi bisa memotong durasinya menjadi normal dan menyisipkan program baru di tengah atau di sekitarnya.

Dengan tentpoling, program dangdut populer bisa dijadikan "tiang penopang" untuk mengangkat rating acara komedi atau drama baru yang ditayangkan sesudahnya.

Sementara dengan hammocking, acara baru disisipkan di antara dua program populer layaknya ayunan, agar penonton "terbawa" tanpa merasa bosan menonton satu format yang sama seharian.

baca juga

Kedua, menerapkan Theming (Pengelompokan Tema). Jika stasiun televisi ingin mendominasi waktu malam, mereka tidak perlu memaksakan satu acara hingga larut.

Mereka bisa mengelompokkan beberapa program berbeda (misalnya: kompetisi musik, lalu diikuti dengan dokumenter di balik layar, lalu ditutup dengan gelar wicara musik) dalam satu periode waktu. Ini menciptakan pengalaman menonton yang kohesif namun tidak membosankan.

Ketiga, pentingnya Kesabaran dan Resting (Mengistirahatkan IP). Manajemen televisi harus mengubah pola pikir dari sekadar mengejar rating harian menjadi membangun ekosistem acara yang kuat.

Program unggulan perlu diistirahatkan sejenak antar musim (musim kompetisi) agar penonton memiliki waktu untuk merindukan tayangan tersebut. 

baca juga

Menjadi Audiens Kritis

Bagi Kawan GNFI, memahami taktik supersizing ini membuat kita sadar bahwa durasi panjang sebuah acara televisi bukanlah kebetulan, melainkan strategi bisnis industri hiburan. Persaingan antarstasiun televisi memang menuntut strategi tajam. Namun, kualitas hiburan yang diberikan kepada masyarakat tidak seharusnya dikorbankan demi mengejar durasi.

Pada akhirnya, program yang akan bertahan melintasi zaman adalah program yang tahu kapan harus menghibur, dan tahu kapan harus berhenti sejenak.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.