Rating masih menjadi salah satu ukuran penting dalam industri televisi karena menunjukkan tingkat popularitas sebuah program. Namun, jumlah penonton yang tinggi tidak selalu berarti sebuah tayangan memiliki kualitas yang baik.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggunakan Indeks Kualitas Program Siaran Televisi (IKPSTV) untuk melihat kualitas isi program secara lebih mendalam. Dalam hasil IKPSTV 2025, KPI mencatat nilai kualitas secara keseluruhan mencapai 3,29. Sinetron yang sebelumnya berada di bawah standar juga mengalami peningkatan dan masuk kategori berkualitas.
Anggota KPI Pusat sekaligus penanggung jawab IKPSTV, Amin Shabana, mengatakan pengukuran kualitas diperlukan karena rating dan kualitas menggunakan pendekatan yang berbeda. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Diseminasi IKPSTV 2025 di Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025.
“IKPSTV lahir dari kegelisahan akan standar kualitas tayangan televisi yang selama ini lebih dipengaruhi angka rating,” kata Amin.
KPI juga mencatat bahwa berdasarkan pengukuran Nielsen, sinetron dan infotainment secara konsisten menjadi kategori dengan rating tinggi, tetapi dalam pengukuran kualitas keduanya pernah berada di bawah standar KPI. Kondisi ini menunjukkan bahwa popularitas dan kualitas tidak selalu berjalan beriringan.
Persoalan kualitas tayangan juga terlihat dari sejumlah teguran KPI terhadap program televisi. Salah satunya program “Mega Bollywood Pagi: Jeet” di ANTV yang mendapat teguran tertulis dari KPI.
Program tersebut ditayangkan pada 22 Agustus 2026 pukul 07.21 WIB dengan klasifikasi R13+. KPI menemukan adegan seorang pria mengisap rokok serta adegan konsumsi minuman beralkohol hingga terlihat sempoyongan.
KPI menilai tayangan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan mengenai perlindungan anak, pembatasan muatan rokok dan minuman beralkohol, serta klasifikasi program.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa programming televisi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menarik penonton. Isi program, klasifikasi usia, waktu tayang, serta kepatuhan terhadap aturan penyiaran juga menjadi bagian penting dalam menentukan kelayakan sebuah tayangan.
Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan memperkuat beberapa elemen programming, terutama consistency, timing, trend awareness, serta innovation and freshness. Stasiun televisi perlu memastikan isi program sesuai dengan target usia dan waktu tayang, melakukan evaluasi terhadap tren dan kebutuhan penonton, serta memperbarui konsep agar tetap menarik.
Dalam kasus “Mega Bollywood Pagi: Jeet”, evaluasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan klasifikasi program, menyaring adegan yang tidak sesuai, dan memastikan materi yang ditayangkan pada pagi hari aman bagi penonton R13+.
Selain itu, program tidak cukup hanya mengandalkan rating, tetapi perlu memiliki pembaruan agar tetap menarik tanpa mengabaikan kualitas. Materi programming menjelaskan bahwa keberhasilan program membutuhkan elemen yang tepat serta eksekusi yang baik dan kreatif.
Salah satu unsur yang dapat membuat program menarik adalah konflik. Zettl (2014) menjelaskan, “Conflict is central to drama because it provides the dynamic tension that holds the viewer’s attention.” Artinya, unsur hiburan tetap dapat digunakan untuk menarik penonton, tetapi harus dikemas secara kreatif dan bertanggung jawab.
KPI juga menegaskan tanggung jawab lembaga penyiaran terhadap kualitas isi siaran dan kepentingan publik. Komisioner KPI Pusat Fuji Samantha menyampaikan hal tersebut saat menerima kunjungan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
“Menjaga kualitas isi siaran serta melindungi kepentingan publik merupakan tugas utama dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI),” kata Fuji dalam situs KPI.
Dengan demikian, rating tetap penting bagi industri televisi karena menggambarkan respons penonton dan berkaitan dengan kepentingan pengiklan. Namun, angka tersebut tidak cukup menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan keberhasilan sebuah program.
Tantangan stasiun televisi adalah menjaga keseimbangan antara menarik penonton, memenuhi kebutuhan pengiklan, menjaga kualitas isi, menyesuaikan program dengan target audiens, melakukan inovasi, serta mematuhi aturan penyiaran. Kasus “Mega Bollywood Pagi: Jeet” menjadi salah satu contoh bahwa perhatian penonton tidak menghilangkan kewajiban stasiun televisi untuk memperhatikan kualitas dan kepentingan publik.


