Kawan GNFI, hampir setiap ibu hamil di Indonesia pernah memegang Buku Kesehatan Ibu dan Anak atau Buku KIA. Buku ini diberikan sejak masa kehamilan untuk mencatat hasil pemeriksaan sekaligus membekali ibu dengan informasi, mulai dari tanda bahaya hingga persiapan melahirkan. Menurut kajian yang dirujuk para peneliti, pembagiannya sudah menjangkau seluruh ibu hamil yang tercatat.
Namun memiliki buku belum tentu sama dengan menggunakannya. Penelitian dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional Jakarta mencoba melihat jarak antara keduanya di Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten. Hasilnya dimuat di Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat tahun 2026.
Topik ini menyangkut keselamatan ibu dan bayi. Secara global, rasio kematian ibu turun sekitar 40 persen pada 2000 sampai 2023, dari 328 menjadi 197 per 100.000 kelahiran hidup, tetapi masih jauh dari target 70 per 100.000 pada 2030. Persalinan di fasilitas kesehatan dengan tenaga terlatih menjadi salah satu kuncinya, dan Buku KIA dirancang untuk membantu ibu mengambil keputusan tersebut.
Dibagikan ke Semua, Dibaca oleh Sebagian
Data Riskesdas 2018 mencatat kepemilikan Buku KIA secara nasional baru 65,9 persen, dan hanya 49,7 persen ibu yang bisa menunjukkan bukunya. Di Wanasalam, 1.090 ibu hamil menerima Buku KIA, tetapi hanya 57 persen yang membaca sekaligus memahaminya, berdasarkan data yang dikutip penelitian ini.
Di wilayah yang sama pada 2024, 267 dari 882 ibu bersalin masih melahirkan di luar fasilitas kesehatan. Angka inilah yang mendorong peneliti menelusuri apakah Buku KIA benar-benar memengaruhi pilihan tempat bersalin.
Gambaran dari 86 Ibu Hamil Trimester III
Tim peneliti menyurvei 86 ibu hamil trimester III, lalu melengkapinya dengan wawancara mendalam kepada ibu, suami, bidan, dan seorang pakar. Hasilnya, 40 responden (46,5 persen) tergolong menggunakan Buku KIA dengan baik, sedangkan 46 lainnya belum.
Sebagian besar responden memiliki pengetahuan rendah (57 persen) dan motivasi rendah (62,8 persen). Dukungan tenaga kesehatan tergolong kurang pada 64 persen responden, dan dukungan keluarga kurang pada 65,1 persen.
Kesadaran Menjadi Penentu Utama
Setelah berbagai faktor diuji bersamaan, kesadaran muncul sebagai faktor paling dominan. Ibu dengan kesadaran baik memiliki peluang sekitar 24 kali lebih besar untuk menggunakan Buku KIA dengan baik dibanding ibu dengan kesadaran kurang.
Gambaran mentahnya terlihat jelas. Dari 43 ibu dengan kesadaran kurang, 38 orang menggunakan buku dengan kurang baik. Sebaliknya, dari 43 ibu dengan kesadaran baik, 35 orang menggunakannya dengan baik.
Satu catatan penting, Kawan: sampelnya relatif kecil, dan rentang ketidakpastian statistiknya lebar (95 persen CI 7,068 sampai 84,264). Jadi angka 24 kali sebaiknya dibaca sebagai penanda arah hubungan yang kuat, bukan ukuran yang presisi.
Buku yang Sering Berhenti di Meja Pemeriksaan
Wawancara mendalam membantu menjelaskan angka-angka tersebut. Seorang pakar menyebut pemantauan di lapangan lebih menekankan apakah ibu memiliki buku, bukan apakah buku itu dimanfaatkan. Tenaga kesehatan memang memakai Buku KIA, tetapi waktu yang terbatas membuat edukasi sering bergeser menjadi pencatatan.
Dari sisi ibu, pendidikan yang rendah dan istilah medis yang sulit dipahami membuat buku sulit dipelajari sendiri. Seorang informan bahkan menuturkan tidak bisa memahami isi buku dan akhirnya mengikuti saran orang tua.
Di sisi lain, ibu yang memahami tanda bahaya dan riwayat kehamilannya justru menjadikan buku ini pegangan. Salah satu informan dengan riwayat hipertensi menjadikan keselamatan ibu dan bayi sebagai pertimbangan utama saat memilih tempat bersalin.
Langkah yang Bisa Dilakukan
Peneliti menyarankan strategi terpadu: edukasi yang lebih intensif dan berkelanjutan, bahasa buku yang lebih mudah dipahami, pelibatan keluarga, serta evaluasi yang menilai dampak, bukan sekadar kepemilikan. Studi lain yang dikutip dalam jurnal ini menemukan bahwa kunjungan rumah dapat meningkatkan pemanfaatan Buku KIA hingga 20 persen dibanding kelompok pembanding.
Kabar baiknya, bukunya sudah ada di tangan para ibu. Tinggal bagaimana kita memastikan isinya benar-benar sampai ke pemahaman mereka.


