Kawan GNFI, setiap kali musim kemarau tiba, kabar mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir selalu menghiasi ruang publik. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), karhutla merupakan keadaan ketika api melanda hutan maupun lahan di suatu wilayah, merusak ekosistem lingkungan, hingga menimbulkan kerugian ekonomi yang luar biasa besar.
Salah satu dampak yang paling nyata dan langsung dirasakan oleh masyarakat adalah munculnya bencana kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari, melumpuhkan transportasi, hingga memicu berbagai gangguan kesehatan respirasi.
Data resmi dari Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan menyajikan gambaran yang perlu dicermati secara mendalam. Sepanjang periode Januari sampai Juli 2023 saja, total luas kebakaran lahan di Pulau Kalimantan tercatat mencapai 23.697,52 hektare. Angka kerugian lahan ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan pulau besar lainnya seperti Sumatera maupun Papua.
Berangkat dari urgensi dan angka kerentanan tersebut, para peneliti dari Program Studi Statistika Universitas Lambung Mangkurat terdorong untuk melakukan sebuah kajian ilmiah. Mereka memetakan titik panas (hotspot) di seluruh penjuru Kalimantan agar potensi kerawanan kebakaran dapat diantisipasi serta dimitigasi sejak dini. Hasil penelitian komprehensif ini kemudian dipublikasikan secara resmi dalam Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca pada tahun 2025.
Mengenal Apa Itu Titik Panas (Hotspot)
Dalam ranah kebencanaan dan meteorologi, titik panas atau hotspot merupakan indikator awal kebakaran yang terdeteksi pada suatu lokasi dengan suhu relatif lebih tinggi dibanding area di sekitarnya. Data titik panas ini umumnya ditangkap oleh sensor satelit penginderaan jauh yang merekam radiasi termal dari permukaan bumi, kemudian dipublikasikan secara berkala melalui platform SiPongi milik Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.
Kajian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Lambung Mangkurat ini memanfaatkan data sekunder yang disediakan platform tersebut. Artinya, pengumpulan data tidak dilakukan melalui pengukuran langsung di lapangan, melainkan dengan mengolah data spasial yang sudah tersedia. Pendekatan analisis statistika dan visualisasi spasial ini sangat krusial, sebab mampu mengungkap pola kerawanan tersembunyi yang sulit terbaca jika hanya melihat angka statistik per daerah secara parsial.
Mengubah Sebaran Titik Menjadi Peta Risiko Kerawanan
Cakupan wilayah yang dianalisis dalam penelitian ini terbilang sangat luas, mencakup 56 kabupaten dan kota yang tersebar di Pulau Kalimantan. Untuk memetakan pola distribusi serta konsentrasi titik panas secara presisi, para peneliti mengaplikasikan tiga pendekatan alat analisis spasial utama, yaitu:
Indeks Moran: Digunakan untuk menguji ada atau tidaknya autokorelasi spasial secara global di seluruh wilayah Kalimantan.
Local Indicator of Spatial Association (LISA): Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi spesifik yang membentuk klaster kerawanan (area dengan titik panas tinggi yang dikelilingi wilayah ber-titik panas tinggi).
Getis-Ord Gi*: Digunakan untuk memetakan titik panas (hotspot) dan titik dingin (coldspot) secara lebih komprehensif berdasarkan tingkat signifikansi statistika.
Ketiga metode analisis statistika ini membantu menjawab satu pertanyaan fundamental: apakah daerah-daerah yang berdekatan cenderung memiliki tingkat kepadatan titik panas yang mirip? Hasil olah data tersebut selanjutnya disajikan dalam bentuk peta tematik agar lebih interaktif dan mudah dipahami oleh pemangku kepentingan maupun masyarakat luas.
Wilayah yang Menonjol dan Memerlukan Perhatian Khusus
Sebelumnya, pemerintah pusat telah memberikan perhatian ekstra pada tiga provinsi yang langganan mengalami kebakaran lahan parah, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Namun, dari hasil analisis klaster spasial dalam penelitian ini, wilayah yang tergolong sangat rawan sepanjang musim kemarau 2023 justru didominasi oleh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat serta Kalimantan Timur. Baik analisis LISA maupun Getis-Ord Gi* menunjukkan hasil yang konsisten dan relatif senada mengenai konsentrasi risiko tersebut.
Manfaat Nyata bagi Mitigasi Bencana dan Publik
Keberadaan titik panas merupakan sebuah indikator awal, bukan bukti mutlak bahwa pada detik yang sama telah terjadi kebakaran hebat di lapangan. Oleh karena itu, penyusunan peta risiko berbasis analisis spasial seperti ini memegang peranan kunci sebagai sistem peringatan dini (early warning system).
Dengan informasi visual yang akurat, pemerintah daerah, BPBD, dan pihak berwenang dapat mengalokasikan personel serta sumber daya penanggulangan secara lebih efektif dan cepat sebelum api membesar.
Kabar baiknya, data sebaran titik panas dari satelit kini dapat diakses secara terbuka oleh publik. Peluang ini membuka ruang seluas-luasnya bagi kalangan akademisi, perguruan tinggi, komunitas pecinta lingkungan, hingga peneliti muda untuk berkolaborasi mengolah data mentah menjadi sajian informasi yang edukatif dan bermanfaat bagi aksi perlindungan bumi.


