Kawan GNFI, ketika sebuah gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas, masyarakat tidak lagi sepenuhnya menunggu hingga erupsi terjadi untuk mengetahui apa yang harus dilakukan. Ada pemantauan, sistem peringatan, peta kawasan rawan bencana, hingga rekomendasi evakuasi.
Namun, satu pertanyaan tetap penting: apakah mengetahui risiko otomatis membuat masyarakat siap menghadapinya? Pertanyaan tersebut kembali relevan ketika Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami peningkatan aktivitas pada akhir Agustus 2026.
Badan Geologi menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada 31 Agustus 2026. Masyarakat juga direkomendasikan untuk tidak beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, dalam radius 3 kilometer dari puncak, serta radius sectoral 6 kilometer ke arah selatan-tenggara. Sehari setelah peningkatan status tersebut, sekitar 211 keluarga atau 615 jiwa dari Desa Kuta Tengah.
Peta Dapat Menunjukkan Risiko, tetapi Manusia Hidup di Dalamnya
Kawan GNFI, Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai instrument untuk memahami risiko bencana. Salah satunya adalah InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI), risiko tidak hanya dihitung berdasarkan bahaya atau hazard, tetapi juga mempertimbangkan kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity).
Artinya, peta risiko bukan sekedar menunjukkan wilayah yang berada di dekat sumber bahaya. Di dalamnya terdapat pertanyaan yang lebih kompleks: siapa yang terpapar, seberapa rentan mereka, dan seberapa besar kemampuan mereka menghadapi ancaman tersebut.
Bayangkan dua komunitas yang sama-sama berada di wilayah rawan bencana. Keduanya mungkin menghadapi bahaya yang serupa, tetapi belum tentu memiliki kapasitas yang sama. Salah satunya mungkin memiliki jalur evakuasi yang dipahami warga, kelompok relawan yang aktif, komunikasi yang berjalan baik, dan pengalaman melakukan simulasi. Komunitas lainnya mungkin menghadapi keterbatasan akses informasi, transportasi, atau sumber daya. Karena itu, bahaya yang sama tidak selalu menghasilkan risiko yang sama.
Mengetahui Risiko Tidak Selalu Berarti Siap
Seseorang mungkin mengetahui bahwa rumahnya berada di wilayah rawan erupsi. Tetapi pengetahuan tersebut masih menyisakan sejumlah pertanyaan.
Apakah Kawan GNFI mengetahui kapan harus mengungsi? Apakah sudah memiliki rencana jika peringatan dikeluarkan pada malam hari? Ke mana Kawan GNFI harus pergi? Bagaimana jika terdapat anak-anak, lansia, atau anggota keluarga dengan kebutuhan khusus? Bagaimana jika keputusan untuk mengungsi berarti meninggalkan rumah, ternak, lahan pertanian, atau sumber penghasilan?. Pertanyaan- pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak berhenti pada tersedianya informasi.
Penelitian mengenai respons masyarakat terhadap krisi Gunung Sinabung dan Gunung Kelud menunjukkan bahwa pemahaman mengenai bahaya, risiko, dan sistem peringatan merupakan faktor penting dalam membangun respons masyarakat. Namun, respons tersebut juga dipengaruhi oleh budaya lokal, karakter masyarakat, peran pemimpin lokal, keterlibatan masyarakat sebelum krisis, serta hubungan antara pemerintah dan komunitas. Dengan kata lain, informasi risiko perlu memiliki jalan menuju tindakan.
Ketika Risiko Menjadi Bagian dari Kehidupan
Gunung Sinabung memberikan gambaran bahwa masyarakat di wilayah rawan bencana tidak dapat dipandang hanya sebagai titik-titik yang berada di dalam sebuah peta. Di balik satu titik pada peta terdapat rumah, keluarga, lahan pertanian, sekolah, pekerjaan,jaringan sosial, serta sejarah panjang hubungan masyarakat dengan tempat tinggalnya.
Karena itu, hidup di wilayah rawan bukan selalu berarti masyarakat tidak memahami bahaya. Keputusan untuk tetap tinggal atau kembali ke suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi, keterikatan terhadap tempat, pengalaman sebelumnya, maupun hubungan sosial.
Sejumlah penelitian tentang masyarakat di sekitar gunung api di Indonesia menunjukkan bahwa persepsi risiko tidak selalu berjalan lurus dengan pengetahuan mengenai bahaya. Faktor sosial, budaya, pengalaman, dan kondisi ekonomi turut memengaruhi bagaimana masyarakat merespons ancaman.
Di sinilah konsepΒ living with risk menjadi penting. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan satu kejadian bencana, tetapi menjalani kehidupan sehari-hari dalam lingkungan yang memiliki potensi bahaya.
Dari Peta Menuju Kapasitas Masyarakat
Lalu, apa yang dapat dilakukan? Peta risiko tetap merupakan fondasi penting. Tanpa mengetahui lokasi bahaya, kelompok yang terpapar, serta tingkat kerentanan dan kapasitas, perencanaan pengurangan risiko akan sulit dilakukan.
Namun, peta perlu diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat digunakan masyarakat.
Informasi spasial dapat dipadukan dengan pemetaan partisipatif untuk mengetahui jalur yang benar-benar digunakan warga, lokasi kelompok rentan, serta sumber daya yang tersedia di tingkat komunitas. Sistem peringatan juga perlu disampaikan melalui bahasa dan saluran yang mudah dipahami.
Simulasi dapat menjadi ruang untuk menguji apakah masyarakat benar-benar mengetahui apa yang harus dilakukan, bukan sekadar pernah menerima sosialisasi.
Pengetahuan lokal pun tidak harus ditempatkan berlawanan dengan pengetahuan ilmiah. Penelitian terbaru mengenai komunitas di sekitar Gunung Merapi menunjukkan bahwa pengetahuan lokal, pengalaman hidup, jaringan sosial, pemantauan ilmiah, dan perencanaan evakuasi partisipatif dapat saling memperkuat dalam membangun kesiapsiagaan.
Dengan demikian, hubungan yang perlu dibangun bukan hanya:
peta β informasi,
melainkan:
peta β pemahaman β partisipasi β kapasitas β tindakan.
Peta Adalah Awal, Bukan Akhir
Kemajuan teknologi membuat manusia semakin mampu memetakan risiko secara detail. Kita dapat mengetahui lokasi bahaya, memperkirakan wilayah yang terdampak, dan memantau perubahan aktivitas gunung api melalui berbagai instrumen.
Namun ketika bencana benar-benar datang, keputusan tetap berada di tangan manusia yang hidup di dalam ruang tersebut.
Karena itu, keberhasilan pengurangan risiko bencana tidak cukup diukur dari seberapa detail sebuah wilayah dapat dipetakan. Yang tidak kalah penting adalah apakah informasi tersebut dapat dipahami, dipercaya, dan digunakan masyarakat untuk mengambil keputusan.
Sebab masyarakat tidak hidup di dalam peta. Mereka hidup di ruang yang digambarkan oleh peta tersebut.


