di pandjaitan jejak perjuangan dan rumah yang menjadi saksi tragedi 1965 - News | Good News From Indonesia 2026

D.I. Pandjaitan, Jejak Perjuangan dan Rumah yang menjadi Saksi Tragedi 1965

D.I. Pandjaitan, Jejak Perjuangan dan Rumah yang menjadi Saksi Tragedi 1965
images info

D.I. Pandjaitan, Jejak Perjuangan dan Rumah yang Menjadi Saksi Tragedi 1965 | Sumber: Wikimedia Commons @Indonesiagood


Donald Izacus Pandjaitan (sebagian mengeja Izacus sebagai Isaac) atau yang lebih dikenal sebagai D.I. Pandjaitan merupakan salah satu tokoh militer tanah air yang dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi setelah gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September atau G30S 1965.

Peristiwa kelam tersebut merenggut nyawa enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat di Jakarta, yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi oleh negara. Hingga kini, latar belakang dan dalang di balik peristiwa tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Di sejumlah publikasi resmi pemerintah, peristiwa ini dicatat sebagai G30S/PKI, istilah yang mulai muncul sejak tahun 1966 dengan narasi tunggal yang diusung oleh rezim Orde Baru. Di balik tragedi nasional tersebut, tersimpan perjalanan hidup seorang anak bangsa yang merintis karier dari bawah hingga menjadi salah satu pilar penting militer Indonesia.

Dari Balige, Masa Muda D.I. Pandjaitan yang Tidak Mudah

Donald Izacus Pandjaitan dilahirkan di Desa Sitorang, Balige, Tapanuli, pada tanggal 10 Juni 1925 dari pasangan Herman Pandjaitan dan Dina Pohan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar Hollandsch Inlandsche School (HIS), ia dikenal sebagai anak yang cerdas hingga bisa langsung melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) tanpa melalui ujian.

Berdasarkan catatan Mardanas Safwan dalam buku Major Jenderal Anumerta D.I. Pandjaitan (1981), ia sebenarnya sempat berniat melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS) dan telah dinyatakan lulus ujian masuk. Namun, rencana tersebut harus kandas karena kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan.

Cobaan hidupnya semakin bertambah ketika ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal dunia saat ia masih menempuh pendidikan di MULO. Dalam situasi sebatang kara dan penuh keterbatasan, ia tetap berjuang keras hingga berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Pengalaman masa muda yang diwarnai kesulitan ekonomi dan perubahan keadaan ini menjadi fondasi ketangguhan mental yang membentuk karakternya di kemudian hari. Perjalanan hidup penuh liku tersebut sekaligus menjadi jembatan awal yang membawanya melangkah ke dunia militer.

baca juga

Ketika Giyugun Membawa D.I. Pandjaitan ke Jalan Perjuangan

Sebelum masuk ke dunia militer, Pandjaitan sempat bekerja di sebuah perusahaan kayu milik Jepang bernama Ataka Sangyo Keboshihi Kaisha di Siak Sri Indrapura, Riau. Perusahaan yang memproduksi kapal-kapal kayu berkapasitas 200 ton tersebut mempekerjakan para romusha asal Jawa untuk menebang kayu di hutan.

Setiap hari, ia menyaksikan langsung perlakuan tidak manusiawi yang diterima oleh para pekerja paksa tersebut. Pengalaman menyaksikan ketidakadilan ini menumbuhkan ketertarikannya untuk bergabung dengan tentara ketika pemerintah pendudukan Jepang membentuk Giyugun di Sumatra pada akhir tahun 1944.

Menjelang akhir Perang Pasifik, Jepang menyerah pada 14 Agustus 1945 dan Giyugun dibubarkan, sehingga ia kehilangan pekerjaannya di Riau. Dalam situasi transisi kemerdekaan tersebut, ia berinisiatif menghubungi mantan anggota Giyugun dan pemuda setempat untuk mendirikan Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Riau.

Pada November 1945, PRI melebur ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibagi menjadi tiga batalyon di Pekanbaru, Bengkalis, dan Indragiri. Ia kemudian ditunjuk sebagai Komandan Batalyon Pekanbaru dan meneruskan pengabdiannya sebagai Komandan Batalyon Resimen IV Riau dengan pangkat Mayor di dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Dua Dekade dalam Seragam: Perjalanan Karier D.I. Pandjaitan

Karier militer Pandjaitan terus berkembang melalui berbagai penugasan penting di wilayah Sumatra, termasuk di Bukittinggi, Medan, dan Palembang selama masa revolusi fisik. Ketika Republik menghadapi Agresi Militer Belanda II, ia memegang peran krusial dalam mengelola bidang perbekalan dan logistik tentara.

Setelah periode revolusi mereda, ia mendapatkan penugasan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Pengalaman dan dedikasinya yang tinggi membuat Jenderal Ahmad Yani kemudian mengangkatnya sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) bidang logistik pada 1 Juli 1962 dengan pangkat Kolonel.

Dalam struktur militer, bidang logistik memegang peran yang sangat vital karena mencakup pengurusan perbekalan, persenjataan, transportasi, serta seluruh kebutuhan operasional pasukan. Setahun setelah mengemban posisi strategis tersebut, ia resmi diangkat menjadi Brigadir Jenderal pada tahun 1963.

Sebagai salah satu orang kepercayaan di lingkaran pimpinan Angkatan Darat, posisi penting ini secara tidak langsung menempatkannya ke dalam daftar target penculikan kelompok militer pimpinan Letnan Kolonel Untung pada akhir September 1965.

baca juga

Potret Brig. Gen. D.I. Panjaitan | Sumber: Wikimedia Commons @Davidelit
info gambar

Potret Brig. Gen. D.I. Panjaitan | Sumber: Wikimedia Commons @Davidelit


Di Balik Seragam, ada Seorang Suami dan Ayah

Di balik ketegasannya sebagai seorang perwira tinggi militer, Pandjaitan adalah sosok suami bagi istrinya, Marieke br. Tambunan, serta seorang ayah bagi anak-anaknya. Kehidupan rumah tangga mereka berjalan beriringan di tengah dinamika penugasan militer yang berpindah-pindah.

Sisi domestik dan keharmonisan keluarga ini banyak diabadikan melalui buku biografi yang disusun atas keterlibatan langsung Ny. Marieke. Buku tersebut merangkum kesaksian dari sang istri, anak-anak, adik, ajudan, hingga rekan-rekan seperjuangan, sehingga menjadi sumber berharga untuk mengenal kehidupan personal sang jenderal.

Karakter religius Pandjaitan juga kerap dikenang oleh keluarga dan rekan-rekan terdekatnya melalui kebiasaan-kebiasaan sehari-hari. Pada hari-hari terakhir sebelum wafat, ia dikenal sering meluangkan waktu untuk membaca buku-buku keagamaan di sela kesibukannya.

Kesaksian dari pihak keluarga ini memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai sisi humanis seorang perwira yang taat beribadah sebelum menghadapi hari-hari terakhir dalam hidupnya.

Rumah di Jalan Hasanudin yang menjadi Saksi Sejarah

Rumah yang terletak di Jalan Hasanudin No. 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, merupakan salah satu situs bersejarah yang berkaitan erat dengan kehidupan keluarga Pandjaitan. Tempat tinggal tersebut diperoleh ketika ia kembali dari penugasan luar negeri dan belum memiliki rumah dinas tetap.

Berdasarkan catatan keluarga, kawasan Kebayoran Baru pada masa pembangunan rumah sekitar tahun 1956 masih tergolong lengang dan belum ramai seperti kawasan komersial Blok M saat ini.

Bangunan bernilai sejarah ini kini telah tercatat resmi sebagai bangunan cagar budaya DKI Jakarta. Rumah tersebut juga pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Pengkhianatan G30S/PKI pada tahun 1980-an, meskipun adegan sinematik tersebut tidak bisa sepenuhnya dijadikan sumber acuan sejarah utama.

Hingga kini, bangunan fisik di Jalan Hasanudin ini tetap berdiri sebagai saksi bisu bisu yang menyimpan memori kelam malam pergantian bulan pada tahun 1965.

baca juga

Dini Hari 1 Oktober 1965 dan Akhir Hidup D.I. Pandjaitan

Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan bersenjata lengkap dari Resimen Cakrabirawa pimpinan Sersan Soekarjo mendatangi kediaman Pandjaitan di Kebayoran Baru. Kedatangan gerombolan tersebut memecah kesunyian malam dan membuat seluruh anggota keluarga terbangun dari tidur.

Situasi di dalam rumah menjadi mencekam ketika pasukan mulai melepaskan tembakan ke arah paviliun hingga memicu kepanikan dan perlawanan dari para keponakan yang berada di dalam rumah. Demi melindungi keselamatan istri dan anak-anaknya yang ketakutan, ia memutuskan untuk keluar menghadapi situasi di lantai bawah.

Sebelum keluar, ia sempat mengenakan seragam militer lengkap dengan tanda pangkatnya serta meluangkan waktu untuk berdoa. Tidak lama setelah melangkah keluar, sebuah timah panas menembus kepalanya dan mengakhiri hidupnya di halaman rumah.

Jenazahnya kemudian diangkut secara paksa ke kawasan Lubang Buaya bersama para perwira korban lainnya. Setelah jasadnya ditemukan dan dievakuasi pada 4 Oktober 1965, ia dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965.

baca juga

Dari Perjuangan hingga Pahlawan Revolusi

Negara mengenang jasa besar D.I. Pandjaitan dengan menganugerahinya gelar Pahlawan Revolusi atas pengorbanan jiwa raga dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Pangkat terakhirnya saat wafat adalah Brigadir Jenderal, yang kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Mayor Jenderal Anumerta.

Penghormatan ini diberikan sebagai bentuk penghargaan tertinggi atas rekam jejak pengabdian militer yang telah ia jalani selama puluhan tahun.

Benang merah kehidupan D.I. Pandjaitan mencakup perjalanan panjang dari masa muda penuh keterbatasan di Balige, perjuangan di Riau dan Sumatra, hingga pengabdiannya di pusat pemerintahan.

Warisan sejarah sang pahlawan tidak hanya berhenti pada gelar kehormatan negara, tetapi juga terpatri pada jejak fisik seperti rumah bersejarah di Kebayoran Baru. Melalui memori kolektif tersebut, generasi bangsa diharapkan dapat terus mengenang keteladanan dan pengorbanan para perwira dalam menjaga keutuhan Republik Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Maulana Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Maulana Latumeten.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.