sosok itox triwa konten kreator asli jogja yang membaca masalah kota lewat peta dan data - News | Good News From Indonesia 2026

Sosok Itox Triwa, Konten Kreator Asli Jogja yang Membaca Masalah Kota Lewat Peta dan Data

Sosok Itox Triwa, Konten Kreator Asli Jogja yang Membaca Masalah Kota Lewat Peta dan Data
images info

sosok itox triwa | dokumen pribadi


Itox Triwa, seorang konten kreator asal Yogyakarta, mencuri perhatian warganet melalui konten-kontennya yang membahas persoalan kemacetan, infrastruktur jalan, hingga transportasi publik di Indonesia.

Melalui video yang dibuatnya, Itox tidak hanya mengangkat masalah yang kerap ditemui pengguna jalan, tetapi juga menawarkan alternatif solusi yang menurutnya layak dipertimbangkan.

Gagasan-gagasan tersebut membuka ruang diskusi di tengah masyarakat. Sebagian orang menyambutnya sebagai cara baru untuk melihat persoalan transportasi, sementara sebagian lainnya memiliki pandangan berbeda.

Perdebatan itu memperlihatkan bahwa persoalan jalan dan transportasi tidak selalu sesederhana yang terlihat dari permukaan.

Menariknya, di balik video berdurasi beberapa menit, terdapat proses panjang yang tidak selalu diketahui penonton. Itox mempelajari kondisi jalan melalui peta digital, menelusuri peraturan, mengolah data, hingga berulang kali meninjau gagasan yang ia miliki.

"Aku ingin membahas semua hal tentang Jogja," ujarnya ketika menceritakan awal mula perjalanan sebagai konten kreator.

Keinginan itu kemudian berkembang. Dari berbagai topik yang pernah dicoba, pembahasan mengenai transportasi dan infrastruktur menjadi salah satu fokus utamanya.

Lantas, siapa Itox Triwa, apa yang mendorongnya membuat konten tentang persoalan kota, dan bagaimana proses yang ia lakukan untuk merumuskan alternatif solusi? Berikut kisahnya dalam wawancara eksklusif Good News From Indonesia (GNFI) bersama Itox Triwa.

Berawal dari keinginan membahas hal-hal kecil tentang Jogja

Jauh sebelum konten transportasinya mendapatkan perhatian luas, Itox telah mencoba berbagai tema. Ia pernah membuat konten edukasi tentang gempa, membahas sejarah, hingga mengangkat berbagai hal yang berkaitan dengan lingkungan sekitarnya.

Itox tumbuh di Yogyakarta dan menempuh pendidikan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi di kota tersebut. Kedekatannya dengan Jogja membuatnya merasa memiliki banyak hal untuk diceritakan tentang kota yang telah lama dikenalnya.

"Dari kecil sudah di Jogja. SD, SMP, SMA, bahkan kuliah itu di Jogja semua," katanya.

Kedekatan itu pula yang membuatnya ingin mengangkat hal-hal yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Ia ingin membahas persoalan di sekitar Jogja, termasuk hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian.

"Sebenarnya pengen membahas semua hal tentang Jogja," ujarnya.

Namun, perjalanan kontennya tidak langsung berfokus pada transportasi. Ia mencoba sejumlah topik sambil mencari bentuk yang paling sesuai. Konten edukasi tentang gempa pernah dibuatnya, begitu pula konten sejarah yang membutuhkan riset cukup panjang.

"Aku awalnya nyoba-nyoba terus," tuturnya, menggambarkan masa ketika ia belum menetapkan satu tema utama.

Titik penting dalam perjalanannya datang ketika ia membuat konten mengenai Artos Magelang. Saat melihat persoalan lalu lintas di kawasan tersebut, ia mulai memikirkan kemungkinan solusi yang bisa ditawarkan.

Ia tidak menyangka konten itu akan mendapat perhatian besar.

"Aku tidak menyangka bakal sebanyak itu yang menonton. Awalnya paling cuma beberapa ribu," katanya ketika menceritakan ekspektasinya saat mengunggah konten tersebut.

Respons yang melampaui perkiraan itu mendorongnya untuk semakin banyak membahas persoalan transportasi.

Meski demikian, Itox tidak menganggap dirinya langsung menguasai bidang tersebut. Latar belakang pendidikannya justru berasal dari bidang elektro, yang tidak berkaitan langsung dengan transportasi.

"Kan elektro. Elektro sama transportasi enggak nyambung," ujarnya, mengakui perbedaan antara latar belakang pendidikannya dan tema konten yang kini banyak ia garap.

Namun, ia merasa pendidikan teknik memberinya bekal dalam cara berpikir. Kebiasaan mengurai masalah secara sistematis menjadi modal ketika ia mulai mempelajari persoalan jalan dan mencari kemungkinan penyelesaiannya.

Bukan sekadar mengejar jumlah penonton

Di tengah persaingan konten digital yang kerap menjadikan jumlah penonton sebagai tolok ukur keberhasilan, Itox memiliki ukuran tersendiri mengenai pencapaian yang ingin diraih.

Ia ingin memiliki legacy atau warisan berupa pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain.

Keinginan itu tumbuh dari kesadarannya bahwa membuat konten bukan hanya soal mendapatkan perhatian. Ia ingin suatu saat orang menjadikannya rujukan ketika hendak memahami sesuatu.

"Kalau orang merujuk kepadamu sebagai tempat bertanya, itu sudah menyenangkan," katanya.

Bagi Itox, menjadi seseorang yang dapat membantu orang lain memahami sebuah persoalan merupakan pencapaian tersendiri. Ia tidak ingin seluruh usahanya hanya diukur dari berapa banyak uang yang diperoleh.

"Enggak apa-apa kalau enggak dapat banyak uang. Yang penting kontenku bisa menjadi referensi orang," ujarnya.

Pandangan itu terbentuk dari pengalamannya membuat konten sejarah. Menurutnya, konten sejarah membutuhkan waktu riset yang panjang karena ia harus mempelajari banyak sumber dan memahami materi sebelum menyajikannya kepada penonton.

"Kalau sejarah, aku harus belajar lagi. Aku harus belajar dari banyak buku," tuturnya.

Ia pernah menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk mengerjakan sebuah video. Namun, setelah dimonetisasi, penghasilan yang diterima sekitar Rp200 ribu. Pengalaman tersebut sempat membuatnya berhenti.

Waktu dan tenaga yang dicurahkan terasa tidak sebanding dengan hasil finansialnya. Namun, seiring waktu, ia kembali membuat konten dengan cara pandang berbeda.

Kini, konten sejarah masih menjadi bagian dari aktivitasnya, meskipun tidak sesering sebelumnya. Ia memperkirakan konten sejarah dibuat sekitar sebulan sekali, sedangkan konten transportasi bisa hadir lebih rutin, bahkan sekitar seminggu sekali.

"Kalau transportasi, lebih mudah dibuat," ujarnya.

Meski begitu, kemudahan relatif tersebut bukan berarti ia membuat konten transportasi tanpa riset. Sebaliknya, ia tetap berusaha memahami persoalan dan memeriksa informasi sebelum menyusun gagasan yang akan disampaikan.

Membaca persoalan kota melalui peta dan data

Salah satu hal menarik dari proses kerja Itox adalah cara ia mengumpulkan informasi. Ia tidak selalu harus mendatangi lokasi secara langsung untuk memahami persoalan yang terjadi.

Untuk kawasan di luar Yogyakarta, ia banyak memanfaatkan peta digital, Street View, video yang direkam orang-orang di lokasi, serta sumber informasi lain yang relevan. Sementara itu, untuk kawasan Jogja dan sekitarnya, ia lebih mengenal kondisi wilayah melalui pengalaman langsung.

"Kalau di Jogja, jelas aku sudah pernah. Kalau yang di luar Jogja, aku lihat dulu masalahnya di mana," katanya.

Menurutnya, memahami persoalan jalan tidak cukup hanya dengan melihat peta dari atas. Ia perlu mengetahui konteks lingkungan dan bagaimana kondisi jalan dilihat oleh orang yang menggunakannya.

"Street View membantu banget," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tampilan jalan dari Street View membantunya memahami lingkungan sekitar, posisi persimpangan, dan kondisi yang mungkin berpengaruh terhadap lalu lintas.

"Kalau cuma peta dari atas saja, enggak bisa," katanya.

Setelah menemukan persoalan yang ingin dibahas, proses berlanjut pada pengumpulan data dan penelusuran peraturan. Itox mencari ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, termasuk ukuran atau persyaratan teknis yang diperlukan.

"Peraturan itu publik. Aku cari, kemudian aku baca detailnya," tuturnya.

Dalam proses pengukuran dan visualisasi, ia menggunakan perangkat lunak GIS, terutama QGIS. Hasil pengamatan dari QGIS terkadang dipindahkan ke Corel untuk membantu perbandingan dan penyusunan ilustrasi. Untuk mengedit video, ia menggunakan Vegas Pro.

"Kalau untuk mengukur, aku pakai QGIS," katanya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan citra satelit dapat membantu proses pengukuran. Informasi tersebut kemudian diolah menjadi visualisasi yang lebih mudah dipahami penonton.

Rangkaian alat tersebut menjadi bagian penting dalam pekerjaannya. Sebuah persoalan yang awalnya hanya terlihat sebagai titik kemacetan, misalnya, dapat dikaji lebih jauh melalui kondisi fisik jalan, ukuran, peraturan, dan kemungkinan rekayasa yang bisa dilakukan.

Dengan cara itu, Itox mencoba membawa diskusi mengenai transportasi melampaui keluhan semata. Ia ingin menunjukkan masalahnya sekaligus membantu audiens memahami mengapa persoalan itu bisa terjadi dan alternatif apa yang mungkin dipertimbangkan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Sholeh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Sholeh.

MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.