kapan lebaran 2026 di arab saudi ini perkiraan 1 syawal 1447 h - News | Good News From Indonesia 2026

Kapan Lebaran 2026 di Arab Saudi? Ini Alasannya Bisa Berbeda dengan Indonesia

Kapan Lebaran 2026 di Arab Saudi? Ini Alasannya Bisa Berbeda dengan Indonesia
images info

Kapan Lebaran 2026 di Arab Saudi? Ini Alasannya Bisa Berbeda dengan Indonesia | Foto: (Pexels | Engin Akyurt)


Hari Raya Idulfitri atau Lebaran merupakan momen yang dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Namun, tanggal perayaannya bisa berbeda antara Indonesia dan negara lain karena setiap negara dapat menggunakan metode penentuan yang berbeda.

Lantas, kapan Lebaran 2026 di Arab Saudi? Apakah sama dengan Indonesia? Simak penjelasannya.

Perkiraan Lebaran 2026 di Arab Saudi: 1 Syawal 1447 H

Pemerintah Arab Saudi melalui Mahkamah Agung sebelumnya menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Berdasarkan awal Ramadan tersebut, Idulfitri diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 apabila Ramadan berlangsung 29 hari, atau Sabtu, 21 Maret 2026 jika Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

Sejumlah astronom di kawasan Timur Tengah memprediksi bahwa Ramadan tahun 2026 kemungkinan besar berjumlah 30 hari (istikmal). Karena itu, banyak kalender perkiraan mencantumkan Sabtu, 21 Maret 2026 sebagai hari pertama Idulfitri di Arab Saudi.

Namun, kepastian tanggal Lebaran di Arab Saudi tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang akan dilakukan pada malam ke-29 Ramadan, yaitu 19 Maret 2026.

baca juga

Perkiraan Lebaran 2026 di Indonesia: 1 Syawal 1447 H

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah akan digelar pada Kamis, 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.

Sidang tersebut dijadwalkan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

Pelaksanaannya didasarkan pada perhitungan hisab serta hasil pemantauan hilal (rukyat) yang telah diverifikasi melalui mekanisme yang terbuka kepada publik.

Rangkaian kegiatan akan diawali dengan seminar mengenai posisi hilal. Selanjutnya dilakukan verifikasi laporan rukyatulhilal dari berbagai daerah, dilanjutkan sidang isbat, dan diakhiri dengan pengumuman resmi penetapan 1 Syawal 1447 H oleh Menteri Agama.

Apabila hilal teramati dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, maka keesokan harinya akan ditetapkan sebagai 1 Syawal. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat dan secara perhitungan astronomi belum memenuhi syarat, maka bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Abu Rokhmad, mengimbau masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah setelah seluruh rangkaian sidang selesai dilaksanakan.

Namun, menurut kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan pemerintah, Hari Raya Idulfitri 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

baca juga

Faktor Penyebab Perbedaan Lebaran 2026 antara Indonesia dan Arab Saudi

Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 2026 antara Indonesia dan Arab Saudi dapat terjadi karena masing-masing negara menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah.

  1. Perbedaan metode penentuan hilal
    Indonesia menetapkan awal bulan Hijriah dengan menggabungkan metode rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi) yang mengacu pada kriteria imkan rukyat MABIMS. Dalam kriteria ini, hilal dinyatakan mungkin terlihat jika memenuhi syarat tertentu, seperti ketinggian bulan minimal sekitar 3 derajat dan elongasi tertentu dari matahari.

    Sementara itu, Arab Saudi lebih mengutamakan rukyatul hilal secara langsung berdasarkan laporan kesaksian para pengamat. Dalam beberapa kondisi, kesaksian tersebut dapat diterima oleh otoritas setempat meskipun secara perhitungan astronomi posisi hilal masih sangat rendah.

  2. Perbedaan wilayah geografis
    Letak geografis Indonesia dan Arab Saudi yang berjauhan menyebabkan perbedaan waktu matahari terbenam serta posisi bulan saat pengamatan. Kondisi ini dapat memengaruhi peluang terlihatnya hilal di masing-masing wilayah.

  3. Kebijakan otoritas keagamaan
    Di Indonesia, penetapan awal bulan Hijriah dilakukan melalui sidang isbat pemerintah yang melibatkan Kementerian Agama, ahli astronomi, serta perwakilan organisasi Islam. Sementara itu, di Arab Saudi keputusan resmi berada di tangan Mahkamah Agung yang menetapkan awal bulan berdasarkan laporan rukyat dari berbagai daerah.

Karena perbedaan metode, kondisi geografis, dan mekanisme penetapan tersebut, terdapat kemungkinan tanggal 1 Syawal 1447 H atau Lebaran 2026 berbeda antara Indonesia dan Arab Saudi, meskipun pada beberapa tahun keduanya juga dapat jatuh pada hari yang sama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.