PT Kereta Api Indonesia (Persero) melanjutkan rencana penggabungan operasional Stasiun Karet dan Stasiun BNI City. Proyek integrasi dua titik pemberhentian moda transportasi massal di wilayah Jakarta Pusat ini ditargetkan dapat mulai terealisasi sekitar bulan November atau Desember tahun ini.
Penyatuan fungsi layanan ini dilakukan setelah mempertimbangkan faktor keselamatan perjalanan serta efisiensi operasional kereta. Jalur pelintasan di antara kedua stasiun tersebut dinilai memiliki tingkat risiko kecelakaan yang cukup tinggi akibat jarak antar-peron yang terlalu dekat, yakni hanya terpaut sekitar 150 meter.
"Jadi Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City ini jaraknya cuma 150 meter, jadi kereta jalan, habis itu ngerem lagi. Dan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas di stasiun karet ini cukup tinggi," ungkap Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam Rapat Dengar Pendapat bersama DPR RI.
Melalui skema penataan kawasan yang baru, bangunan fisik Stasiun Karet nantinya akan dialihfungsikan menjadi area selasar penghubung yang panjang. Guna menjamin aspek kenyamanan pergerakan penumpang komuter, koridor penghubung tersebut bakal dilengkapi dengan fasilitas eskalator datar atau travelator layaknya sarana di bandara internasional.
Meskipun lajur pemberhentian kereta mengalami perubahan, mekanisme pemeriksaan tiket tidak akan dihilangkan. Seluruh aktivitas pemindaian kartu masuk maupun keluar (tap in dan tap out) para pengguna jasa angkutan tetap dipusatkan sepenuhnya pada gerbang pintu utama di dalam bangunan Stasiun BNI City.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


