Pemerintah mulai mengambil langkah mengatasi meroketnya harga plastik di pasar domestik melalui diversifikasi sumber pasokan bahan baku dari berbagai negara.
Tekanan harga ini dipicu oleh gangguan pasokan nafta akibat konflik yang terus memanas di Timur Tengah, sehingga Indonesia kini beralih mencari alternatif ke India, Afrika, dan Amerika.
Lonjakan harga plastik yang mencapai 50 persen telah memberikan efek domino yang serius terhadap industri pangan nasional, terutama pada biaya kemasan beras, gula, dan minyak goreng premium.
Pemerintah juga mulai mengeksplorasi penggunaan LPG dari kawasan Eurasia sebagai substitusi nafta guna memastikan keberlangsungan produksi plastik di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"Kita sudah dapat alternatif dari India, Afrika, dan Amerika. Upaya ini dilakukan untuk menjaga industri dalam negeri dari imbas perang di Timur Tengah," ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso, Senin (20/4).
Titik terang juga muncul dari kerja sama regional dengan Malaysia. Produsen plastik di Sarawak dilaporkan telah merespons permintaan Indonesia untuk memasok kemasan dengan harga yang lebih kompetitif.
Salah satu inovasi yang ditawarkan adalah teknologi dalamatic bag yang mampu menjaga kualitas simpan beras hingga tiga tahun dan dapat digunakan secara berulang kali.
Penggunaan teknologi kemasan yang lebih efisien ini dinilai mampu menekan biaya operasional pelaku usaha, khususnya bagi UMKM yang sangat terdampak oleh kenaikan harga plastik karung dan kemasan kecil.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


