PT PLN (Persero) merealisasikan pengerjaan proyek pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas mencapai 22,57 gigawatt (GW).
Pemerintah menargetkan penambahan total kapasitas suplai daya baru sebesar 69,5 GW dalam cetak biru operasional sepuluh tahun ke depan. Dari pagu target tersebut, porsi sebesar 76 persen atau setara 52,8 GW dikhususkan untuk pasokan listrik bersih bersumber dari tenaga surya, air, angin, panas bumi, serta jaringan penyimpanan baterai.
“Jadi, dari 52,8 GW, itu 43 persennya itu pembangkit berbasis EBT ini sudah dalam proses eksekusi. Kami diminta untuk laporan setiap dua minggu,” ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.
Hingga Mei 2026, kemajuan pembangunan fisik mencatat komponen daya sebesar 16,5 GW berada dalam proses pengadaan, 5,2 GW tahap konstruksi, serta 0,78 GW resmi beroperasi secara komersial. Sementara itu, sisa proyek dengan kapasitas kolektif sebesar 30,24 GW dilaporkan masih berada dalam tahapan finalisasi studi kelayakan di lapangan.
Data Kementerian ESDM mencatat porsi bauran energi bersih nasional telah menyentuh angka 17,89 persen hingga akhir April lalu, melampaui target awal sebesar 16,46 persen.
Meski grafik transisi menunjukkan pertumbuhan positif, struktur pasokan listrik nasional secara umum masih ditopang oleh batubara dengan kontribusi dominan sebesar 64,87 persen.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


