Industri keramik dalam negeri sedang menunjukkan taringnya kembali di kancah global.
Berdasarkan catatan ASAKI, tingkat utilisasi produksi meningkat tajam dari 66 persen pada tahun 2024 menjadi 73 persen di sepanjang 2025. Lonjakan ini membuat volume produksi nasional bertambah sekitar 62 juta meter persegi sehingga Indonesia menjadi satu-satunya produsen keramik yang mampu mencetak pertumbuhan di tengah kelesuan pasar dunia.
Kebijakan tarif antidumping serta kewajiban Standar Nasional Indonesia (SNI) terbukti efektif membendung serangan produk luar. Langkah strategis ini memberikan ruang napas bagi produsen lokal untuk bersaing secara sehat di pasar sendiri sehingga daya saing industri manufaktur kita tetap terjaga meskipun tekanan ekonomi global masih terasa cukup berat.
Memasuki tahun 2026, optimisme pelaku industri terlihat semakin menebal dengan target volume produksi mencapai 537 juta meter persegi. Harapan utama disandarkan pada Program 3 Juta Unit Rumah yang digulirkan pemerintah karena jika proyek ini berjalan lancar maka utilisasi pabrik keramik berpotensi melonjak hingga mendekati kapasitas penuh di angka 96 persen.
Tren positif ini sudah mulai terlihat sejak akhir tahun lalu di mana aktivitas mesin pabrik terus meningkat secara konsisten setiap bulannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


