Sektor sayur-mayur di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dengan nilai bisnis diperkirakan mencapai Rp120 triliun per tahun.
Hal ini disampaikan oleh pakar pertanian Bayu Krisnamurthi yang menekankan bahwa peluang tersebut harus dibarengi dengan pengelolaan sistem pangan yang mumpuni.
Karakteristik sayuran yang sangat bergantung pada kesegaran menjadikannya komoditas unik yang tidak dapat disimpan lama seperti beras.
Kondisi ini menuntut kelancaran operasional setiap hari mulai dari tahap produksi, logistik, hingga ke tangan peritel guna menjaga kualitas produk.
"Sayuran harus tersedia segar setiap hari. Artinya produksi, logistik, sampai ritel harus berjalan setiap hari juga tanpa hambatan," ujar Bayu Krisnamurthi, Rabu (22/4).
Terdapat tiga faktor yang menentukan keberhasilan sistem pangan ini yaitu ketersediaan bibit unggul, peningkatan kapasitas petani, serta infrastruktur pascapanen modern. Ketiga komponen tersebut sangat penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah fluktuasi permintaan pasar domestik yang tinggi.
Sebagai solusi menghadapi keterbatasan lahan dan iklim ekstrem, pengembangan teknologi pertanian seperti hidroponik dan aeroponik mulai menjadi andalan. Metode urban farming dinilai efektif sebagai alternatif untuk mendekatkan sumber produksi pangan ke pusat konsumsi di wilayah perkotaan.
Penerapan inovasi bibit yang tahan cuaca ekstrem diharapkan mampu memitigasi risiko gagal panen akibat gangguan cuaca yang tidak menentu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


