Sebuah kegiatan seni budaya berlangsung pada sore hari di ruang terbuka Desa Ciburayut. Dalam suasana sederhana, anak-anak muda dan warga berkumpul untuk belajar dan berinteraksi melalui kesenian tradisional.
Kegiatan ini dihadiri pula oleh praktisi Seni budaya tradisional, Mang Ukar. Meski di usianya yang sudah tidak muda lagi, akan tetapi kecintaannya terhadap kesenian dapat membangun semangat bagi para pemuda Desa.
Aktivitas tersebut menjadi ruang pertemuan lintas generasi yang mendorong keterlibatan pemuda dalam pelestarian budaya lokal.
Di alun-alun Desa Ciburayut, berbagai bunyi musik tradisional seperti suling dan kecapi dimainkan sebagai pengantar. Tidak seluruhnya berjalan dengan format pertunjukan formal, melainkan sebagai proses belajar bersama.
Melalui aktivitas ini, generasi muda dikenalkan kembali pada kesenian daerah yang selama ini mulai jarang ditemui dalam keseharian mereka.
Partisipasi pemuda terlihat cukup aktif dengan turut sertanya Ketua Karang Taruna Desa Ciburayut, Belgi Alhuda, meskipun kegiatan dilakukan dengan fasilitas terbatas. Keterbatasan tersebut justru memunculkan pendekatan yang lebih kreatif dan partisipatif.
Tanpa menunggu sarana lengkap, para peserta memulai dari apa yang tersedia, menjadikan proses sebagai bagian penting dari pembelajaran budaya itu sendiri.

Pemuda Desa Ciburayut Latihan musik tradisional Jawa Barat | sunbesumber: Dok. Pribadi Belgi Alhuda
Selain kecapi dan suling, alat musik tradisional lain yang diperkenalkan juga ada karinding dan celempung yang diisi dengan sedikit penjelasan sejarah dan cara memainkan alat musik tersebut kepada para pemuda yang antusias mendengar dan mengikuti dengan seksama.
Selain sebagai aktivitas seni, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang sosial. Warga saling berinteraksi, berbagi cerita, dan memperkuat hubungan sosial.
Suasana kebersamaan tercipta secara alami, menjadikan kegiatan budaya tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Pengalaman Mang Ukar, pelaku seni yang telah lama berkecimpung di berbagai tingkat wilayah menunjukkan bahwa seni budaya memiliki peran strategis dalam membangun identitas komunitas.
Seni tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan aktivitas sosial desa, selama nilai dasarnya tetap dijaga.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global, tantangan pelestarian budaya lokal semakin nyata. Generasi muda kerap berjarak dengan tradisi karena kurangnya ruang ekspresi yang sesuai dengan konteks mereka.
Oleh karena itu, pendekatan yang bersifat pendampingan dan dialog menjadi penting, agar tradisi dapat dipahami dan dimaknai ulang tanpa kehilangan esensinya.
Kegiatan seni di Desa Ciburayut menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya dapat dimulai dari skala kecil dan keseharian. Dengan keterlibatan masyarakat dan ruang yang inklusif, seni budaya tetap memiliki peluang untuk terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Silaturahmi dan diskusi santai tentang kesenian dan kebudayaan dapat menumbuhkan kepedulian bagi siapapun yang tersentuh untuk mengenal jati dirinya sebagai bagian dari warga masyarakat yang berbudaya.
Dukungan sederhana dari Karang Taruna dan membuka ruang latihan, alat seadanya, dapat membuat agenda atau jadwal rutin yang sering kali cukup untuk menyalakan api semangat.
Dari sana, harapannya kepercayaan diri para generasi muda dapat tumbuh, sehingga melahirkan karya, dan identitas desa menguat.
Harapan besar itu tumbuh dari sore yang sederhana. Dari obrolan ringan, dari nada-nada yang masih belajar selaras, dari tangan-tangan muda yang berani mencoba.
Namun, jika dijaga bersama, Desa Ciburayut tidak hanya akan dikenal sebagai desa yang ramah, melainkan juga sebagai desa yang setia pada budayanya dan berani menatap masa depan meski dunia semakin modern.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


