Desa Nania merupakan salah satu daerah yang berada di Teluk Ambon. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Maluku yang menceritakan tentang asal usul penamaan Desa Nania dulunya.
Dalam legenda tersebut, diceritakan bahwa daerah Desa Nania dulunya merupakan tanah kosong yang tidak bertuan. Akibatnya, wilayah tersebut sering menjadi alasan pertikaian antara dua daerah di sekitarnya, yakni Negeri Lama dan Negeri Waiheru.
Meskipun demikian, tidak ada satupun negeri yang bertikai tersebut yang pada akhirnya menguasai daerah itu. Lambat laun, daerah tersebut mulai dihuni oleh banyak orang hingga menjadi perkampungan dengan nama Desa Nania seperti saat sekarang.
Lantas bagaimana kisah dibalik asal usul penamaan Desa Nania tersebut dulunya? Simak cerita rakyat dari daerah Maluku tersebut dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Desa Nania, Cerita Rakyat dari Maluku
Dinukil dari artikel Munarita Iriani, "Sejarah Desa Nania" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, dikisahkan pada zaman dahulu Negeri Lama dan Negeri Waiheru saling bersaing satu sama lain. Kedua negeri ini sering kali bertikai untuk memperebutkan sebuah wilayah di antara dua daerah tersebut.
Hari demi hari pertempuran antara kedua kampung tersebut terjadi. Ada kalanya pasukan dari Negeri Lama bisa melancarkan serangan ke Negeri Waiheru.
Begitu pun sebaliknya. Beberapa waktu pasukan Negeri Waiheru juga berhasil melancarkan serangan ke Negeri Lama.
Setelah sekian lama, akhirnya pertikaian antara kedua negeri tersebut bisa diselesaikan. Tidak ada negeri yang berhak menguasai daerah di antara kedua kampung tersebut.
Negeri yang menenangkan pertikaian antara Negeri Lama dan Negeri Waiheru kemudian mengutus seorang pemuda untuk mendiami daerah di antara dua kampung itu. Pemuda yang diutus untuk menjaga wilayah tersebut bernama Eruwakan.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang berdatangan ke daerah tersebut. Lama kelamaan, daerah yang awalnya dijaga oleh Eruwakan seorang diri berubah menjadi sebuah perkampungan.
Kebanyakan masyarakat yang ada di sana berasal dari marga Walaia dan Brainella. Mereka juga menikah antara satu sama lain dan menghasilkan banyak keturunan di sana.
Pada suatu hari, ada salah seorang warga yang hendak mengolah sagu di daerah tersebut. Warga yang bernama Johanes Walaia ini mengajak beberapa kerabatnya untuk ikut mengolah sagu yang ada.
Berbagai persiapan dan peralatan yang dibutuhkan sudah ditata dengan baik. Ketika hendak berangkat, Johanes Walaia bertemu dengan sahabatnya, Petrus Brainella.
Petrus bertanya hendak ke mana sahabatnya tersebut pergi. Johanes kemudian menjelaskan bahwa dia hendak mengolah sagu yang ada di sana.
Mendengarkan hal itu, Petrus pun menawarkan diri untuk ikut serta. Johanes menerima penawaran sahabatnya itu dan mengajaknya ikut bersama.
Sesampainya di lokasi, semua masyarakat yang ikut mulai mempersiapkan perlengkapan yang sudah dibawa sebelumnya. Johanes kemudian memimpin masyarakat ikut bersamanya untuk menebang pohon sagu yang ada di sana.
Setelah itu, Johanes dan semua masyarakat mulai melakukan tokok sagu bersama-sama. Setelah semua berada di posisi, Johanes kemudian berteriak, "Nani" yang disambut jawaban "Ya" secara serentak oleh masyarakat lainnya.
Kalimat ini kemudian mereka ucapkan berulang-ulang sambil memukul bagian sagu. Ucapan ini kemudian terdengar seperti kata, "Naniya". Ucapan inilah yang kemudian membuat daerah tersebut akhirnya diberi nama "Nania".
Seiring berjalannya waktu, Desa Nania tidak hanya dihuni oleh masyarakat bermarga Walaia dan Brainella saja. Banyak masyarakat dari marga-marga lain yang datang dan bermukim di sana.
Lama kelamaan Desa Nania mulai ramai dihuni oleh berbagai macam penduduk dari berbagai latar belakang berbeda. Meskipun demikian, masyarakat yang ada di sana tetap hidup rukun dan damai serta menjaga toleransi antara sesama mereka hingga saat ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


