lucunya ikan bontia ikan hias mirip kostum badut dan bernilai ekonomi tinggi - News | Good News From Indonesia 2026

Ikan Hias Bontia, Endemik Perairan Tawar Indonesia yang Bernilai Ekonomi Tinggi

Ikan Hias Bontia, Endemik Perairan Tawar Indonesia yang Bernilai Ekonomi Tinggi
images info

Ikan Hias Bontia, Endemik Perairan Tawar Indonesia yang Bernilai Ekonomi Tinggi


Seorang pemancing asal Sampit, menemukan seekor ikan bontia saat memancing di perairan Desa Rasau Tumbuh, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur pada 5 Januari 2026.

Penemuan ini menarik perhatian karena ikan tersebut jarang tertangkap oleh pemancing biasa dan lebih dikenal sebagai ikan hias bernilai tinggi.

Dikutip dari Radar Sampit, penemuan ikan bontia ini terjadi secara tidak sengaja. Umpan yang dipasang justru disambar oleh ikan dengan warna mencolok yang berbeda dari ikan sungai pada umumnya. 

Ikan tersebut memiliki warna kuning kehijauan dengan belang hitam di tubuhnya serta ekor berwarna jingga yang cukup terang. Ia mengaku baru pertama kali mendapatkan ikan dengan ciri seperti itu selama memancing di Sungai Mentaya. 

Ikan Bontia, Ikan Hias Air Tawar 

Ikan bontia dikenal sebagai ikan endemik perairan tawar di Kalimantan dan Sumatera. Di kalangan ilmiah dan pehobi ikan hias, spesies ini lebih populer dengan sebutan botia badut atau clown loach. 

Nama ilmiahnya adalah Botiamacracanthus, meskipun dalam klasifikasi terbaru juga dikenal sebagai Chromobotiamacracanthus dan termasuk dalam famili Botiidae.

Habitat alami ikan bontia adalah sungai-sungai besar dengan arus sedang hingga deras serta kondisi air yang relatif bersih. Keberadaannya sering dijadikan indikator bahwa suatu perairan masih memiliki kualitas lingkungan yang baik. 

Di Kalimantan, ikan ini dikenal dengan nama lokal ulanguli dan telah lama menjadi bagian dari keanekaragaman hayati sungai-sungai besar di wilayah tersebut.

Warnanya Mencolok, Seperti Kostum Badut

Botia badut memiliki ciri fisik yang mudah dikenali. Tubuhnya didominasi warna kuning hingga oranye dengan beberapa garis hitam vertikal yang kontras. 

Bentuk tubuhnya memanjang dengan ukuran dewasa dapat mencapai 15 hingga 20 sentimeter. Ikan ini juga memiliki duri kecil di bawah mata yang dapat digunakan sebagai mekanisme pertahanan diri.

Selain penampilannya, ikan bontia dikenal aktif dan memiliki perilaku sosial yang kuat. Di alam maupun di akuarium, ikan ini sering terlihat bergerak bersama kelompoknya. 

Usia hidup botia badut tergolong panjang. Dengan perawatan yang baik, ikan ini dapat hidup lebih dari 20 tahun, sehingga banyak diminati oleh pehobi ikan hias.

Aktif di Malam Hari

Berbeda dengan kebanyakan ikan loach lain yang cenderung aktif pada malam hari, botia badut dapat beraktivitas baik siang maupun malam. 

Meski demikian, ikan ini lebih menyukai kondisi pencahayaan yang redup. Saat cahaya terlalu terang, botia badut akan bersembunyi di balik bebatuan, tanaman air, atau celah-celah di dasar perairan.

Dalam akuarium, perilaku ini tetap terlihat. Banyak pehobi menggunakan pencahayaan lembut agar ikan tetap aktif tanpa mengalami stres. 

Aktivitasnya yang dinamis menjadikan botia badut menarik untuk diamati, terutama ketika dipelihara dalam kelompok kecil.

baca juga

Perawatannya Rumit

Botia badut dikenal jinak dan tidak agresif sehingga cocok dipelihara dalam akuarium komunitas bersama ikan non-agresif lainnya. 

Ikan ini juga sering disebut membantu menjaga kebersihan dasar akuarium karena memakan sisa pakan dan organisme kecil seperti keong.

Namun, botia badut tergolong sensitif terhadap penyakit, terutama white spot. Sisiknya yang kecil dan tertanam di kulit membuat proses pengobatan harus dilakukan dengan hati-hati. 

Dosis obat biasanya perlu disesuaikan agar tidak membahayakan ikan. Proses karantina ikan atau tanaman baru menjadi langkah penting dalam perawatan.

Bernilai Ekonomi Tinggi

Botia badut termasuk ikan yang sulit dibudidayakan di penangkaran. Sebagian besar yang beredar di pasaran masih berasal dari tangkapan alam. 

Di alam, ikan ini baru siap berkembang biak setelah berusia lebih dari tiga tahun. Upaya budidaya yang berhasil umumnya menggunakan bantuan hormon untuk merangsang pemijahan.

Meski demikian, status konservasi botia badut saat ini masih tergolong Least Concern atau tidak terancam punah. Sebagai ikan hias, nilainya cukup tinggi. 

Di pasar lokal, botia badut berukuran kecil sekitar 3–4 sentimeter dijual dengan harga Rp11 ribu hingga Rp25 ribu per ekor, sementara ukuran besar 13–15 sentimeter dapat mencapai sekitar Rp200 ribu. 

Penemuan ikan ini di Sungai Mentaya menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian sungai sebagai habitat alami spesies endemik Indonesia.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.