shalawat hadroh identitas dan tantangan di sumatera barat - News | Good News From Indonesia 2026

Shalawat Hadroh: Antara Identitas Pesantren dan Tantangan Eksistensi di Sumatera Barat

Shalawat Hadroh: Antara Identitas Pesantren dan Tantangan Eksistensi di Sumatera Barat
images info

Shalawat Hadroh: Antara Identitas Pesantren dan Tantangan Eksistensi di Sumatera Barat


Hadroh: Lebih dari Sekadar Seni Musik

Kawan GNFI, hadroh atau dalam ejaan Arab disebut hadrah berasal dari kata hadorah yaduru yang berarti "hadir". Secara filosofis, hadroh bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan upaya menghadirkan dan mengajak umat untuk berkumpul dalam bingkai spiritualitas Islam.

Seni ini memadukan tiga elemen penting: seni suara, seni musik, dan syair pujian yang bertemakan ajaran Islam.

Muhammad Bachri Ichsan dalam bukunya tentang Ikatan Seni Hadroh Indonesia (ISHARI) menegaskan bahwa hadroh melampaui fungsinya sebagai hiburan semata. Ia adalah instrumen dakwah yang efektif dan medium pelestarian nilai-nilai keagamaan umat Islam di Indonesia.

Melalui komunitas hadroh nasional serta kegiatan pengajian dan latihan seni yang berkelanjutan, hadroh menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas dalam menyebarkan pesan-pesan Islam.

Hadroh sebagai Pilar Identitas Pesantren Sumatera Barat

Fenomena menarik terjadi di dunia pesantren Sumatera Barat saat ini, Kawan GNFI. Hampir seluruh pondok pesantren menjadikan hadroh sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang diakui dan diprioritaskan.

Ini bukan tanpa alasan. Hadroh telah menjadi bagian integral dari identitas pesantren, sebuah penanda yang membedakan lembaga pendidikan Islam tradisional dengan institusi pendidikan lainnya.

Dalam berbagai momen penting seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi'raj, Tahun Baru Muharram, hingga haul tokoh-tokoh besar, hadroh menjadi media utama untuk menyiarkan Islam.

Kombinasi nilai seni dan spiritualitas dalam hadroh menciptakan daya tarik tersendiri, menjadikannya lebih dari sekadar ritual keagamaan—namun juga ekspresi kebudayaan yang memperkuat akar keislaman santri.

Paradoks Eksistensi: Antara Kepopuleran dan Ancaman Kepunahan

Namun, di balik popularitasnya di lingkungan pesantren, hadroh menghadapi berbagai macam problematika serius yang mengancam eksistensinya. Kawan GNFI, problematika pertama adalah menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian Islami ini.

Penetrasi musik modern yang masif melalui media digital telah menggeser preferensi estetika generasi milenial dan Gen Z. Mereka lebih tertarik pada genre musik kontemporer yang dianggap lebih "kekinian" dan sejalan dengan tren global.

Fenomena ini berpotensi mengikis nilai-nilai keislaman yang selama ini tertanam kuat melalui tradisi hadroh. Ketika generasi muda kehilangan koneksi dengan seni tradisional keagamaan, bukan hanya hadroh yang terancam punah namun juga nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

baca juga

Kesenjangan dengan Tradisi Jawa: Perlukah Sumatera Barat Berbenah?

Problematika kedua yang tidak kalah krusial adalah lemahnya apresiasi masyarakat Sumatera Barat terhadap seni hadroh dibandingkan dengan daerah lain, terutama daerah pulau Jawa. Kawan GNFI, di wilayah Jawa, hadroh telah menjadi keniscayaan dalam setiap perayaan hari besar Islam.

Pertunjukan hadroh dikemas secara profesional dengan skala yang megah, menyerupai konser musik modern namun tetap mempertahankan nilai spiritualitasnya.

Kontras yang tajam terlihat ketika kita membandingkannya dengan kondisi di Ranah Minang. Meskipun hampir setiap pesantren di Sumatera Barat memiliki kelompok hadroh yang berkompeten dengan kualitas yang tidak kalah dari daerah lain, mereka tidak memiliki panggung besar untuk menunjukkan kemampuannya.

Minimnya apresiasi publik dan dukungan institusional membuat potensi besar hadroh Sumatera Barat terpendam tanpa eksplorasi maksimal.

Urgensi Revitalisasi dan Inovasi

Pertanyaan mendasar kemudian muncul, Kawan: apakah hadroh memang sepenting itu untuk perkembangan dan pengenalan dunia pondok pesantren? Jawabannya adalah ya, tetapi ada catatan penting.

Hadroh tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap kegiatan pesantren, melainkan sebagai identitas dan daya tarik yang membedakan pesantren dari lembaga pendidikan lainnya.

Namun, untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan strategi revitalisasi yang komprehensif. Pertama, inovasi dalam penyajian hadroh tanpa menghilangkan esensi spiritualnya misalnya dengan mengintegrasikan teknologi multimedia atau kolaborasi dengan genre musik Islami kontemporer.

Kedua, penguatan dukungan masyarakat melalui penyelenggaraan festival hadroh tingkat daerah atau nasional yang memberikan panggung bagi santri untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Ketiga, peningkatan literasi generasi muda tentang nilai historis dan filosofis hadroh, sehingga mereka tidak hanya melihatnya sebagai tradisi kuno, tetapi sebagai warisan budaya yang relevan dengan konteks kekinian.

Hadroh sebagai Jembatan Masa Depan Pesantren

Kawan GNFI, hadroh memiliki peran vital dalam eksistensi pesantren di Sumatera Barat bukan hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler, melainkan sebagai jati diri yang mencerminkan komitmen pesantren terhadap pelestarian tradisi dan penyebaran Islam melalui pendekatan kultural.

Tantangan besar yang dihadapi saat ini memerlukan respons kolektif dari berbagai pihak: pengelola pesantren, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan generasi muda itu sendiri.

Di tangan kitalah masa depan hadroh ditentukan. Apakah ia akan terus berkumandang sebagai simbol identitas pesantren Sumatera Barat, atau pelan-pelan teredam oleh hiruk-pikuk modernitas?

Pilihan ada pada komitmen kita untuk melestarikan, menginovasi, dan mengapresiasi warisan budaya spiritual yang telah diwariskan generasi sebelumnya. Mari kita jaga bersama agar dentuman rebana dan lantunan shalawat tetap menggema di setiap sudut Ranah Minang.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MW
BF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

đźš« AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.