Kawan GNFI apa yang terlitas dibenak kalian setelah mendengar kata Gorontalo? Yups betul sekali Gorontalo dikenal dengan kota Serambi Madinah. Selain itu Gorontalo juga dijuluki sebagai lumbung jagung nasional.
Sebagian menganggap jagung hanya sebagai bahan pangan alternatif. Namun di Provinsi Gorontalo, jagung memiliki makna yang jauh lebih dalam. Jagung bukan hanya sekedar hasil panen, melainkan sebagai identitas daerah yang tumbuh bersama kehidupan masyarakatnya.
Provinsi Gorontalo dikenal sebagai sentra jagung nasional. Dari segi sosial dan ekonomi jagung memberikan dampak yang nyata. Komoditas ini membuka lapangan pekerjaan dan penggerak sektor UMKM sehingga memperkuat ketahanan pangan daerah.
Seiring berjalannya waktu jagung tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian melainkan citra daerah. Gorontalo konsisten mengembangkan jagung sebagai kekuatan utama.
Pada 11/9/2025 BRMP Gorontalo melakukan kegiatan penanaman jagung disepanjang jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR), kegiatan ini dilakukan bersama Gubernur Gorontalo dan Kapolda Gorontalo kegiatan ini menjadi simbol etalase provinsi dan memberikan motivasi untuk masyarakat agar semakin giat menanam jagung.
Ditanam di kawasan GORR karena pemerintah daerah ingin memperjelas identitas Gorontalo sebagai provinsi penghasil jagung terbesar di Indonesia. Jagung dipandang menjadi komoditas unggulan yang menempati posisi penting dalam struktur pertanian daerah dan penggerak roda ekonomi masyarakat terutama di wilayah pedesaan dan menjadi sumber harapan bagi kesejahteraan petani.
Jagung menopang ketahanan pangan nasional, rantai nilai jagung mulai dari produksi, pengolahan, sampai pada distribusi menjadikan bukti bahwa potensi lokal mampu memberikan kontribusi besar bagi skala nasional.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan produksi jagung pada tahun 2026 mencapai 1,5 juta ton melalui lahan yang sebelumnya tidak ditanami akibat banjir maupun kekeringan agar produktif kembali melalui optimalisasi kualitas lahan dan peningkatan intensitas tanam.
Target tersebut sejalan dengan dukungan daerah untuk progran swasembada pangan nasional yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Muljady Mario pada panen raya jagung serentak yang digelar Polri di 36 Polda se-Indonesia pada Kamis, 8 Januari 2026. Acara tersebut diikuti secara daring oleh Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, bersama dengan Kapolda Gorontalo Irjen Widodo.
"Pada tahun 2025 Gorontalo mendapat target untuk pengembangan areal tanam baru sekitar 27 ribu hektare. Dari luas areal panen sekitar 259.490 hektare, produksi jagung Gorontalo berhasil mencapai 1,2 juta ton," ujar Kepala Dinas Pertanian.
Hampir 99% produksi jagung Gorontalo disuplai ke sentra pakan ternak di berbagai wilayah yang ada di Indonesia.
Lebih dari sekedar angka produksi yang harus dicapai setiap tahunnya, jagung juga telah melekat dalam keseharian masyarakat Gorontalo. Kehadiran jagung dapat ditemui diberagam khas kuliner Gorontalo seperti Binte Biluhuta atau yang lebih dikenal dengan sebutan milu siram yang berupa sup jagung manis dengan parutan kelapa, suwiran ikan, udang, kemangi dan bumbu rempah, serta baalobinde nasi jagung pulut yang teksturnya lembut dan kaya serat, sering menjadi pengganti nasi putih.
Kedua hidangan ini memanfaatkan jagung sebagai komoditas utama. Dari dapur rumah hingga acara kebersamaan, jagung menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kekayaan budaya yang dimiliki Gorontalo.
Dari ladang sampai ke meja makan, dari ekonomi hingga budaya. Jagung membentuk cerita untuk Gorontalo. Sebuah cerita dari sebuah daerah yang dapat membentuk jati dirinya melalui potensi yang dimiliki. Jagung bukan hanya tentang panen tetapi ada harapan, keberlanjutan dan identitas untuk Gorontalo di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


