sebenarnya ada berapa gender yang diakui media hari ini - News | Good News From Indonesia 2026

Sebenarnya Ada Berapa Gender yang Diakui Media Hari Ini?

Sebenarnya Ada Berapa Gender yang Diakui Media Hari Ini?
images info

Sebenarnya Ada Berapa Gender yang Diakui Media Hari Ini?


Setiap kali media menulis tentang gender, pertanyaan yang sama selalu muncul di kolom komentar: “Sebenarnya ada berapa sih gender?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, nyaris seperti soal pilihan ganda. Dua, tiga, atau lebih.

Namun, begitu media mencoba menjawabnya, diskusi segera berubah panas. Bukan karena angka semata, melainkan karena gender telah lama menjadi ruang tarik-menarik antara sains, budaya, agama, dan kekuasaan dan media berdiri tepat di tengah pusaran itu.

Di atas kertas, banyak media masih berangkat dari pemahaman paling dasar: gender dibagi menjadi laki-laki dan perempuan. Pembagian ini terasa aman, familier, dan selaras dengan mayoritas norma sosial.

Tak heran, berita, iklan, sinetron, hingga liputan kebijakan publik sebagian besar masih dibingkai dengan dua kategori tersebut. Dalam praktik jurnalistik sehari-hari, penyederhanaan ini dianggap memudahkan pembaca sekaligus meminimalkan risiko kontroversi.

Namun, dunia sosial bergerak lebih cepat daripada kerangka lama media. Di luar ruang redaksi, diskursus tentang gender berkembang pesat. Akademisi, aktivis, dan komunitas global memperkenalkan pemahaman bahwa gender bukan sekadar soal tubuh biologis, melainkan juga identitas, ekspresi, dan pengalaman hidup. Di titik inilah jarak antara realitas sosial dan representasi media mulai terasa.

Media sesekali mencoba membuka ruang. Kita melihat liputan tentang transgender, non-biner, atau identitas gender lain meski sering muncul sebagai “isu khusus”, bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. Tokoh dengan identitas gender non-konvensional kerap hadir sebagai fenomena langka, kontroversi, atau bahan debat, bukan sebagai manusia biasa dengan rutinitas, mimpi, dan masalah yang sama seperti yang lain. Pengakuan ada, tetapi bersyarat.

Di sinilah pertanyaan tentang “berapa gender yang diakui media” menjadi relevan. Jawabannya bukan soal jumlah, melainkan soal batas. Media cenderung mengakui gender sejauh masih bisa dijelaskan dengan bahasa yang dianggap aman bagi arus utama.

Selama masih bisa diberi label, dikotakkan, dan ditempatkan di rubrik tertentu, pengakuan itu berlangsung. Namun, ketika identitas gender menantang cara lama bercerita media sering kali mundur selangkah.

Gaya pemberitaan juga berbicara banyak. Saat media menulis “mengaku sebagai”, “mengklaim identitas”, atau “kontroversi gender”, bahasa tersebut secara halus mempertanyakan legitimasi pengalaman seseorang.

Tanpa disadari, media sedang menentukan gender mana yang dianggap nyata dan mana yang sekadar opini. Di sinilah kuasa bekerja: bukan melalui larangan eksplisit, tetapi lewat pilihan kata dan sudut pandang.

Media sosial sebenarnya membuka celah lain. Platform digital memberi ruang bagi individu untuk menceritakan identitas gender mereka sendiri, tanpa perantara redaksi. Kisah-kisah personal ini sering kali lebih jujur, cair, dan beragam dibandingkan narasi media arus utama. Ironisnya, media kerap mengambil cerita-cerita tersebut hanya ketika sudah viral bukan karena penting, melainkan karena ramai.

GNFI pernah menulis bahwa perubahan sosial sering kali dimulai dari cerita kecil yang berulang. Dalam konteks gender, cerita-cerita ini sudah ada di sekitar kita: di tempat kerja, kampus, keluarga, dan ruang digital. Tantangannya adalah apakah media bersedia menggeser sudut pandang dari sekadar menghitung “berapa gender”, menjadi memahami bagaimana dan mengapa identitas itu hidup di tengah masyarakat.

Mengakui gender bukan berarti media harus memiliki daftar resmi yang kaku. Pengakuan justru dimulai dari kesediaan untuk mendengar, menggunakan bahasa yang adil, dan tidak menjadikan identitas sebagai sensasi. Media tidak kehilangan objektivitas ketika mengakui keberagaman; sebaliknya, ia sedang menjalankan fungsinya sebagai cermin realitas sosial yang terus berubah.

Jadi, sebenarnya ada berapa gender yang diakui media hari ini? Jawaban jujurnya: masih terbatas, masih selektif, dan masih dipengaruhi kenyamanan mayoritas. Namun, celah itu ada. Setiap liputan yang lebih manusiawi, setiap judul yang tidak menghakimi, dan setiap cerita yang memberi ruang pada pengalaman personal semuanya perlahan memperluas pengakuan itu.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi soal angka. Melainkan: apakah media siap tumbuh bersama masyarakat yang semakin beragam? Karena gender, seperti realitas sosial lainnya, tidak menunggu media untuk diakui. Ia tetap ada, hidup, dan terus mencari ruang untuk diceritakan dengan lebih adil.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.