Legenda La Ngkumbi-kumbi adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Wawonii, Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang seorang pemuda yang dulunya dibuang hingga bisa menjadi raja.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda La Ngkumbi-kumbi tersebut?
Legenda La Ngkumbi-kumbi, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara
Disitat dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang bernama La Ngkumbi-kumbi. Nama ini sebenarnya sebuah julukannya yang diberikan padanya.
Hal ini berdasarkan pada penyakit yang diderita oleh pemuda tersebut, yakni kudis. Dalam bahasa Wawonii, kata "Kumbi" berarti penyakit kudis, sehingga dirinya dijuluki demikian.
Akibat penyakit ini, pemuda ini mengeluarkan bau busuk yang parah. Hal ini membuat kedua saudaranya mengasingkan La Ngkumbi-kumbi ke hutan agar tidak mengganggu masyarakat lainnya.
Setiap hari kedua saudaranya ini selalu membawa makanan untuk La Ngkumbi-kumbi. Namun lama kelamaan, kedua saudaranya ini merasa capek dan tidak lagi mengantarkan makanan untuk La Ngkumbi-kumbi.
Sejak saat itu, La Ngkumbi-kumbi berusaha seorang diri untuk mencari makanannya sehari-hari. Pada suatu hari, pemuda ini pergi ke sungai dan berhasil menangkap seekor ikan putih.
Ajaibnya, ikan putih yang dia tangkap ini bisa berbicara layaknya manusia. Ikan putih tersebut memohon agar La Ngkumbi-kumbi melepaskannya.
Sebagai gantinya, dia akan membantu La Ngkumbi-kumbi menangkap ikan yang lebih banyak. Akhirnya La Ngkumbi-kumbi mengabulkan permintaan ikan tersebut dan melepaskannya kembali ke sungai.
La Ngkumbi-kumbi dan ikan putih ini kemudian menjadi sahabat karib. Ketika datang ke sungai itu, La Ngkumbi-kumbi akan memanggil sahabatnya tersebut.
Ikan putih ini kemudian akan mengumpulkan banyak ikan di antara La Ngkumbi-kumbi. Dengan demikian, pemuda tersebut bisa dengan mudah untuk menangkapnya.
Hal ini ternyata diketahui oleh kedua saudara La Ngkumbi-kumbi. Suatu hari, mereka datang menemui La Ngkumbi-kumbi di sungai tempat dia biasa menangkap ikan.
La Ngkumbi-kumbi kemudian menjelaskan bahwa sehari-hari dia makan ikan di sana. Hal itulah yang membuatnya tetap tumbuh sehat, bahkan penyakit kudisnya sudah hilang begitu saja.
Kedua saudara La Ngkumbi-kumbi ini kemudian kembali ke sungai itu keesokan harinya. Namun mereka tidak berhasil menemukan seekor pun ikan.
Mereka kemudian mencoba memperhatikan La Ngkumbi-kumbi dari jauh. Saat La Ngkumbi-kumbi datang, mereka melihat saudaranya tersebut memanggil ikan putih sahabatnya dan berhasil mendapatkan ikan untuk dimakan.
Setelah mengetahui rahasia ini, kedua sahabat La Ngkumbi-kumbi langsung memanggil ikan putih itu keesokan harinya. Namun mereka langsung menangkap ikan putih itu dan memasaknya di rumah.
La Ngkumbi-kumbi yang tidak tahu akan hal ini tetap kembali ke sungai keesokan harinya. Akan tetapi dia tidak berhasil menemui ikan putih sahabatnya.
Dia kemudian ingat jika kedua saudaranya pernah ke sana sebelumnya. Akhirnya dia kembali ke rumah dan mendapati ikan putih yang hanya tersisa tulangnya saja.
Dengan perasaan sedih, La Ngkumbi-kumbi membawa tulang itu ke hutan. Dia kemudian menanamnya di dekat pondok tempat tinggalnya.
Tidak lama kemudian, tumbuh sebuah pohon dari bekas tulang tersebut. Pohon ini memiliki daun emas dan buah yang beraneka ragam.
La Ngkumbi-kumbi merasa bahagia dengan hal itu. Dia merasa sahabatnya masih menyelamatkan dirinya yang hidup seorang diri di hutan.
Namun hal ini ternyata kembali memancing rasa iri dari kedua saudaranya. Pada awalnya, mereka ingin menebang pohon itu dengan golok diam-diam.
Akan tetapi usaha mereka tidak membuahkan hasil. Akhirnya kedua saudara La Ngkumbi-kumbi menebang pohon itu dengan gergaji hingga ke akar-akarnya.
La Ngkumbi-kumbi merasa sedih melihat hal itu. Dia kemudian mengambil beberapa daun emas dan pergi merantau meninggalkan daerah tersebut.
Dari daun emas ini, La Ngkumbi-kumbi berhasil mendapatkan harta yang melimpah. Setelah berjalan cukup lama, sampailah dia di sebuah daerah yang rajanya tengah mengadakan sebuah sayembara.
Sayembara ini berisi tantangan bagi setiap pemuda untuk membuatkan sebuah jembatan dari istana raja ke bukit tertinggi yang ada di sana. Jika berhasil, maka pemuda tersebut akan dinikahkan dengan putrinya.
Namun jika gagal, peserta sayembara akan dijatuhi hukuman mati. La Ngkumbi-kumbi yang mendengar hal ini memutuskan untuk ikut sayembara tersebut.
Dengan harta yang dia miliki, La Ngkumbi-kumbi bisa mengerjakan banyak orang untuk membantunya. Dalam waktu singkat, La Ngkumbi-kumbi berhasil menyelesaikan sayembara tersebut dan menikahi putri sang raja.
Beberapa tahun kemudian, sang raja meninggal dunia. La Ngkumbi-kumbi kemudian diangkat menjadi raja dan pemimpin di daerah tersebut.
Suatu masa, datang sebuah laporan dari pengawal istana. Mereka menangkap dua orang pemuda yang suka mencuri harta warga.
La Ngkumbi-kumbi kemudian menyuruh pengawal membawa kedua pemuda tersebut ke hadapannya. Ternyata kedua pemuda ini adalah saudara La Ngkumbi-kumbi.
Alangkah terkejutnya mereka jika ternyata saudara yang dulu dibuang begitu saja sudah menjadi seorang raja. Akhirnya kedua saudara La Ngkumbi-kumbi meminta maaf dan menyesali perbuatan mereka.
Dengan lapang hati, La Ngkumbi-kumbi menerima permintaan maaf tersebut. Sejak saat itu, mereka bertiga kembali hidup rukun bersama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


