“Dalam Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) tingkat SD di Kota Yogyakarta, siswa kami mendapat nilai terbaik. Untuk tingkat Provinsi DIY, kami berada di peringkat kedua,” ungkap Personalia SD Muhammadiyah Sapen, Ilham Nurfianto.
Prestasi yang diraih SD Muhammadiyah Sapen, Demangan, Gondokusuman membuat sekolah ini memiliki banyak peminat. Bahkan, SD Muhammadiyah Sapen mencatat daftar tunggu siswa baru yang sudah penuh hingga tahun ajaran 2032. Antrean itu tidak masuk sistem PPDB resmi, tetapi melalui mekanisme waiting list atau inden.
“Inden itu sesuai antrean. Misalnya, untuk 2026 sudah ada nomor urut 1 sampai 100. Kalau yang datang hanya 80 orang, sisanya diisi dari antrean berikutnya. Tidak ada model ‘orang dalam’,” tegas Ilham.
Apa Itu Waiting List Pendaftaran Sekolah?
Sistem daftar tunggu di SD Muhammadiyah Sapen memungkinkan orangtua mendaftarkan anak sejak usia sangat dini. Syaratnya, anak sudah memiliki akta kelahiran dan kartu keluarga resmi dari Disdukcapil sesuai domisili.
“Paling muda itu usia 1 bulan. Begitu KK dan akta lahir keluar, langsung didaftarkan. Tahun ini saja sudah ada yang inden untuk masuk di 2032,” kata Ilham, dikutip dari Populi.
Staf Administrasi SD Muhammadiyah Sapen, Novita, menyebut antrean ini kini sudah melampaui batas wajar sekolah dasar pada umumnya.
“Dulu daftar tunggu hanya sampai 2031, tapi sudah penuh. Sekarang, pendaftar inden sudah mengisi kuota hingga 2032,” ujar Novita.
Bahkan, menurut Novita, kuota cepat habis karena banyak orangtua mendaftarkan lebih dari satu anak sekaligus.
“Biasanya karena kakaknya sudah bersekolah di sini, sekalian didaftarkan adiknya. Ada juga yang mendaftarkan keponakan,” jelasnya.
Bagi yang datang terlambat, sekolah hanya bisa menawarkan daftar cadangan.
“Kuota cadangan ini hanya bisa dipakai jika ada pendaftar inden yang mengundurkan diri,” tambah Novita.
SD Muhammadiyah Sapen Unggul: Miliki Fasilitas Digital dan Prestasi Akademik
Sudah berdiri sejak 1976, SD Muhammadiyah Sapen dikenal memiliki fasilitas pembelajaran yang relatif lengkap untuk level sekolah dasar. Sekolah ini memiliki Gedung Cerdas Istimewa Matematika dan IPA (CIMIKA). Di gedung ini, pembelajaran didukung perangkat digital. Termasuk penggunaan tablet secara penuh.
Istilah CIMIKA merujuk pada ruang pembelajaran khusus yang dirancang untuk penguatan logika numerik dan sains dasar. Model ini jarang ditemui di SD reguler. Dampaknya pun tampak pada capaian akademik siswa.
“Dalam Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) tingkat SD di Kota Yogyakarta, siswa kami mendapat nilai terbaik. Untuk tingkat Provinsi DIY, kami berada di peringkat kedua,” ungkap Ilham.
ASPD sendiri adalah asesmen daerah untuk mengukur capaian literasi dan numerasi siswa. Hasilnya kerap dijadikan indikator mutu sekolah.
SD Muhammadiyah Sapen Dinobatkan Jadi Sekolah Bersih
Di luar akademik, SD Muhammadiyah Sapen juga mencatat prestasi lain. Pada Maret 2025, sekolah ini dinobatkan sebagai Sekolah Terbersih di Yogyakarta. Penghargaan ini diberikan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup.
Penilaian dilakukan ketat, mulai dari kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, sanitasi, hingga partisipasi warga sekolah.
Kepala SD Muhammadiyah Sapen, Agung Rahmanto, menyebut kebersihan sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Kami memang menanamkan nilai kebersihan sejak dini kepada siswa sebagai bagian dari pendidikan karakter,” ujarnya.
Program seperti Eco School, Bank Sampah Mini, hingga Lihat Ambil Buang Sampah (Labu Sampah) menjadi praktik harian.
Pengembangan SD Muhammadiyah Sapen
Meningkatnya jumlah pendaftar tidak hanya berdampak pada antrean siswa. Ia juga memunculkan persoalan lain yang lebih mendasar, yakni ruang belajar. Dengan jumlah peminat yang terus bertambah setiap tahun, SD Muhammadiyah Sapen mulai menghadapi keterbatasan fasilitas.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong langkah pengembangan sekolah. Pada Mei 2025, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melakukan ground breaking pembangunan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Bantul. Pembangunan kampus baru ini menjadi respons atas tingginya kepercayaan masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Sapen.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, melihat pengembangan ini sebagai momen yang tidak boleh dilewatkan.
“SD Muhammadiyah Sapen sudah memiliki kualitas di atas rata-rata yang jika kita terlambat mengambil momentum memajukannya maka kita akan kehilangan peluang,” ujarnya.
Menurut Haedar, persoalan utama yang dihadapi Sapen bukan lagi soal mutu pembelajaran. Tantangan terbesarnya justru ada pada keterbatasan lahan. Lokasi lama tidak memungkinkan penambahan ruang secara signifikan. Sementara kebutuhan terus bertambah seiring meningkatnya jumlah peminat.
Fenomena antrean panjang ini juga dibaca sebagai tanda kepercayaan publik. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menilai animo masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Sapen lahir dari keyakinan terhadap kualitas sekolah.
“Ini adalah filosofi mengapa SD Muhammadiyah Sapen bisa berkembang cepat dan bahkan antriannya muridnya mirip dengan antrian haji,” ucapnya.
Dalam konteks ini, pembangunan MSUS bukan sekadar penambahan gedung. Ia menjadi upaya menjawab kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh, sekaligus membuka ruang agar kualitas pendidikan yang sudah ada, tidak berhenti karena keterbatasan tempat.
Antara Kepercayaan dan Kualitas
Antrean panjang di SD Muhammadiyah Sapen mencerminkan kecemasan orangtua sekaligus kebutuhan akan kualitas pendidikan anak. Hal ini juga menunjukkan bagaimana reputasi sekolah yang sukses dibangun, mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


